Updates from Soenarto Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 10:06 am on 25 December 2016 Permalink |
    Tags: info   

    Mohon maaf ya atas ketidak-nyamanan dalam beberapa hari terakhir, idepenulis.com sementara dalam perpindahan server baru, dan perbaikan beberapa aplikasi yang mengalami error

     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 11:22 am on 21 November 2016 Permalink  

    Kekerasan Terhadap Siswa 

    Menyambut Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November 2016 kelak, saya tertarik menulis tentang perlakuan seorang guru kepada siswanya. Mirip sekali jika kita melihat banyaknya kasus pelecehan seksual, kekerasan psikis dan fisik yang diterima oleh anak-anak kita di sekolah. Dimana peran para pendidik kita sebagai orang yang diamanahkan untuk membina dan membimbing mereka di sekolah, setelah di rumah. Kali ini, saya akan menjelaskan perihal hal tersebut. Yukk kita bahas bersama.
    Kekerasan terhadap siswa menurut saya disebabkan masih karena banyaknya pendidik yang belum memahami hakekat mendidik. Yang sangat memprihatinkan saya rasa adalah kepribadian pendidik belum mencerminkan seorang pendidik. Ini penting, mengingat karakter guru berpengaruh terhadap masa depan anak didik. Kata-kata yang diucapkan oleh guru ibarat anak panah yang dilepaskan dari busur dan menancap di hati anak didik. Misalnya kata-kata yang tidak simpatik dari guru menghancurkan semangat belajar para murid. Sebaliknya, kata-kata yang memberikan dorongan semangat akan sangat berharga dalam menumbuhkan motivasi belajar.
    Gurulah orangtua bagi anak di sekolah, yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan dan kepribadian anak. Seorang guru harus bisa tenang dan tidak menunjukkan emosi yang menyala,tidak mempunyai prasangka yang buruk kepada peserta didiknya. Mereka juga dapat menyembunyikan perasaannya dari peserta didik dan sebaiknya memandang semua peserta didik sama. Sudah sepatutnya seorang guru mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bebas, motivator, dan semangat. Selain itu, mereka juga harus konsisten, tidak berubah-ubah pendirian dan jarang melakukan kesalahan. Mereka juga harus pandai, bijaksana dalam memperlakukan siswa dan mampu menjawab pertanyaan siswa serta sanggup memberikan bantuan secara maksimal kepada peserta didik. Jika hal tersebut dapat terlaksana, saya rasa kekerasan terhadap anak di sekolah tidak akan terjadi.

    Kekerasan memang adalah hal yang seharusnya tidak terjadi dimanapun dan kapapun itu. Apalagi kekerasan ini menyangkut kekerasan yang dapat menentukan karakter anak didik. Ada hal menarik saya rasa jika kita melihat anak-anak di Cina, melalui tulisan dan gambar mereka mengungkapkan bahwa mereka ingin para guru menghormati harga diri siswa, sensitif terhadap kondisi emosi mereka, memberi kebebasan mengekspresikan diri dan bersikap adil pada semua anak apapun latar belakang, gender, kemampuan, dan ciri-ciri individual lainnya. Sebagian besar anak memimpikan guru-guru yang penyayang dan perhatian. Hal ini penting, mengingat di usia anak-anak secara biologi mereka cenderung berkata jujur. Kepolosan mereka berasal dari perkataan yang sebenarnya, tidak dibuat-buat. Kekerasan anak adalah perlakuan orang dewasa atau anak yang lebih tua dengan menggunakan kekuasaan/otoritasnya terhadap anak yang tak berdaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab dari orangtua atau pengasuh yang berakibat penderitaan, kesengsaraan, cacat/kematian. Kekerasan pada anak lebih bersifat sebagai bentuk penganiayaan fisik dengan terdapatnya tanda atau luka pada tubuh sang anak.

    Kekerasan terhadap anak di sekolah sebagai bentuk penganiayaan baik fiisk maupun psikis. Penganiayaan fisik adalah tindakan kasar yang mencelakakan anak dan segala bentuk kekerasan fisik pada anak yang lainnya. Sedangkan penganiayaan psikis adalah semua tindakan merendahkan/meremehkan anak. Kekerasan terhadap siswa sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak-hak anak dan dibanyak negara dikategorikan sebagai kejahatan sehingga untuk mencegahnya dapat dilakukan oleh para petugas hukum. Hal ini akan mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikologi sosial maupun mental.

    Kekerasan terhadap siswa dapat berupa kekerasan fisik mudah diketahui karena akibatnya bisa terlihat pada tubuh korban Kasus physical abuse: persentase tertinggi usia 0-5 tahun (32.3%) dan terendah usia 13-15 tahun (16.2%). Kekerasan biasanya meliputi memukul, mencekik, menempelkan benda panas ke tubuh korban dan lain-lainnya. Dampak dari kekerasan seperti ini selain menimbuBlkan luka dan trauma pada korban, juga seringkali membuat korban meninggal. Bentuk kekerasan secara eerbal, bentuk kekerasan seperti ini sering diabaikan dan dianggap biasa atau bahkan dianggap sebagai candaan. Kekerasaan seperti ini biasanya meliputi hinaan, makian, maupun celaan. Dampak dari kekerasaan seperti ini yaitu anak jadi belajar untuk mengucapkan kata-kata kasar, tidak menghormati orang lain dan juga bisa menyebabkan anak menjadi rendah diri. Selain itu mereka juga mendapatkan kekerasan secara mental dan Pelecehan Seksual.
    Sangat disayangkan sekali, miris rasanya saya melihat berbagai bentuk kekerasan anak baik di sekolah maupun di lingkup keluarganya di rumah. Saya menghimbau kepada para orangtua harus waspada terhadap lingkungan bermain anak-anak mereka. Tidak hanya itu mereka juga harus selalu memantau perkembangan anak mereka di lingkungan sekolah, mengingat banyaknya kekerasan terhadap siswa. Apalagi dalam memasuki momentum hari guru nasional, kita perlu banyak belajar tentang pengalaman-pengalaman sebelumnya. Tidak ada lagi kekerasan terhadap anak, tidak ada lagi kekerasan terhadap siswa agar masa depan mereka dapat berjalan dengan baik menjadi generasi-generasi yang membanggakan bangsa.

    Sebenarnya tulisan ini sudah diulas sebelumnya disini dengan judul “Kekerasan Terhadap Anak”Kalian dapat mengakses berbagai persoalan pendidikan anak-anak pada “anak.ependidikan.com” yang dapat kalian akses disini.


    Demikianlah tulisan saya, terima kasih sudah membacanya
    Oleh: Dwi Surti Junida
    Kategori: Pendidikan

     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 6:05 pm on 25 March 2016 Permalink  

    Link Download RPP 


    Konten hanya terlihat oleh anggota yang telah masuk.


     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 2:51 am on 12 March 2016 Permalink  

    Budayakan Menulis untuk Membangun Peradaban 

    Mari kita perhatikan negara-negara yang maju atau negara-negara yang berhasil memberi pengaruh pada negara lain secara budaya. Pasti mereka memiliki budaya menulis yang sangat kuat. Contoh yang mungkin kita tidak sadari misalnya Arab. Mereka memiliki budaya menulis yang sangat baik, bahkan sangat banyak kitab-kitab yang kita baca atau buku yang ditulis oleh orang Indonesia merujuk pada buku atau kitab mereka. Katakanlah hal yang paling kental adalah kitab agama. Bukankah itu adalah sebuah tulisan? 
    Saya tidak ingin berdebat soal kitab agama. Saya hanya ingin berbagi pemikiran bahwa tidak mungkin penyiar-penyiar agama yang masuk di Indonesia berhasil mengajarkan agama jika mereka tidak memiliki tulisan yang bisa dipelajari. Lagi pula, tulisan pada zaman itu adalah satu-satunya media untuk mentransfer pengetahuan.
    Jepang misalnya. Mereka juga memiliki sangat banyak dokumen bersejarah yang dapat dipelajari secara terbuka oleh generasi-generasi muda mereka. Lihatlah, bagaimana mereka sangat kuat mempertahankan “Budaya Jepang” mereka. Hebatnya lagi, justru kita yang sangat bangga dengan mereka. Malah kita cenderung mengikuti mereka.
    Saya sama sekali tidak melarang untuk mengikuti budaya apa pun. Tapi apakah kita tidak sadar jika ternyata sangat banyak budaya kita yang sangat bagus dan patut dibanggakan.
    Mengapa kita sampai tidak menyadari budaya kita sendiri? Sangat banyak hal yang mengakibatkan hal itu. Salah satu yang saya pikirkan adalah karena kita tidak punya budaya menulis yang kuat. Proses pewarisan budaya kita sebagian besar melalui budaya lisan atau bercerita, baik itu bercerita orang ke orang atau orang ke kelompok misalnya teater dan lain-lain. 
    Tentu bercerita saja tidak cukup karena salah satu kelemahan manusia yang paling besar adalah “pelupa”. Jika hal-hal penting yang diceritakan itu dilupakan karena kejadian tertentu, apa yang akan terjadi? Maka hilanglah pengetahuan itu bersama ingatannya. Tapi jika itu ditulis dalam bentuk apa pun, yakinlah, cepat atau lambat pasti akan ada generasi kita yang membacanya. Apalagi jika tulisan itu disebar luaskan melalui media massa atau yang media online seperti idePenulis.com ini.
    Kesimpulan saya, apa pun itu, jika ditulis pasti akan bermanfaat, paling tidak pada masa mendatang kita akan mengetahui bagaimana pemikiran kita pada kejadian yang lampau atau yang telah lalu. Mari budayakan menulis, idePenulis.com terbuka untuk anda.
     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 8:59 pm on 11 March 2016 Permalink  

    Masalah Pendidikan di Indonesia 


    Oleh: Dwi Surti Junida
    Weblog: http://anak.ependidikan.com

    Tulisan ini pernah saya publish di weblog saya di sini dengan judul Beberapa Permasalahan Pendidikan di Indonesia.

    Kualitas pendidikan di Indonesia tergolong masih rendah, peningkatannya juga masih tergolong sangat lemah jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Berdasarkan Survey United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kualitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. Itulah kenapa permasalahan pendidikan di Indonesia tergolong sebagai masalah serius yang harus dipecahkan.

    Permasalahan pendidikan di Indonesia karena karena kualitas para pendidik kita masih tergolong lemah. Para pendidik di Indonesia kurang memahami mekanisme ajar-mengajar yang sesungguhnya. Metode yang mereka terapkan cenderung tidak memahamkan para didiknya, melainkan lebih memaksakan memikirkan sesuatu dengan cara dipaksa. Seharusnya para anak didik dipahamkan bagaimana cara mereka berfikir atau proses berfikir bukan dipaksakan untuk memikirkan sesuatu. Apalagi sebenarnya metode mengajar yang baik jika mampu membiarkan anak didik berimajinasi dengan yang ada disekitarnya. Mengasah otak mereka dengan terbiasa memikirkan hal-hal yang membantunya terus berfikir menemukan solusi bukan mengarahkan gaya berfikir anak.

    Selain itu, lemahnya juga sistem kurikulum kita yang dari tahun ke tahun tidak pernah berubah sejak dahulu kala. Standarisasi kurikulum yang berlaku tidak melihat kebutuhan anak yang sesungguhnya. Kurikulum yang diberlakukan hanya semata berasal dari rumusan para penguasa pendidikan kita, jauh dari yang dibutuhkan oleh anak didik. Sehingga banyak lulusan anak didik tidak berkualitas, tidak mampu menciptakan inovasi-inovasi yang produktif bagi bangsa ini.

    Terdapat tiga permasalahan pendidikan di Indonesia jika kita dapat melihatnya dengan jelih. Apa sajakah itu? Pertama adalah kurang seimbangnya antara proses berfikir (kognitif) dan berprilaku dalam metode mengajar (afektif). Unsur integrasi dalam dunia pendidikan di Indonesia cenderung semakin hilang, yang terjadi justru besifat disintegrasi. Padahal belajar tidak selalu terus berfikir karena disaat seseorang belajar mereka juga melakukan pengamatan, membandingkan , menyukai, meragukan dan sebagainya. Hal ini sering dihubungkan dengan istilah pendidikan seringkali dipraktekkan sebagai sederatan instruksi pendidik kepada anak yang dididik. Apalagi dengan istilah yang sering digembar-gemborkan sebagai “pendidikan yang menciptakan manusia siap pakai”. Dan “siap pakai” di sini berarti menghasilkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dan teknologi. Sehingga permasalahan pendidikan di Indonesia nampak memandang manusia sama seperti bahan-bahan pendukung indutri. Itu berarti, lembaga pendidikan diharapkan mampu menjadi lembaga produksi sebagai penghasil bahan atau komponen dengan kualitas tertentu yang dituntut pasar. Kenyataan ini nampaknya justru disambut dengan antusias oleh banyak lembaga pendidikan.

    Kedua yang menjadi permasalahan pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan yang bersifat top-down (dari atas ke bawah. Sistem pendidikan ini membantasi para peserta didik (murid) karena mereka dianggap sebagai manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa. Hanya seorang pendidik/guru yang menguasai banyak hal sehingga tugas guru sebagai pemberi mengarahkan kepada murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Katakanlah seorang guru tugasnya sebagai pengisi dan seorang murid sebagai yang diisi. ) Kalau menggunakan istilah Paulo Freire (seorang tokoh pendidik dari Amerika Latin) adalah pendidikan gaya bank, maka dalam sistem pendidikan di Indonesia murid dipandang sebagai safe deposit box, dimana pengetahuan dari guru ditransfer kedalam otak murid dan bila sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil saja. Murid hanya menampung apa saja yang disampaikan guru. Dengan kata lain hubungan pendidik dan murid sama hal dengan pendidik/guru sebagai subyek seangkan murid sebagai obyek. Model pendidikan ini tidak adil bagi murid karena sangat menindas mereka. Freire mengatakan bahwa dalam pendidikan gaya bank pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak mempunyai pengetahuan apa-apa.
    Beberapa Permasalahan Pendidikan Indonesia

    Permasalahan pendidikan di Indonesia yang ketiga adalah manusia yang dihasilkan hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia sebagai objek (yang adalah wujud dari dehumanisasi) merupakan fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercerabut dari akar-akar budayanya (seperti di dunia Timur/Asia). Bukankah kita telah sama-sama melihat bagaimana kaum muda zaman ini begitu gandrung dengan hal-hal yang berbau Barat? Oleh karena itu strategi yang dilakukan untuk keluar dari permasalahan pendidikan di Indonesia, pendidikan di Indonesia harus terlebur dalam “strategi kebudayaan Asia”, sebab Asia kini telah berkembang sebagai salah satu kawasan penentu yang strategis dalam bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan politik internasional. Bukan bermaksud anti-Barat kalau hal ini penulis kemukakan, melainkan justru hendak mengajak kita semua untuk melihat kenyataan ini sebagai sebuah tantangan bagi dunia pendidikan kita.

     
    • idePenulis.com 2:14 am on 12 Maret 2016 Permalink

      Memang selama ini dirasakan, bahkan terkadang kita melakukannya, mencoba mengajarkan sesuatu yang menurut kita baik tetapi dengan metode yang menurut kita juga baik, bukan melihat kondisi mereka yang akan diajar. Masalah pendidikan selalu dilihat dari sisi perlengkapanya atau infrastruktur saja, atau kurikulum saja, tetapi bagaimana sikap kita melihat anak yang akan didik.

      Terima kasih atas tulisannya 🙂

  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 4:23 am on 10 March 2016 Permalink  

    Akhirnya Saya Kembali 

    Setelah menjalani berbagai kesibukan, saya tiba-tiba sangat rindu dengan teman-teman Komunitas Penulis Muda di blog ini. Saya sempat bingung karena lupa dengan akun login saya, padahal saya adalah orang yang bertanggung jawab atas terbentuknya blog komunitas ini (sekali lagi saya sangat memohon maaf atas ini).

    Setelah berusaha melakukan berbagai cara, akhirnya akun saya pulih dan akhirnya bisa kembali menulis di sini. Saya berharap kepada diri saya sendiri, semoga saya tidak “menghilang” lagi 🙂

    Tuntutan untuk bertahan hidup dan terus maju… itu alasan saya “meninggalkan” komunitas ini. Rupanya saya merasa sangat bersalah setelah itu. 6 tahun sejak didirikannya, tentu itu adalah masa yang seharusnya membuat komunitas ini menjadi lebih produktif. Seandainya saya berfikir waktu itu bahwa Komunitas ini adalah bagian dari hidup saya, tentu kasus menghilangnya “Sang Admin” tidak akan terjadi. Hahaha, lucu juga ya…
    Sekali lagi saya sangat memohon maaf atas kekeliruan ini.
    Melalui kesempatan ini pula, saya kembali mengajak teman-teman yang bergabung untuk bergabung. Silahkan klik di sini untuk mendaftar.
    Oke, tetap semangat! Sampai di sini dulu ya, silahkan komen jika ada yang perlu dikomentari 🙂
     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 1:34 am on 10 March 2016 Permalink  

    Cerita Subuh 

    Bismillah Ar Rahman Ar Rahiim
    Assallamu’alaikum wr.wb
    Ketika diminta untuk mengumpulkan sebuah cerita subuh dan bagaimana awal mula bertekad menjadi Pejuang Subuh, hal yang pertama kali terbersit dalam pikiran adalah rasa syukur dalam diri bahwa Allah telah mengetuk hati dan pikiran serta mempertemukan saya dengan para saudara seiman yang berjuang bersama untuk menegakkan Shalat Subuh dan memakmurkan masjid.
    Sebuah akun yang awalnya sempat membuat saya heran karena namanya yang cukup ‘menantang’ para followers yaitu @PejuangSubuh. Arti ‘pejuang’ disini bagi saya merupakan sebuah hal sepele, tak sampai berpikir pada awalnya bahwa memang memerlukan pengorbanan yang besar dalam diri hingga akhirnya bisa benar-benar disebut ‘Pejuang Subuh’ dan naik menjadi ‘Mujahid/ah Subuh’.

    Sejatinya, kita semua memang harus menjadi ‘Pejuang dan Mujahidah’ Subuh. Permasalahannya hanya terletak pada diri yang masih mau ‘dipermainkan’ syaitan untuk bangun lewat dari Adzan Subuh dan ‘merasa’ tidak berdosa dan melakukan hal wajar (naudzubillah). Berdasarkan pengalaman pribadi menjadi seorang ‘Pejuang Subuh’ lalu bertekad menjadi ‘Mujahidah Subuh’ merupakan perjuangan yang membuat saya sadar bahwa perjuangan untuk menggapai Ridha dan mendekat secara utuh kepada-Nya adalah perjuangan yang membutuhkan pengorbanan.
    Keyakinan yang Allah berikan untuk makin memperkuat niat istiqamah menjadi ‘Pejuang Subuh’ terjadi saat Saya berinisiatif mengikuti acara #SilaturahimSubuh yang diadakan oleh @PejuangSubuh pada 24-25 Desember 2012 lalu. Acara mabit selama dua hari yang berhasil membuat saya semakin ‘tertampar’ dan bertekad untuk berjuang bersama-sama para pejuang yang lain untuk menegakkan tiang agama (Shalat tepat waktu) terutama dalam bahasan kali ini adalah Shalat Subuh demi mewujudkan kebangkitan Islam.

    “Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafiq adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimani manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka”
    (HR.Al-Bukhari no.141 dan Muslim no.651)

    Setiap pemaparan demi pemaparan yang dijelaskan oleh masing-masing Ustadz membuat Saya tidak kuasa menahan tangis dalam diri. Menangis karena telah banyak melewatkan waktu-waktu emas ketika tiba waktu subuh dan masih dalam keadaan terlelap. Menangis karena telah banyak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk ‘berinteraksi’ dengan Allah saat sepertiga malam ketika banyak orang masih sibuk dengan mimpi padahal Allah datang untuk menyambut hamba-hambaNya yang beribadah (Tahajud).
    Tidak kuasa menahan tangis dalam diri karena penyesalan bahwa Saya telah banyak dibuat Syaitan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan emas untuk menghidupkan sepertiga malam dan memakmurkan waktu subuh serta shalat tepat waktu. Dan saya bertekad, tidak akan membiarkan Syaitan mengambil waktu-waktu emas saya didunia. Mampukan kami ya Rabb..
    Tekad untuk mengikuti program @PejuangSubuh untuk istiqamah menegakkan salat subuh tepat waktu selama 40 Hari bagi Ikhwan (laki-laki) dan 21 Hari bagi Akhwat (perempuan) tanpa putus. Tak bisa dipungkiri peran keluarga untuk membangunkan lebih ampuh daripada alarm. Mama yang memang sudah menjadi ‘pejuang subuh’ tepat waktu dan istiqamah Tahajud setiap malam selalu membangunkan saya di awal-awal perjuangan untuk menjadi seorang ‘pejuang subuh’.
    Lewat seminggu dan benar-benar berniat serta selalu berdoa agar Allah memampukan untuk dapat bangun di sepertiga malam dan menunggu subuh, seperti sudah ada alarm otomatis dalam diri untuk tiba-tiba terbangun di sepertiga malam dan tidak ada kantuk dalam diri saat menunggu tibanya waktu subuh.
    Menjadi pejuang subuh tidak hanya berefek pada kondisi waktu jam tidur yang menyehatkan karena bangun di awal subuh, lebih dari itu keinginan dalam diri menjadi semakin kuat untuk semakin mendalami ilmu agama serta dalam hal berpenampilan. Jika dulu saya masih sering memakai Jeans bahkan hampir tidak pernah memakai rok apalagi gamis, kali ini Alhamdulillah saya sudah meninggalkan Jeans dan beralih ke Rok serta gamis. Jika dulu saya masih mengenakan kerudung paris dan tipis, sekarang saya sangat memperhatikan kerudung agar jangan sampai menerawang dan memperlihatkan rambut. Jika dulu saya masih mengikuti les vokal dan musik, sekarang saya mulai meninggalkan musik dan bertekad menjadi seorang Hafidzah. Aamiin ya Rabb.. Mampukan kami, Rabb..
    Selain perubahan dalam diri, Allah juga mempertemukan saya dengan para pejuang subuh lain yang bersama-sama bertekad menegakkan tiang agama dan memakmurkan masjid. Alhamdulillah, Sujud Syukur hanya kepadaMu, Rabb..
    Saat ketukan hati, hidayah dan kesempatan untuk menjadi lebih baik datang
     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 12:21 am on 24 January 2014 Permalink  

    Salam buat Teman-Teman Komunitas Penulis Muda 

    Oleh:RebelzZynX
    Kontak Person: rebelzzynx@ymail.com

    Such a long time I haven’t write something again..
    Butuh waktu bagi saya untuk perlahan-lahan kembali ke aktivitas seperti biasanya setelah kepergian alm. Ibunda saya yang tercinta bulan April 2013 yang lalu.

    Semoga apa yang telah diajarkan dan dididik dapat saya manfaatkan dan gunakan dengan baik.
    Terima kasih, Mama.

    ===========

    Bagi para penulis dan pembaca saya akan berusaha untuk menyempatkan waktu menulis , saling berbagi pengalaman dan inspirasi.
    🙂

     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 2:17 am on 13 March 2013 Permalink  

    Menjadi Lebih Berguna 

    Oleh: RebelzZynX
    Kontak Person: rebelzzynx@ymail.com

    Bukan uang yang akan membuat kita menjadi hebat, bukan pula tahta yang menjadi utama yang akan membuat kita menjadi hebat.
    Pengetahuan dan keyakinan lah yang akan membuat kita menjadi lebih berguna dan hebat.
    Mempunyai rasa ingin tahu bukanlah suatu keharusan yang wajib, namun alangkah baiknya jika seseorang selalu mempunyai rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia jumpai. (NB: Dalam hal positif..)
    Belajarlah lebih kumpulkan pengetahuan yang lebih, yakinlah bahwa kamu akan mengubah masa depan dan sekelilingmu menjadi lebih hidup sehingga engkau akan dianggap berguna dan hebat, bukan karena kamu memiliki tahta dan uang yang banyak.. 
    Kayalah akan harta kebaikan dan kepercayaan diri..
     
    • Anonim 5:33 am on 30 April 2013 Permalink

      Thanks for finally talking about > "Menjadi Lebih Berguna" < Loved it!

      Also visit my blog post – Indonesian
      Restaurant Amsterdam Blue

    • Anonim 10:03 pm on 30 April 2013 Permalink

      My family all the time say that I am killing my time here at
      web, however I know I am getting experience everyday by reading thes nice articles or
      reviews.

      My weblog; Discount Oakley Sunglasses

    • Anonim 2:19 pm on 26 Mei 2013 Permalink

      Hello! I just wanteԁ to аsκ if yоu ever have аnу trouble wіth haсkеrѕ?
      My lаѕt blоg (woгԁpгess) was
      hacked anԁ I endeԁ up losing a few mоnths of hаrd wοrk
      ԁuе to nо backup. Dο you haѵe any solutiοns to ρrevent hackегs?

      Feel free to visіt mу blog poѕt .
      .. get bigger boobs

    • Anonim 6:57 pm on 27 Mei 2013 Permalink

      Hey there! I κnow this is kіnda οff topіc hоωeveг , I'd figured I'd aѕκ.
      Would you be intereѕteԁ іn
      trаding links or maybе guеst authoгіng a
      blog articlе or vice-versa? My blog discusses a lot of thе same topicѕ
      as yours and I believe we could greatlу
      benеfit from each οtheг. Ӏf yοu're interested feel free to send me an e-mail. I look forward to hearing from you! Great blog by the way!

      Take a look at my page: bigger breasts

    • Anonim 2:13 pm on 30 Mei 2013 Permalink

      I absοlutely loνе your blog аnd fіnԁ thе mаjority
      of your pοst's to be just what I'm lοoking for.
      can yоu оffer guest writerѕ to wrіte content foг you?

      I woulԁn't mind composing a post or elaborating on a few of the subjects you write in relation to here. Again, awesome web site!

      my website wellness

    • Anonim 3:12 pm on 14 Juni 2013 Permalink

      First off I woulԁ liκe tо say supeгb blog!
      I had а quick queѕtiοn in ωhich I'd like to ask if you do not mind. I was curious to find out how you center yourself and clear your thoughts prior to writing. I've
      had a haгd tіme clearіng my thoughts іn gettіng my thoughts
      out. Ӏ do takе pleasurе in writing but it јust sеemѕ lіke the fiгst 10
      to 15 minutes tеnd tο be waѕteԁ ѕimply just tгyіng to
      figure οut how to begin. Anу idеas or tipѕ?
      Τhаnk you!

      Alѕo visit my ωeb-site … Fathers Day Gift Baskets

    • RebelzZynX 12:30 am on 24 Januari 2014 Permalink

      Thanks for all of your comments who'd read my article..
      you can private ask me anything if I'm not onlining here.

      send me an email at:
      rebelzzynx@ymail.com

  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 4:12 pm on 26 March 2011 Permalink  

    Fenomena Demam BIMBEL agar Jebol Perguruan Tinggi 

    Fenomena Demam BIMBEL agar Jebol Perguruan Tinggi
    Oleh: Marjohan, M.Pd
    Guru SMAN 3 Batusangkar

    Bimbel adalah singkatan dari “Bimbingan Belajar”. Apakah kegiatan yang dilakukan dalam lembaga bimbel memang “memimbing pembelajaran” agar siswa bisa jebol ke perguruan tinggi. Pernyataan yang masih penulis ingat dari Prof. Dr. Jalius Jama (saat mengikuti kuliah pada Pascasarjana UNP, 2007) mengatakan bahwa kegitan pada bimbel bukan murni kegiatan pembelajaran, yang ada cuma proses melatih menjawab ratusan soal-soal yang kemungkinan diujikan dalam ujian masuk perguruan tinggi. Sementara kalau pembelajaran yang ideal musti ada proses pembelajaran yang bukan instan atau praktek untuk mendapatkan hasil yang ideal.

    Siswa-siswi yang ikut bimbel selalu target nilai yang mereka sebut dengan passing grade atau tingkat kelulusan. Pengelola bimbel member test awal dan kemudian memberi tahu tentang passing grade mereka. Kemudian siswa diminta untuk mengejar passing grade setinggi mungkin. “Kamu mau jadi apa nanti..?” Umumnya siswa menjawab “tidak tahu”. Ini benar karena banyak anak-anak sekarang yang belum memiliki cita-cita walau mereka sudah remaja. “Mau melanjutkan pekerjaan yang telah dirintis oleh orang tua ?” Merekapun juga tidak bisa berkomentar.

    Tampaknya banyak siswa yang mengikuti pelatihan pada bimbel terlalu menggantungkan cita-cita mereka pada passing grade. Mereka yang ikut bimbel diberi tahu tentang passing grade yang terendah sampai ke yang tertinggi. Passing grade kemudian disesuaikan dengan jurusannya. Cita-cita atau penjurusan siswa/ calon mahasiswa kemudian disesuaikan menurut passing grade. Gara-gara mematok passing grade, potensi dan bakat mereka bisa terabaikan. Seorang anak yang pendiam namun tekun berlatih menjawab soal soal ujian hingga bisa memperoleh skor tinggi, kriteria passing grade untuk masuk jurusan Hubungan Internasional, sebagai contoh. “nah kamu cocok nanti kuliah di Hubungan Internasional”

    Apakah cocok jurusan tadi buat siswa tadi ? Tentu tidak, namun ada pelayanan konsultasi yang disediakan oleh lembaga Bimbel. Kemudian atas nama mengejar passing grade dan ikut-ikutan bimbel, ada siswa yang orang tuanya sudah memiliki usaha optikal yang mapan. Sang orang tua berharap agar sang anak cukup kuliah pada akademi Refraksi saja karena lebih relevan dengan usaha optikal ayahnya. Namun sang anak dibujuk dan dirayu teman- hingga juga ikut- ikutan bimbel dan ternyata passing gradenya cocok untuk masuk fakultas kedokteran. “Wah kamu hebat cocok untuk masuk ke fakultas Kedokteran !” Sekarang bagaimana, apakah sang anak akan mengikuti saran orang tua atau mengikuti mimpi yang ditawarkan oleh tentor bimbel ? Lembaga bimbel tentu tidak salah karena juga punya misi untuk mencerdaskan bangsa ini.

    Entah kapan demam pergi bimbel itu dimulai. Sekarang banyak siswa demam bimbel, belum lagi selesai UAS (ujian akhir sekolah) dan UN (ujian nasional) mereka sudah kasak kususk untuk mendaftar agar bisa ikut bimbel di tempat bimbel yang dianggap favourite. “Mama..papa…teman-teman udah pada mendaftar bimbel, minta uang satu juta dong…aku juga ikut bimbel” Pemilik usaha bimbel juga cerdik dalam menarik keuntungan dan menggunakan moment ketakutan siswa kalau tidak bisa kuliah kelak, dan segera memajang iklan. “Bergabunglah bersama bimbel ini kalau tidak jebol perguruan tinggi, uang akan dikembalikan. Mendaftarlah sekarang…buruan. Kalau pendaftaran sekaran biaya bimbel akan dikorting/ dapat potongan, kalau pendaftaran bimbel habis ujian nasional maka biaya bimbel bisa naik menjadi sekian jura rupiah”. Maka ramailah siswa yang trauma/takut tidak kuliah menyetor uang dan lembaga bimbel meraup rejeki. Siswa yang tak punya uang untuk ikut bimbel ya menangis atau mencak mencak dan ngambek pada orang tua. “Anak ku….tanpa bimbel kamu juga bisa jebol kuliah, asal kamu bisa belajar yang benar, lebih baik gunakan uang yang sekarang sebagai uang pangkal kuliah, kalau diterima kelak”, kata salah seorang orang tua.

    Saat penulis masih remaja di pertengahan tahun 1980-an, bimbel belum lagi menjadi fenomena. Yang ada saat itu adalah kegiatan belajar mandiri dan musim belajar berkelompok. Juga ada remaja yang senang melakukan otodidak- belajar secara mandiri- untuk meraih sukses dalam bidan akademi. Banyak remaja saat itu yang tidak hanya terfokus pada pelajaran sekolah semata, mereka juga menggemari kegiatan olah fisik.

    Bila sore datang, mereka segera menyerbu lapangan untuk berolah raga. Ada yang menyukai bola kaki, volley ball, bulu tangkis, renang, atau sengaja berlari keliling lapangan untuk sekedar menghangatkan badan hingga berkeringat. Kesannya adalah bahwa banyak remaja tahun 1980-an yang gemar berolah raga. Banyak remaja yang badanya keringatan setiap sore, otot/ tubuh lebih kuat dan sehat.

    Teman teman penulis saat remaja di SMAN 1 Payakumbuh, prestasi mereka di sekolah biasa-biasa saja, namun di luar sekolah mereka juga melibatkan diri dalam kegiatan sosial “ikut kegiatan karang taruna, ikut acara di RT atau desa, dan juga melibatkan diri dalam membantu pekerjaan orang tua- membuka toko, merapikan rumah, dll. Hingga mereka juga ikut bertanggung jawab. Mereka sekarang ternyata juga dalam profesi mereka- sebagai pemilik modal di perusahaan, bekerja pada perusahaan penerbangan, perkapalan, perminyakan, hingga ada yang memiliki bisnis yang mapan. Sementara teman penulis yang cuma sekedar rajin di sekolah namun passif dalam masyarakat, hanya bisa menjadi PNS tingkat rendah saja.

    Fenomena belajar siswa kita cukup kontra dengan siswa dari negara maju. Seorang keponakan yang baru saja selesai mengikuti program YES (Youth Exchange Student) di Amerika Serikat mengatakan bahwa siswa-siswi tingkat SMA di Amerika kalau pulang sekolah buru buru pergi ke lapangan untuk berolahraga. Ada yang menyukai soccer, baseball, atletik, berkuda, climbing dan lain-lain. Mereka mengikuti kegiatan olah raga secara serius bukan ikut ikutan teman. Mereka sangat menikmati aktivitas tersebut hingga badan keringatan. Hasilnya adalah badan mereka terlihat lebih gagah, lebih atletik, tidak layu. Tubuh mereka menjadi kuat dan suara lebih lepas, satu lagi mereka lebih percaya diri dan tidak pemalu.

    Ini cukup kontra dengan siswa/ pelajar kita. Pernyataan ini bukan untuk merendahkan bangsa sendiri. Katanya bahwa siswa di sini kalau pulang sekolah ya buru buru mengejar bimbel. Pada hal sejak pagi hingga siang selama tujuh atau delapan jam sudah belajar di sekolah. “Apakah tidak cukup belajar di sekolah untuk mereka jadi pintar?”. Dalam kenyataan bahwa sebahagian mereka pergi bimbel cuma sekedar iseng-iseng. Mereka malah pergi mejeng, main main HP, dengar lagu dan berbagi gossip. Cuma bebera menit saja mereka serius dalam belajar”. Ditegur oleh guru bimbel, takut ngambek dan tidak datang lagi, bimbel sendiri bisa sepi dan tidak dapat untung.

    Ada kesan bahwa remaja kita kurang suka berolah raga. Pantasan banyak mereka yang memiliki tubuh lemah, akhirnya jiwa juga lemah- hingga menjadi penakut dan cengeng. Mereka takut dengan kecoa, takut dengan cacing tapi berani dengan rokok dan tidak takut sakit kanker (seperti peringatan pada kotak rokok). Remaja kita juga kurang tertarik jalan kaki, untuk menempuh jarak hanya setengah kilo saja, mereka selalu minta diantar atau naik ojek. “Wah budaya manja dan pemborosan”.

    Akibat tidak tertarik berolah raga telah membuat remaja kita kurang heroik, senang taqwuran dan tidak sportif- tidak siap menerima kekalahan dengan jiwa besar. Bila kalah ya mengamuk dan membabi buta. Kalau bicara, suaranya kurang keluar dan tidak berani memikul tanggung jawab.
    Ternyata orang-orang yang menyukai olah raga, lebih ramah dan mudah mengatakan “hello” dari pada mereka yang pasif dan terlalu kutu buku, serta kuper (kurang pergaulan). Karakter remaja/ siswa kita yang lain adalah seperti pencemas, penakut, mudah terhasud untuk tawuran dan kurang siap untuk berkompetisi.

    Kapan ya pergi bimbel menjadi fenomena ? Dulu tidak ada demam bimbel seperti sekarang. Kalau ada siswa yang kurang memahami konsep pelajaran, maka sang siswa secara spontan akan menemui guru bidang studi yang bersangkutan. Namun sekarang bimbel itu “apakah sebagai program remedial atau program enrichment (pengayaan)?”. Program remedial tentu disediakan untuk siswa yang kurang menguasai konsep pelajaran, sementara program pengayaan (enrichment) adalah untuk siswa yang sudah tuntas. Pada bimbel kedua kelompok siswa ini digabung dan membayar sama. Siswa yang lemah tentu jadi bosan, patah semangat dan mereka hanya sekedar menyumbang uang ke sana. Lembaga bimbel tidak rugi.

    Kata sebahagian orang tua bahwa biaya bimbel itu cukup mahal, dan belum tentu menjamin seorang anak untuk bisa lulus ke perguruan tinggi. Namun lembaga bimbel punya strategi untuk mencari siswa/ untung. Ia mendatangi anak/ sekolah yang cerdas dan orang tuanya berduit untuk ikut bimbel dan dilatih untuk mengerjakan soal-soal masuk perguruan tinggi. Kelak bila siswa jebol masuk masuk perguruan tinggin favourite akan dibuat iklan dalam selebaran, “Siswa-siswi ini sukses lewat bimbelnya- pada hal yang lebih menentukan kesuksesan sang siswa adalah factor ketekunan yang sudah terbentuk dari rumah dan sekolah. Lembaga bimbel hanya sebagai wadah untuk waspada dan sebagai wadah penghilang kecemasan sang siswa yang banyak takut bakal tak jebol kuliah.

    Wah biaya bimbel itu mahal, apalagi untuk program super intensive bisa jutaan rupiah, dan tidak mungkin bisa dijangkau oleh anak-anak petani dan anak-anak buruh. Kalau ikut bimbel seolah-olah ada jaminan untuk bisa masuk jurusan dan universitas bergengsi, maka apakah anak-anak orang miskin tidak bisa studi di sana ?.

    Sejak kapan program bimbel diburu oleh siswa ? Ya sejak terjadi gejala pengidolaan sekolah, yaitu gejala atau fenomena memfavoritkan suatu sekolah dan suatu universitas. Bahwa sekolah yang favorit itu adalah “sekolah unggul, sekolah plus, sekolah percontohan, sekolah berstandar nasional”. Pokoknya sekolah yang punya label, malah sekarang sekolah berlabel “Bertaraf Rintisan Internasinal”, diplesetkan menjadi sekolah BERTARIF INTERNASIONAL. Itu karena biaya belajarnya di ruang ber-AC yang cukup mahal dan kualitasnya biasa-biasa saja. Gara-gara ada sekolah berlabel maka berduyun-duyunlah orang tua mengatarkan anak mereka untuk belajar di sana. Ini juga bagus. Ternyata sukses juga bisa dari sekolah pinggiran. Seorang siswa yang bernama Ranti Komala Sari, hanya jebolan dari sekolah pelosok Batusangkar, yaitu SMAN 1 Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar. Namun sekarang ia bisa mengikuti kuliah double degree untuk program master pada Univertsitas Sorbone, Perancis. Sukses itu ada dimana-mana.

    Lagi-lagi tamatan SLTA- terutama tamatan SMA- berduyun-duyun mencari tempat kuliah yang juga favourite seperti di UI, ITB, UNPAD, UNDIP, UGM, pokoknya universitas di pulau Jawa. Untuk bisa jebol ke sana tentu amat susah. Mereka harus bisa mencapai passing grade yang tinggi. Yang mengerti tentang passing grade bukan guru dan bukan sekolah, tetapi adalah wilayah kekuasaan lembaga bimbingan belajar. Bimbel yang kualitasnya bagus tentu saja biayanya mahal. Bimbel yang bagus diidentikan bisa menjamin siswa bisa lolos ke perguruan tinggi. Tetapi aneh, ada siswa yang ikut program bimbel dengan biaya mahal ternyata tak jebol. “Mungkin pilihan jurusan terlalu tinggi”. Juga ada yang ikut bimbel dengan biaya mahal dan ternyata hanya jebol pada jurusan biasa-biasa saja- yang mana tanpa ikut bimbel seseorang akan juga bisa jebol.

    Kenapa guru bimbel diidolakan ? Guru bimbel sama halnya dengan guru pada beberapa sekolah lain. Mereka tentu direkrut dari lulusan perguruan tinggi dengan seleksi yang baik- indek kumulatif tinggi dan kepribadian yang menarik- ramah dan menyenangi karir mengajar. Sementara rekruitmen guru kebanyakan cuma berdasarkan hasil test tertulis dan jarang sekali melewati test wawancara, sehingga begitu sudah berada di lapangan, ditemui prilaku guru yang kadang-kadang bertentangan dengan jiwa pendidik. Mereka berkarakter suka marah, suka naik pitam, mudah ketus dan tidak menyukai karir mengajar.

    Bimbel sepanjang tahun tetap diburu karena dianggap bisa membantu siswa untuk mewujudkan mimpi mereka menuju perguruan tinggi. Bimbel yang menarik tentu saja biayanya mahal, karena tempat latihan menjawab soal-soal ujian berada dalam kelas nyaman dan sejuk. Bimbel juga dibimbing oleh tentor/guru yang cerdas, ramah dan penyabar. Ini adalah bentuk pelayanan mereka yang harganya dibayar mahal oleh siswa. Sehingga siswa menjadi betah dalam belajar. Siswa siswi tidak akan mendengar cercaan, ejekan, kemarahan yang mana suasana begini bisa ditemukan pada beberapa sekolah.

    Akhirnya diyakini bahwa bimbel itu sangat berguna sebagai partner bagi sekolah dan guru dalam menjaga minat dan motivasi siswa untuk menuju perguruan tinggi. Bagi yang punya uang silahkan ikut bimbel di tempat yang mahal. Namun tidak ada jaminan bahwa setelah ikut bimbel bakal jebol keperguruan tinggi, karena yang sukses dalam bimbel adalah anak-anak yang telah rajin atau memiliki motivasi belajar yang tinggi sejak dari rumah dan sekolah. Sedangkan tempat bimbel tinggal mempoles sedikit saja. Selalulah berusaha dan hasilnya serahkan pada Allah azza Wajalla.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel