Updates from Marjohan Usman Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Foto Profil dari Marjohan Usman

    Marjohan Usman 12:41 pm on 2 July 2015 Permalink  

    Ternyata Generasi Emas Itu Suka Meremehkan Tanah Air, Memuja Olah Raga Eropa dan Musik Korea Sangat Berlebihan 

    Ternyata Generasi Emas Itu Suka Meremehkan Tanah Air, 
    Memuja Olah Raga Eropa dan Musik Korea Sangat Berlebihan
    Oleh: Marjohan, M.Pd
    Guru SMA Negeri 3 Batusangkar
    Marjohan, M.Pd- Guru SMA 3 Batusangkar
    Peraih Predikat I Guru Berprestasi Nasional. 
    Saya merasa sangat beruntung bisa berjumpa langsung dengan Prof. Dr. Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam kepemimpinan Presiden SBY. Kami para guru-guru berprestasi Indonesia memperoleh wejangan tentang rencana Pemerintah, melalui Kementrian P dan K untuk melahirkan generasi emas sebagai kado bagi hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 2045 kelak.
    Menteri mengatakan bahwa saat itu bangsa kita akan menjadi bangsa yang sangat maju karena keberadaan Generasi Emas tersebut. Dikatakan bahwa antara tahun 2012 hingga 2045, kita menanam generasi emas tersebut. Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah usia penduduk produktif paling tinggi antara masa anak-anak dan orang tua. Generasi emas ini akan siap mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat dan akan menduduki posisi berkualitas setara dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia.
    “Bagaimana cara melahirkan generasi emas ini ?”
    Pemerintah telah menyiapkan grand-design pendidikan. Pendidikan anak usia dini digencarkan dengan gerakan PAUDisasi. Kemudian pembangunan dan rehabilitas sekolah dan ruang kelas baru secara besar-besaran. Aka nada intervensi khusus untuk meningkatkan Angka Partisipasi Khusus (APK) siswa SMA dan minimal para pekerja kita adalah lulus SMA.
    Kementrian P dan K akan mencanangkan gerakan PAUDisasi- pelayanan pemberian pendidikan buat anak-anak usia dini, usia seputar 4 dan 5 tahun. Buat mereka- anak TK dan PAUD, diberikan pendidikan yang ramah anak. Di dalamnya terdapat penghargaan terhadap hak-hak anak, yaitu hak untuk memperoleh pendidikan berkualitas, hak buat dihargai dan untuk memperoleh lingkungan bebas dari kekerasan, eksplotasi dan diskriminasi.
    Wah grand design yang sungguh hebat yang sangat tulus dari pemerintah lewat Kementrian P dan K. Namun apakah ini bisa benar- benar terwujud ? Memang andai kata negara ini luasnya sama dengan negara Singapura- negara paling mungil di Asia Tenggara dan negara yang rajin reklamasi untuk memperluas negaranya, memiliki luas sekitar 637 km2, ya sedikit di bawah Jakarta- tentu saja kita mungkin bisa terwujud dalam hitungan semester saja.
    Atau andai tanah air ini luasnya sama dengan Malaysia mungkin bisa terwujud dalam hitungan tahun. Tetapi luas tanah air ini sama dengan benua Eropa atau negara benua Australia dan penduduknya beriringan banyak dengan penduduk Amerika Serikat dan Russia. Sementara itu persoalan way of life dan kultur manusia Indonesia ini sangat multi kompleks.
    Jadi harapan untuk memperoleh generasi emas seperti yang dicanangkan oleh Prof. Dr Muhammad Nuh sungguh mulia, namun dalam realita tidak semudah membalik telapak tangan. Andai para petinggi negara ini sering-sering blusukan ke bawah, tidak hanya blusukan sebatas di kota Jakarta saja akan terpantau bagaimana cara untuk merealisasikan mimpi tersebut.
    Apa bisa mewujudkan generasi emas dalam kurun waktu 30 tahun terjadi, kalau orang tua dan masyarakat Indonesia pada umumnya terbiasa berlepas tangan dalam mendidik anak ?. Kalau sudah ada generasi muda yang terlihat cerdas namun mereka mengadopsi gaya hidup ingin senang- mereka bermental hedonis dan ingin hidup jalan pintas.
    Kemudian cobalah para Petinggi Negara pergi blusukan ke daerah yang jauh akan dijumpai sekolah PAUD dan TK yang sangat tidak layak. Belajar di sebuah ruangan reot, kursi dan meja tidak layak pakai dan diajar oleh guru PAUD dengan wajah lesu karena honor mereka susah turun, kalaupun turun hanya bisa untuk menghidupi diri selama 3 hari. Sehingga suasana belajar PAUD dan TK tersebut sangat sepi dan jauh dari keceriaanya dunia anak-anak.
    Bapak Muhammad Nuh mengatakan bahwa untuk mewujudkan generasi emas akan dilakukan pembangunan dan rehabilitas sekolah dan ruangan kelas baru secara besar-besaran. Sekarang pun ini sudah dilakukan, namun gedung-gedung pendidikan yang dibangun sangat sarat dengan mark-up- penggelembungan harga dan mentalitas korupsi.
    Coba perhatian pada pembangunan ruangan sekolah yang baru. Setelah beberapa waktu kemudian, pintunya akan lepas, penggantung jendela akan copot dan di sana-sini ada- ada saja yang terkelupas. Sungguh untuk menumbuhkan generasi emas diperlukan masyarakat yang juga berhati dan berfikiran emas- bukan berhati yang gemar korupsi dan mencari komisi.
    Untuk mendapatkan generasi emas juga dibutuhkan orang tua yang bertangan emas dan kenal dengan ilmu parenting agar tahu bagaimana menjadi orang tua yang punya peran yang benar. Sehingga mereka bisa membimbing putra putri mereka. Namun yang kerap terjadi adalah ‘Fail Parenting- atau orang tua yang gagal”.
    Ada beberapa kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua yang berakibat terjadinya fail parenting. Bentuk fail parenting ini adalah: menghukum tanpa mengajarkan contoh yang seharusnya, orang tidak mengontrol ucapan yang dilontarkan pada anak, orang terbiasa banyak mengkritik dan bukan mendukung, juga sering orang tua tidak melibatkan anak dalam aktifitas keluarga di rumah.
    Deskripsi atas beberapa kesalahan dalam mendidik anak atau fail perenting ini (http://lifestyle.okezone.com/read) adalah sebagai berikut:
    1) Menghukum tanpa mengajarkan
    Banyak orangtua yang memberi kebebasan kepada anak dengan syarat harus bertanggungjawab. Misal, orangtua memberi anak kamar pribadi agar anak memiliki privasi dan bebas melakukan yang mereka inginkan. Tapi, orangtua hanya menuntut anak merapikan kamar tanpa mengajarkan bagaimana cara merapikannya. Dan ketika orangtua mendapati kamar berantakan mereka menghukum dengan cara memarahi anak. Dalam kasus ini, anak tidak akan merasa bahagia dan dicintai walau mendapat fasilitas dari orang tuanya.
    2) Tidak mengontrol ucapan
    Orangtua sering banyak bicara dalam memerintah anak. Akan tetapi, kemampuan anak dalam menerima pesan cukup terbatas. Mereka hanya bisa menerima pesan pendek, selebihnya pesan orangtua justru terabaikan. Orangtua lebih baik menahan ucapan mereka yang hanya terbuang sia-sia.
    3) Banyak mengkritik bukan mendukung
    Percayalah, anak akan lebih merasa bahagia ketika mereka menerima dukungan dari orangtua, bukan mengkritik. Sebab anak belum memahami apa arti kritikan seperti orang dewasa mengartikannya.
    4) Tidak melibatkan anak
    Alih-alih orang tua tidak ingin pekerjaan membereskan rumah mereka menjadi kacau karena keterlibatan anak, maka orangtua melarang anak ikut membantu. Seharusnya gunakan hati nurani mereka sebagai orangtua dan mengalah demi anak. Biarkan anak ikut serta membereskan rumah walaupun pekerjaan menjadi kacau atau memakan waktu lebih lama. Jangan biarkan anak merasa kecewa dan merasa tidak dicintai karena sikap orangtuanya.
    Jauh sebelum Prof Dr Muhammad Nuh mengungkapkan gagasan untuk melahirkan generasi emas, telah ada gagasan kea rah itu. Pemerintah, masyarakat dan stake-holder (pengambil kebijakan) merancang program sekolah unggulan, sekolah model, sekolah percontohan, sekolah perintis. Dan masyarakat menyerbu sekolah berlabel.
    Putra putri mereka memang tekun belajar dalam menuntut ilmu agar menjadi generasi emas. Terkesan mereka semua ingin menjadi intelektual dengan melahap semua pelajaran yang terlibat dalam UN- Ujian Nasional seperti. Skor UN harus tinggi agar bisa menyerbu jurusan favorite ddi Universitas bergengsi agar nanti bisa hidup senang dan kaya raya.
    Impian yang begitu praktis hanya dengan sekedar mengejar skor UN yang tinggi, kapan perlu dikebut dengan metode belajar yang memang hebat di tempat Bimbel eksklusif yang berharga mahal. Beberapa semester setelah itu memang banyak yang mampu kuliah di Perguruan Tinggi favorite dan jurusan basah. Namun coba lihat setelah itu setelah mereka menjasi sarjana, apa memang mereka sukses, mendapat pekerjaan seperti yang mereka impikan dan menjadi kaya raya sementara mereka sendiri miskin dengan life skill dan makna menjalani kehidupan yang semestinya.
    Pendidikan unggul yang buat sementara dengan tujuan menciptakan generasi emas adalah dengan favoritekan nilai akademik, menganggap mata pelajaran UN itu adalah raja dan segala- galanya. Fenomena begitu bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada fenomena industry olah raga di Eropa dan industry music di Korea Selatan.
    Saat anak-anak kita belajar dan hidup hanya sekedar membahas pelajaran UN, dan masa bodoh dengan hal lain, termasuk juga tidak begitu mengidolakan mata pelajaran olah raga, sehingga tubuh mereka jauh dari kesan atletik dan tidak menyukai pelajaran kesenian, tidak tahu bermain music kecuali memuja-muja produk music orang.
    “Ya memang benar bahwa Generasi Emas kita adalah penggemar music bangsa lain, terutama K-Pop, dan juga penggagum berat prestasi sepak bola bangsa Eropa”.
    Di Eropa dan juga di Korea Selatan, mata pelajaran UN bagi kita seperti Matematika fdan mata pelajaran Sains, atau mata pelajaran social yang diunggulkan sudah dianggap biasa-biasa saja. Mereka, terutama pemerintah, selalu mendorong untuk membentuk event Olah Raga dan Seni: lagu dan music, sehingga berkembang dan sangat bergairah. Kini prestasi Olah Raga Eropa, dengan munculnya klub-klub bola bergengsi, dan kebijakan pemerintah Korea Selatan untuk menjadi seni menjadi industry telah menghasilkan industry sepak bola dan music Korea Pop yang sangat menggoncang dunia. Sehingga Generasi Emas juga ikut ikutan mengagumi dan mengidolaka mereka. Malah merasa malu dan gengsi dengan seni dan olah raga yang ada di negara mereka sendiri.
    Liga-liga sepakbola Eropa selalu menjadi daya tarik bagi pesepak bola dari berbagai belahan dunia (https://mercusuarku.wordpress.com), karena menjanjikan kebesaran nama dan tentunya penghasilan yang bisa melimpah ruah. Seorang bintang bahkan dapat mencapai nilai transfer trilyunan rupiah. Ya, sepakbola telah menjadi sebuah industri hiburan – dan menempatkan para pemain bintang menjadi selebritis. Keberhasilan Eropa membuat sepakbola menjadi ladang uang mengubah wajah cabang olah raga ini di seluruh dunia. Bagaimana dengan Indonesia?
    Kita mungkin termasuk orang yang pesimis dengan perkembangan sepakbola nasional kita sendiri. Bayangkan, bangsa sebesar ini, dengan kesebelasan nasional dan team lokal yang pernah sanggup berbicara di pentas Asia (paling tidak), sekarang berada di titik nadir yang memilukan. Pemain asing yang didatangkan memang meramaikan persepakbolaan nasional – sebagai industri hiburan – namun tak kunjung mengangkat potensi pemain lokal menjadi kompetensi. Buktinya, dalam segala event internasional belakangan ini, team Indonesia selalu terpuruk.
    “Karena mental berlatih dan bekerja keras dan juga semangat otodidak para atlit dan generasi muda memang sangat lemah. Pemerintah dan masyarakat mengagung-agungkan nilai akademik putra-putri mereka dan hanya berbasabasi saja untuk melahirkan pelajar untuk menjadi atlit kelas dunia, karena nilai otot/ keterampilan gerak otot masih dianggap sebagai prioritas kelas dua.
    APA YANG HILANG dari pemain sepakbola kita? Kecerdasan, motivasi, nasionalisme, atau apa? Kenapa mereka sepertinya tidak malu selalu kalah? Hingga bisa ditebak – kalau tidak ada berita di televisi berarti kalah, tapi kalau menang pasti heboh. Atlit-atlit kita di masa lalu tidak diguyur dengan nilai gaji yang menggiurkan, tetapi dinding mereka kaya dengan medali, piagam penghargaan, dan foto kejuaraan. Bagaimana dengan atlit Indonesia sekarang?
    Barangkali remaja Korea Selatan, tidak tergila gila lagi dengan mata pelajaran sains- tetapi dengan mata pelajaran kesenian: nyanyi dan usik karena pemerintah mereka mendorong dan memberi reward muncul industri seni: nyanyi dan usik K-Pop yang menggoncang dunia (http://korgpa5.blogspot.com/2013/10/anak-muda-lebih-suka-budaya-korea.html).
    Perkembangan musik K-POP ke dunia In ternasional jelas sangat berpengaruh terhadap segala aspek permusikannya. Mulai dari jenis musiknya, packaging nya, gaya dance membawakannya dan masih banyak lagi. Demam K-Pop sepertinya mampu membuat banyak remaja Indonesia Ingin sekali bisa mengenal artis Korea idolanya lebih dekat lagi. Tak heran jika di Indonesia sendiri kita menemukan para K-Popers gemar meniru apapun yang sudah menjadi trand mark artis- artis Korea. Entah itu soal gaya bernyanyi, dance, hingga fashion yang mereka bawakan. Hingga banyak tabloid remaja yang mengulas soal profil mereka. Uniknya lagi para penggemar K-Pop pun kerap meniru gaya nge dance dan bernyanyi boyband dan girls band asal Korea tersebut. Hal ini jelas menunjukkan bahwa perkembangan musik K-POP ke Indonesia pada khususnya sangat mempengaruhi selera musik bangsa kita sendiri.
    Tentu saja lewat mencintai budaya music Korea yang berlebihan memberi dampak negate pada budaya sendiri. Yaitu seperti:
    1. Mengurangi rasa cinta terhadap musik Indonesia.
    2. Musik asli Indonesia lama kelamaan akan hilang.
    3. Membuat pergeseran budaya lokal.
    4. Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya KPOP yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
    5. Tercampurnya kebudayaan dalam negeri dengan kebudayaan luar, khususnya permusikan itu sendiri.
    Tidak ada yang salah kalau olah raga Eropa, seperti Sepakbola, dan budaya KPOP dari Korea juga ikut membuat generasi emas kita juga tergila gila, hingga hampir lupa atau telah melupakan identitas bangsa mereka sendiri. Kenapa tidak seorang anak Indonesia akan merasa bangga memakai baju kaos murahan asal di punggung mereka ada label “Club Sepak Bola Juventus”, dan merasa sangat malu memakai baju kaos berharga satu juta perak namun ada label “Club Sepakbola Nusantara”.
    Memang banyak penyebabnya dan tidak dapat kita salahkan kalau “Ternyata Generasi Emas Itu Suka Meremehkan Tanah Air, Memuja Olah Raga Eropa dan Musik Korea Sangat Berlebihan. Penyebanya seperti:
    1) Media lokal lebih banyak menayangkan budaya global yang lebih modern dan lebih menarik tanpa memperdulikan budaya lokal.
    2) Tidak ada pembaharuan pada budaya lokal seperti pengemasan dalam pentas, sehingga banyak masyarakat yang bosan dengan budayanya sendiri.
    3) Media hanya memperhitungkan bisnis semata demi mendapatkan untung yang besar tanpa melihat faktor budaya tulent.
    4) Tidak ada kebijakan pemerintah terhadap media baik elektronik maupun non elektronik berkaitan dengan penayangan budaya lokal itu sendiri.
    5) Dan terakhir, kegasalahan parenting kita dan juga kebijakan pendidikan yang mendorong generasi muda hanya menomorsatukan nilai akademik, dan memfasilasi nilai kehidupan social dan life skill sebagai prioritas belakang. Disamping mental “Man Jadda Wa Jadda kita semua memang sangat lemah”.
     
  • Foto Profil dari Marjohan Usman

    Marjohan Usman 10:31 am on 7 July 2011 Permalink  

    Tuhan…..,Berilah Aku Kedamaian Fikiran 

    Tuhan…..,Berilah Aku Kedamaian Fikiran

    Oleh: Marjohan Usman

    http://penulisbatusangkar.blogspot.com

                Kedamaian fikiran sangat berharga dalam hidup ini. Kondisi fikiran yang begini mampu membuat aku bisa tersenyum meski aku tinggal dalam gubuk sederhana. Aku bisa tetap bahagia walau sedang mengendarai sepeda motor rinsek. Hilangnya kedamaian fikiran bisa menjadi musibah bagiku, termasuk bagi beberapa orang temanku. Beberapa orang temanku tidak mengenal dirinya lagi dan malah ada yang telah hilang ditelan bumi.

                Suatu hari di akhir usia anak-anak, aku memperoleh teman baru. Aku berfikir bahwa ia pasti seorang anak yang beruntung, karena ia tinggal dengan bibinya seorang wanita kaya, punya rumah bagus. Semua kaum kerabatnya terkenal sebagai orang-orang yang punya pengaruh dan punya ekonomi sangat mapan. Saat itu ia pindah sekolah dari sebuah SMP di Propinsi Riau. Papanya seorang kontraktor dan mama tidak bekerja, kecuali mengurus rumah saja. Mamanya sangat menyayanginya dengan sepenuh hati dan malah terkesan over protektif- terlalu banyak melindungi dan banyak melarang “kamu tak boleh melakukan yang itu…dan juga tidak boleh pergi ke sana”.

                Temanku yang bernama Hendra ini banyak berada dalam rumah. Itu karena pola asuhan mamanya yang banyak nerasa taku atas keselamatan anaknya- “takut anak cedera, taklut anak terjatuh, takut anak berkelahi dengan teman dan takut anak tertabrak mobil”. Ya siapa yang merasa takut, tapi ini terlalu berlebihan. Akhirnya Hendra menjadi anak yang penurut, kurang banyak teman- kurang mampu bersosial, dan juga menjadi anak yang pemalu.

                Suatu hari mamanya terjatuh saat menyapu lantai, dilarikan ke rumah sakit dan meningga dunia. Mamanya meninggal karena gangguan jantung. Untuk selanjutnya pengasuhan Hendra berpindah ke bibinya, seorang janda separoh baya dengan enam orang anak. Bibinya berwatak keras dan terkesan kurang ramah. Tersenyum adalah sesuatu hal yang sangat mahal darinya. Temanku Hendra seharusnya  memiliki kemampuan beradaptasi dari pola asuh ibu yang overprotektif dan penuh kasih sayang kepada bibi yang tegas, keras dan suka aktivitas. Ia member  tanggung jawab pada Hendra dan Hendra mematuhi semua aturan dan larangan yang berlaku di rumanya “Tidak boleh menghidupkan TV, tidak boleh mendengar lagu terlalu berisik, tidak boleh menerima teman karena rumah pasti akan sembrawut, tidak boleh berkelahi dengan anak tetangga” dan akhirnya Hendra memilih tinggal dalam kamar sepanjang hari sebagai alternatif aman.

                Aku termasuk remaja kecil yang dibolehkan berkunjung ke rumah Hendra- karena menurut bibinya aku memiliki karakter yang baik, dan bibinya senang dengan ku. Aku memanggil Hendra dan mengajaknya bercanda… namun aku melihat bahwa Hendra sangat penggugup di rumahnya sendiri. Namun ia senang bermain ke rumahku, walau kondisi bangunannya amat sederhana. Di rumahku Hendra bisa tertawa terbahak-bahak dan bisa bercanda sepuas-puasnya. Namun bila balik ke rumahnya, ia harus memasang karakter serius kembali. Ada lagi karakter aneh pada Hendra yang kulihat bahwa ia suka tarik diri dari keramaian orang. Bila familinya datang walau dengan mobil sedan mewah, maka ia buru-buru lari ke rumahku yang hanya terbuat dari papan yang agak reot. Aku pernah bertanya “Kok kamu lari ke sini, enaklah punya family kaya dan punya bobil bagus”. Ia menjawab bahwa ia tidak memperoleh tempat dalam hati famili-familinya, ia hanya merasa sebagai orang kelas dua bersama mereka. 

                Karena tuntutan studi, aku akhirnya berpisah dengan sahabatku. Pernah setelah satu atau dua tahun aku tidak berjumpa lagi, saat aku menjumpainya ia sudah menjadi semakin mudah gugup dan sangat kaku. Mukanya penuh jerawat, karena ia tidak peduli lagi dalam merawat mukanya. Aneh….bahwa kalau berjalan ia suka menunduk- melihat ibu jari kaki saja. Akupun mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengannya. Ia terlihat menjadi antisocial dan tidak peduli untuk berkomunikasi. Akupun tidak punya waktu untuk mendekat sekedar untuk mengatakan hello. Namun setelah bertahun tahun tidak berjumpa, aku datang menemui bibinya. Bibinya mengatakan bahwa ia telah mengalami gangguan mental- skizoprenia/ pribadi yang terbelah. Ia suka jalan sendirian, marah-marah dan suka mengumpulkan puntung-puntung rokok untuk dihisap.

                Kedamaian fikiran juga sirna dari temanku yang bernama “Zamri Amros”. Ia saat itu belajar di sebuah SLTA dan tinggal dalam kamar kost yang sangat sederhana. Aku sering mengajaknya ke rumah atau mengantarkan nasi dengan sepotong goreng telur. Sarapan yang demikian adalah sesuatu yang mahal buatnya. Aku memahami posisi ekonomi orangtuanya sebagai petani kecil- petani miskin yang tinggal di kaki bukit kapur yang tidak subur. Ia jarang pulang kampung karena bakal tidak ada yang diharapkan (uang, harta dan makanan) dari kampung.

                Pulang kampung bukan lah yang membahagiakan bagi Zamri. Di sana ia malah menderita dan sedih yang mendalam melihat kondisi ekonomi dan kesehatan semua anggota keluarganya. Ia tidak pernah memperoleh motivasi dan inspirasi untuk sukses dari mama dan papanya. Sebaliknya, ia malah banyak memperoleh keluhan dan ratapan dari mereka. Ia merasakan hidup ini sempit dan suram. Akibatnya perilakunya tidak ceria dan ia malah penuh  dengan kecemasan- cemas kalau berbuat salah dan cemas kalau dimarahi orang.

                Tamat SLTA, ia malah bengong “mau pergi kemana ?” Ia tidak punya keberanian karena ia memandang diri sangat rendah. Ia tidak berani untuk m,elangkah, karena ia tidak pernah diajar untuk berani. Ia akhirnya pulang kampung dan ia menjadi tumpuan harapan semua orang. Ia sendiri tak mampu memenuhi harapan banyak family. Aku mendengar sahabatku mengalami sakit berat gara-gara fikirannya. Badannya kurus dan ia akhirnya hilang ditelan bumi ini…untung aku masih menyimpan fotonya, saat berkunjung ke kampungku. Hidup ini sangat ganas bila fikiran kita tidak damai.

                Andi adalah teman masa kecilku yang amat aku kagumi. Karena ia pintar dan mudah bergaul dan jago dalam balapan. Aku punya banyak memori bersamanya- kami pernah lomba balapan sepeda, pergi berburu burung di sawah dan mencari buah buahan ke kebun tetangga. Itulah bahwa banyak orang tua diseputar rumahku yang hanya pintar berharap namun miskin dalam berempati. Andi sendiri di rumahnya tidak memperoleh banyak bimbingan dalam belajar. Orang tua hanya berfikir dan berprinsip bahwa mengajar anak untuk jadi pintar adalah tanggung jawab guru di sekolah. Urusan pendidikan Andi diserahkan bulat-bulat pada gurunya di sekolah.

                Tentu saja prestasi akademiknya tidak begitu menggembirakan. Namun orangtuanya mampu untuk mengirim Andi ke sekolah dan universitas swasta yang bergengsi dan biayanya mahal. Pendidikan Andi dari SD hingga perguruan tinggi semuanya swasta dan orangtuanya telah mengeluarkan banyak uang dari koceknya buat Andi, kadang mengeluh dan menyesal “Uang banyak habis tapi kamu tetap bodoh dalam belajar”. 

                Tamat Perguruan Tinggi, ia diharapkan harus bekerja, tidak boleh menganggur karena telah menghabiskan banyak uang. Pergi ke kota Jakarta adalah solusinya. Andi pun jadi immigrant di negara sendiri- ternyata susah mencari kerja di kota dengan jutaan manusia yang stress. Yang mudah hanya menjadi sopir taxi. Itupun ia memperoleh cibiran dikampung, “Apa gunanya kuliah mahal-mahal kalau hanya menjadi sopir taxi…!!”. Andi pasti kalut dan kedamaian fikiran adalah hal yang sangat mahal. Hari itu aku ikut berkumpul di rumahnya menunggu mayatnya, ia korban kekerasan dari penumpang taxi yang tidak dikenalnya. Orangtuanya amat terpukul dengan kepergian Andi, anak laki-laki yang gagah, lembut, namun hilang ditelan keberingasan kota Jakarta.

                Sahabatku yang lain yang telah kehilangan kedamaian dalam fikirannya adalah Gope. Secara sekilas aku fikir bahwa ia anak yang beruntung. Ia punya ayah dan ibu dengan ekonomi dan kondisi social yang begitu sehat. Ia malah juga punya hobbi main sepak bola dan ia sendiri ikut masuk klub bola. Aku kemudian berpisah cukup lama karena aku harus melanjutkan studi. Ia sedikit lebih tua dari aku dan seharusnya ia juga harus meninggalkan rumah untuk pergi studi.

                Setelah tiga tahun aku pulang kampung dan berjumpa dengannya, namun ia menjadi pemuda yang banyak minder (rendah diri) dan suka mengurung diri. Ia tidak tertarik berinteraksi dengan tetangga dan juga dengan familinya sendiri. Aku fikir bahwa penyebabnya menjadi kehilangan ketenangan dalam berfikir adalah dari lingkungan rumah sendiri- namun orang suka menyalahkan tetangga. Menurutku penyebabnya adalah factor orang tuanya dan sibling (saudara kandungnya).

                Aku lihat ayahnya tidak berinteraksi dengannya. Mereka terbisaa berjalan sendiri-sendiri, tidak ada acara kebersamaan. Yang ada malah kebisaaan mengecam dan menyalahkan anak bertubi-tubi. Ibunya juga demikian, kurang banyak peduli dengan perkembangan emosi anak- kecuali ia memperhatikan minum dan makan saja. Dalam bidan akademik ia gagal tiap semester dan tentu saja ia tidak memperoleh penghargaan dalam hidup, aku fikir betapa dahsyatnya arti sebuah pujian dan perhatian. Sejak itu ia sering mengkonsumsi pil penenang untuk mengendorkan ketegangan sarafnya. Kekacauan jiwa susah untuk sembuh total setelah usia dewasa. Maka aku ingin semua orang sejak anak-anak memperoleh pujian, perhatian, kebersamaan, dan pengalaman- pengalaman sukses dalam hidup mereka.  

                Bulan lalu aku pulang ke desaku, aku sudah lama tidak kesana, namun begitu sampai di sana aku menemukan ada kuburan baru. Kuburan temanku…ada apa ? Temanku, Young, akhir-akhir kematiannya sangat menderita dengan fikirannya. Ia tidak bergairah dengan hidupnya. Ia juga tidak berbahagia dengan orang tuanya, terutama ayahnya yang sangat pemarah. Dahulu, kalau Young ada kesalahan maka ayahnya suka naik pitam dan memukul kepala dan telinga anaknya. Akibatnya di rumah Young tidak banyak mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Ia merasa orang asing di rumahnya sendiri, mungkin inilah yang dapat dikatakan sebagai peristiwa KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang berkepanjangan yang bisa membuat trauma dan depresi bagi teman ku, yang bernama Young.

                Aku sendiri kadang-kadang juga mengalami problem dengan fikiran sendiri- hingga kedamaian  dalam fikiranku jadi hilang. Namun yang aku rasa sebagai penyebabnya adalah karena masa kecilku yang juga kurang bahagia. Ayahku hampir tidak melowongkan waktu untuk melakukan kebersamaan dengan ku, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan karirnya sendiri. Ibuku juga tidak pernah mengatakan “I love you” pada ku, tidak tahu cara memujiku. Yang ia bisa Cuma banyak marah, mrmerintah dan serba mengatur. Disamping itu aku juga tumbuh sebagai anak yang punya sejuta keinginan dan aku tak mungkin mencapai keinginan tersebut maka aku menangis dalam mimpiku. Namun masih beruntung karena masih ada family, bila datang, yang memberi aku sekeping senyum dan sekeping cinta. Aku bisa bahagia karena masih menjadi remaja/ anak yang punya arti hidup. Aku dan teman-temanku pasti takut kehilangan rasa damai dalam fikiran ini. Aku berdoa kepada Tuhan pemilik kedamaian ini, agar memberi aku dan teman-temanku rasa damai dalam fikiran kami.  

     
    • Sahabat Blogger 9:50 am on 10 November 2012 Permalink

      🙂 nice post..
      salam kenal. mampir juga ke blog saya ya dan tinggalkan komentarnya 🙂

    • Anonim 3:32 pm on 21 Februari 2013 Permalink

      Ι think that everything ωгotе was very logical.

      But, think on this, suppose you wеre tο сreate a awesome heаdlіne?
      I mеаn, I don't want to tell you how to run your blog, but what if you added a post title to maybe grab folk'ѕ attentiоn?
      I meаn "Tuhan…..,Berilah Aku Kedamaian Fikiran" іs a
      little boгing. You should ρeek аt Yahoo's front page and watch how they write article titles to get viewers to open the links. You might add a video or a picture or two to grab people excited about everything've written.
      In my opinion, it сοuld bring yοur blog a little liveliеr.

      Here is mу web blog emergency plumbers in birmingham

    • Anonim 5:43 am on 24 Februari 2013 Permalink

      Does youг webѕite havе a contact pagе?
      I'm having problems locating it but, I'ԁ liκе to ѕenԁ you an
      еmail. I've got some recommendations for your blog you might be interested in hearing. Either way, great website and I look forward to seeing it expand over time.

      Feel free to surf to my page … adult Motorized kick scooter
      my web site: just click the up coming internet page

    • Anonim 11:06 pm on 24 Februari 2013 Permalink

      I'm not sure why but this web site is loading very slow for me. Is anyone else having this issue or is it a problem on my end? I'll checκ back lаter on
      anԁ sеe if thе ρroblеm stіll eхiѕts.

      Αlso visit mу pagе … Pink Battery Operated Cars
      my webpage :: Pink Battery Operated Cars

    • Anonim 3:55 am on 3 Maret 2013 Permalink

      Howdy! I know thiѕ iѕ kinda οff topіc hoωeѵer I'd figured I'd аsk.
      Would you be іntеrested in trading links οr mаybе guest authoring а blοg aгticlе or vice-vеrѕa?
      Μу sіtе аddreѕѕeѕ а lot оf thе sаmе topicѕ as yοurs and I believe we
      coulԁ greatly benеfit frοm еaсh οther.
      If you аre intеrestеd feel frее
      to ѕеnd me an еmail. I loоk forwaгd to hеaring frоm yοu!
      Wondeгful blоg by thе wаy!

      Feеl freе tο surf to mу blоg poѕt:
      how can you get taller faster
      Also see my page > signs of growing taller

  • Foto Profil dari Marjohan Usman

    Marjohan Usman 4:46 pm on 5 July 2011 Permalink  

    Aku Tidak Ingin Menjadi Muda Lagi 

    Aku Tidak Ingin Menjadi Muda Lagi
    Oleh: Marjohan
    http://penulisbatusangkar.blogspot.com
                Hidup ini sangat indah. Namun indah atau susah adalah suasana dari dalam hati. Aku sendiri paling senang memperhatikan keindahan lewat kecerian anak-anak- mengembara, berlari, berlompatan- tidak kenal lelah, dari pagi hingga malam datang lagi dan tertidur- kembali bermimpi.
                Aku juga paling senang memperhatian kecerian remaja, karena dalam kecerian mereka terdapat vitalitas hidup. Aku fikir bahwa anak-anak dan remaja adalah manusia yang paling sibuk di dunia. Coba perhatikan kalau ada keramaian dan acara-acara social yang  penuh dengan kegembiraan, maka di sana pasti terdapat banyak ana-anak dan para remaja.
                Ada hal lain yang membuat aku senang. Aku paling senang melihat seorang ayah yang menggendong dan bermain akrab dan penuh cinta dengan bayinya, karena suasana begini masih langka terlihat. Aku juga senang melihat anak-anak muda yang selalu menebar kebaikan dalam hidup ini. Lantas apakah aku ingin muda lagi ?
                Masa mudah memang sangat mudah. Tetapi aku takut menjadi muda lagi. Dari usia muda hingga usia tua ini aku telah melalui serangkaian peristiwa yang menyenangkan dan peristiwa yang menakutkan dan aku tidak ingin lagi mengulangi peristiwa yang menakutkan dalam hidup. Peristiwa yang menakutkan ada dalam masa anak- anak, masa remaja hingga masa dewasa dan masa tua.
                Peristiwa seperti perpisahan, ditinggalkan, suasana menakutkan dan dimarahi adalah hal-hal yang menakutkan bagiku saat masih anak-anak. Aku sangat gembira bila ada pertemuan dan sedih dengan perpisahan. Pada masa kecil aku sempat dipelihara oleh seorang famili yang amat setia menemaniku. Mengajak aku bermain- membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali dan membelinya tali- lalu menyerahkannya padaku. Saat aku menarik mobil-mobilan tersebut ia selalu memberi  aku semangat agar mengembara sekelilng rumah. Bila aku terjatuh dan terluka, maka ia akan meniup luka kecilku dengan tiupan angin dari mulutnya dan berkata “ah jangan menangis, kamu bakal jadi orang hebat”. Namun aku merasa sangat  berduka saat ia harus pergi karena ia harus berumah tangga. Saat itu aku tidak mengerti apa maksudnya berumah tangga, yang jelas aku ditinggal pergi dan aku merasa tidak akan ada lagi orang yang tersenyum pada ku atau menenangkan tangisku.
                 Saat aku kecil, aku paling takut kalau aku rewel, karena aku aku segera diusir keluar rumah dan dibiarkan berada dikegelapan malam. Ini termasuk strategi orang tuaku dalam menenangkan semua anak anak- menakut-nakuti dengan kata-kata hantu, kuntilanak, hantu pocong dan aku dibiarkan dalam kegelaman. Aku merasa seolah olah ada jari jari hantu yang  memang menggerogoti sekujur tubuhku. Aku ingin semua orang tua tidak berbuat demikian pada anak-anaknya karena mereka pasti akan menjadi penakut dan tidak bisa mencari solusi atas problema yang mereka hadapi, juga kebiasaan demikian akan menghilangkan karakter kepemimpinan yang baik bagi anak.
                 Hal lain yang membuat aku terluka saat masih kecil adalah karena dibeda-bedakan dari saudaraku yang lain. Suatu hari aku pergi bermain-main bersama teman jauh di kebun di belakang rumah. Aku tiba tiba ingin pulang karena aku merasa sangat dahaga. Apa yang aku temukan ayah dan ibuku dan saudara-saudara ku sedang makan sate, makanan kesukaanku, namun buat ku tidak ada. Mereka menduga aku tidak ada di rumah dan jatah sateku diberikan pada anggota yang lain. Aku tidak mengerti alasan mereka, yang jelas aku merasa sedih sekali dan aku pergi ke belakang rumah dan di sana air mataku tumpah sebanyak mungkin. Ibuku memanggilku namun aku ngambek, karena aku merasa sebagai anak yang berbeda dan anak yang tidak berharga. Wah aku tidak ingin menjadi kecil seperti itu lagi.
                Kesedihan-kesedihan ku, dan anak-anak lain- dalam masa anak-anak adalah karena adanya perbedaan. Sebagai anak-anak aku ingin diajak pergi ketempat permainan atau paling kurang aku juga harus diberikan mainan. Tetapi apa boleh dikatakan, orang tuaku tidak pernah tahu dengan keinginan ku. Teman-temanku berpacu dengan sepeda kecil mereka dan aku hanya menjadi penonton saja. Akhirnya suatu hari aku memperoleh sepeda dan aku rajin berlatih main sepeda.
                 Setelah aku pintar bersepeda maka aku membonceng adikku. Aku dayung sepeda tersebut sekencang mungkin dan aku menjadi orang paling jago dan paling hebat di dunia ini. Aku suka dengan tantangan maka akau melaju kencang dan kencang. Aku melaju ke atas tumpukan tanah dan aku membuat sepedaku untuk melompati tumpukan tanah. Aku kehilangan keseimbangan dan aku serta adikku segera terbanting ke bumi. Aku luka-luka dan adikku juga luka-luka. Aku segera membeli plester anti luka- handyplast- untuk membalut luka-luka adikku.
                  Aku taku dengan ibuku. Ia pasti marah besar. Akhirnya aku dengar suara ibu marah besar dan aku yakin bakal akan dicambuk. Aku tetap membetulkan letak plester pada luka pada wajah adikku. Anehnya  bahwa adikku juga cukup gentlemen, ia tidak menangis. Melihat aku lagi bertanggung jawab atas luka-luka adikku, ibuku batal untuk mencambukku. Mungkin ia juga kasihan melihat aku luka-luka dan adikku juga luka-luka dan buat apa dicambuk lagi. Ibuku termasuk generasi terakhir yang berprinsip bahwa “sayang dengan anak dicambuki dan sayang dengan kampung ditinggalkan. Pada hal sekarang hukum fisik harus dikurangi atau dihentikan.
                  Ternyata anak laki-laki paling senang adu kekuatan fisik. Hampir tiap hari aku dan kakakku adu kekuatan fisik- siapa sih yang paling kuat ?. Aku selalu kalah dan aku sakit hati. Aku merasa dendam dan aku mencari teman yang bisa aku ajak untuk adu kekuatan di sekolah dan aku menang. Namun aku kena marah oleh ibu guru karena aku dianggap membuat keributan atau berkelahi di kelas..
                   Masa bermain di usia Sekolah Dasar memang mengasyikan. Suatu kali guru-guru DI SD Negeri 3 Payakumbuh lagi rapat. Rapatnya agak lama. Aku dan teman-teman pergi bermain sangat jauh sampai dekat kolam besar. Kami memandang kolam tersebut sebagai tempat melakukan kreativitas. Kami semua melepaskan seragam sekolah dan semua berloncatan ke dalam kolam dan kami berenang. Kami lupa dengan waktu. Seorang temanku “Erman Syam” menemui sebelah anting-anting emas dan ia rembug dengan kami semua untuk menjualnya nanti dan uangnya kita bagi-bagi. Namun kami harus segera ke sekolah. Di sekolah kami ditunggu dengan hukuman dan kami disuruh mencangkul kebun sekolah. Itulah pertama kali aku mencangkul, mengangkat tangkai cangkul yang terasa cukup  berat. Kami tidak tahu kalau itu adalah pelanggaran disiplin di sekolah. Usai pulang sekolah kami pergi ke took emas. Anting emas tadi ternyata memang emas betulan dan telah dibeli oleh penjual di sebuah took emas. Uangnnya digunakan untuk pesta membeli makanan. Hari itu aku punya uang yang agak lebih. Namanya saja uang rezki nomplok.
                    Masa-masa di SMP juga tidak begitu terasa indah. Semua teman-temanku mulai memperhatikan penampilan dan aku …aku tampil amat bersahaja. Aku takut minta tambahan koleksi pakaian pada orang tua. Pakaian ku sedikit dan aku jadi malas kalau ikut acara-acara teman. Aku juga tidak mengajak teman-temankku ke rumah, aku malu dengan kondisi rumahku yang begitu kecil, pengap dan berlepotan, sementara teman-temankku rumahnya bagus, bersih dan indah.
                   Aku tumbuh menjadi anak yang rendah diri- karena tidak ada potensi yang musti diandalkan- kemampuan olah raga, seni dan akademikku- semuanya hampa. Akhirnya aku musti bergiat dan aku tertarik dengan bahasa Inggris. Aku menjadi lebih jago dari kawan-kawanku dan aku menjadi lebih popular dan punya banyak teman.
                    Aku selalu tumbuh dan tumbuh. Aku melihat semua teman-temanku pada bersinar- punya mobil, punya alat music, punya sarana olah raga dan punya orang tua yang beken. Tetapi aku hanya punya mimpi dan suka melamun. Namun aku tidak berguna meratapi kekuranganku, aku tidak meratapi mengapa ayahku tidak memberi aku model hidup yang bagus- mengapa ayahku tidak mengajakku bertukar fikiran . dan ibuku mengapa terlalu banyak melarang dan marah marah sehingga aku tidak punya inisiatif.
                    Suatu hari aku mau jatuh cinta pada teman sekelasku. Tetapi bagaimana cara untuk mengungkapkannya. Aku tidak berani dan cintaku pasti bakal ditolak. Aku sudah duluan memandang diri ini sangat rendah. Memandang diri rendah berarti merasa rendah diri. Aneh teman wanita yang mau aku taksir tidak respon padaku. Yang tidak aku taksir itulah yang memberi respon, banyak yang datang pada ku. Aku termasuk yang rajin belajar, namun nilai ku kadang kadang begitu melorot dan aku jadi sedih. Aku melihat bahwa kedekatan guru dan murid bisa membuat nilai tinggi dan aku tidak tahu cara  mendekatkan diri dengan guru-guruku. Namun suatu kali guru kesenianku merayakan ulang tahunku bersama teman-temanku  dalam kelas- dan itu sangat berkesan bagi ku sampai sekarang.
                   Tiba-tiba usia belasanku mau berakhir…aku sedi banget. Besok usiaku sudah dua puluh tahun dan aku tidak remaja lagi, karena remaja itu usianya belasan. Kalau dipikir pikir bahwa usia muda tidak akan pernah datang lagi. Aku tidak suka melamun apalagi mencari-cari kelemahan diri. Aku mengembangkan diri semampu ku. Aku memperluas pergaulan dengan orang orang yang sesuai dengan pribadiku. Aku selalu ingin menjadi orang berguna dan dan orang penting. Maka aku rajin mencari identitas diri- kadang aku ingin jadi dokter, aku ingin jadi polisi seperti ayahku, aku ingin jadi pedagang seperti tetanggaku, jadi nakhoda kapal seperti kapal yang pernah aku lihat di Teluk Bayur di Padang dan aku juga membaca buku filsafat dan buku agama untuk ketenangan fikiran dan emosiku.
                   Aku belajar untuk menerima diri apa adanya. Karena menerima diri sebagaimana adanya akan membuat fikiran tenang. Suatu hari teman Perancisku berada bersamaku. Mereka dalah Anne Bedos dan Louis Deharveng, mereka berdua sangat pintar tetapi mengapa penampilannya begitu urakan. Rambut panjang dan tidak disisir. Mereka menjawab ‘C’est moi et cela natural”. Suatu hari aku memberi mereka jambu dan mereka langsung memakannya tanpa membuang semut-semut hitam yang terkurung dalam telinga jambu tersebut. Katanya “Je mange tout les foumis et tout sont naturalement- aku makan semua dan semuanya alami”. Aku baru tahu kalau mereka suka dengan ungkapan back to basic dan back to natural.
                       Suatu ketika penjaja kosmetik datang padaku, ia langsung berseru “Duh kasihan uban anda bermunculan dan pakailah semir yang aku jual ini..?”. Aku protes bahwa apakah saya menjadi jelek atau hina kalau rambut beruban dan aku menjawab” Maaf uban ini membuat harga diriku bertambah, kemaren aku salah menyeberang jalan dan karena pak Polisi melihat ubanku, mereka memberi peringatan padaku dengan penuh sopan santun”.
                     Banyak orang takut tua dan mereka tambil jadi aneh-aneh dan salah tingkah. Aku masih ingat bahwa saat bibiku mau menjadi tua , ia sibuk pergi ke salon intuk mengubah penampilannya, suatu ketika ia meniru rambut kribo ala Achmad Albar. Maka ia diledek oleh temannya sebagai gadis tua dengan rambut sarang burung tempua. Orang orang yang takut tua memang telah menyerbu salon dan rajin mengkonsumsi obat obatan.
                       Aku baru tahu bahwa mengapa dulu ada teman ayahku yang usianya sekitar 40-an suka memakai kacamata gelap, memakai topi koboi, dan penampilannya mirip orang orang muda. Atau teman ibuku yang setelah usia 40 tahun atau lebih kembali peduli mengupdate penampilan- memakai lipstick tebal, rambut yang dimodifikasi ibarat penampilan remaja kemudian khawatir terus dengan kerutan yang mulai bermunculan pada wajah mereka. Mereka takut tua dan juga lebih takut kalau ditinggalkan oleh pasangan hidup mereka.
                    Aku sendiri masih ingat saat ibuku meratapi kesedihannya karena ditinggal oleh masa mudanya. “Dulu dalam usia begini.. aku tinggalkan nenek mu dan sekarang aku sudah setua dia pula sekaranmg”. Aku saat itu tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh ibuku dan sekarang aku juga mengikuti pertumbuhan usia seperti mereka. Nenekku sudah meninggal dan ibuku baru saja meninggal dan esok aku akan juga menyusul mereka.
                   Aku senang menjadi tua dan aku takut menjadi muda lagi. Yang aku takutkan adalah mengulang kesedihan demi kesedihan yang sempat aku lalui sejak kecil hingga aku dewasa dan aku menuju tua seperti ini. Tetapi kalau aku fikir bahwa menjadi tua itu adalah sangat alami dan semua orang serentak lahir dan menjadi besar dan tua sedunia ini. Teman-teman yang dulu sempat aku tinggalkan maka saat berjumpa dengan aku juga aku temui mengalami penuaaan. Wah mengapa harus takut tua dan aku malah takut menjadi muda. Tua yang menyenangkan adalah menjadi tua dengan penuh bijaksana. Menjadi tua yang selalu berbahasa dengan santun dan menjadi dekat dengan manusia dan juga yang terpenting dekat kepada Sang Khalik. Kini aku tengah menikmati penambahan usiaku dengan penuh bijaksana. Aku juga mengisi sebahagian malam dengan tenggelam di atas sajadah dan merasakan kedamaian dalam relung hatiku.  

     
  • Foto Profil dari Marjohan Usman

    Marjohan Usman 10:20 am on 3 July 2011 Permalink  

    Kasihan…..Anak- Anak Tanpa Masa Depan 

    Kasihan…..Anak- Anak Tanpa Masa Depan
    Oleh: Marjohan
    Semua orang Minangkabau (orang Padang) pasti mengikuti garis keturunan ibu (matriachat) dan ibuku sendiri berasal dari Lubuk Alung. Nenekku memiliki sawah- ladang dan perumahan di tepi aliran Batang Anai, kira-kira 3 km dari pasar Lubuk Alung. Aku tidak tahu banyak tentang nenekku dan siapa serta bagaimana dengan anak-anak dari nenekku tersebut. Yang masih aku ingat adalah bahwa ibuku memiliki 8 orang bersaudara dan masing masing memiliki anak yang cukup banyak, berkisar 4 orang sampai sepuluh orang. Itulah kelemahan ibuku- dan juga kelemahan beberapa orang lain- yang tidak terbiasa memperkenalkan anaknya dengan anggota keluarga besarnya. Sehingga aku hampir hampir tidak banyak mengenal mereka, malah saat aku pulang kampung aku sendiri merasa sebagai orang asing di antara mereka.
    Andaikata aku dibesarkan di sekitar rumah nenekku, pastilah aku akan ikut tumbuh sebagai anak- anak yang juga kurang beruntung dalam memandang masa depan. Aku dan saudara kandungku dibesarkan di kota lain (Payakumbuh), dimana ayahku bertugas sebagai polisi. Aku beruntung bisa tumbuh di daerah perkotaan dengan latar belakang budaya yang cukup heterogen sehingga aku bisa memiliki motivasi hidup yang tinggi dan kompetisi belajar yang juga besar hingga aku bisa memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik dibanding familiku di daerah asal usulku- Lubuk Alung. Dimana sebagian besar kaum kerabatku tumbuh tanpa masa depan dan mereka cenderung memiliki pribadi yang rapuh- mudah putus asa.
    Ibuku mengatakan bahwa nenekku memiliki 8 orang anak dan masing-masing mereka memilki anak- anak yang banyak. Sayangnya perkawinan mereka semua hampir tidak bahagia. Pamanku yang paling tua menjalani hari-hari tua seolah-olah diasingkan dari keluarganya. Tatkala ia mengalami sakit pneumonia- paru-paru berair- maka semua anak-anaknya enggan untuk memelihara dan mengantarkan ayah mereka yang bertubuh lemah dan sakit sakitan ke tempat nenek ku. Ibarat kata pepatah “habis manis sepah dibuang”.
    Ibuku mengatakan bahwa pamanku, sewaktu muda cukup bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya, buktinya ia bisa membangunkan sebuah rumah yang cukup bagus buat istri dan anak-anaknya. Namun mengapa ia dibuang atau diasingkan di hari tuanya saat ia mengalami sakit hingga ia meninggal dunia dalam keadaan menderita dan kesepian.
    Aku rasa bahwa rasa kemanusiaan anak-anak perlu untuk ditumbuhkan. Anak-anak yang tidak terbiasa dilatih untuk mencintai sesama dan menyayangi sesama akan tumbuh menjadi pribadi yang tanpa hati- rasa cinta. Anak-anak yang tidak punya hubungan batin yang erat dengan ayahnya sejak kecil, ya akan tetap renggang hingga akhir hayat ayahnya. Aku rasa pamanku waktu muda- pada awal punya anak- kemungkinan lupa untuk membangun jembatan hati dengan anaknya. Barangkali ia cenderung memelihara karakter yang otoriter dan banyak marah dan serba memerintah, itulah bahwa akhirnya semua anaknya tidak memiliki rasa rindu pada ayahnya.
    Nasib pamanku yang ke dua juga tidak lebih baik dari yang pertama. Aku masih ingat bahwa pamanku yang ke dua cukup berkarakter pekerja keras- ia memiliki kecakapan sebagai tukang bangunan dan sebagai petani. Ia bisa membuatkan rumah yang cukup besar untuk istri dan anak-anaknya. Namun yang belum ia miliki adalah kemampuan berkomunikasi yang pas.
    Pamanku yang ke dua tersebut karakternya lebih baik walau tetap bersifat otoriter dalam berkomunikasi. Ia kurang memiliki kemampuan dalam memahami percakapan orang dan gaya berkomunikasinya kurang indah- bahasanya cenderung menghardik hardik dan membentak- bentak. Dalam urusan pendidikan anak, tentu saja ia tidak tahu sehingga rata-rata anaknya hampir hampir tidak ada yang tamat dari Sekolah Dasar. Nasibnya di usia tua juga cukup sengsara, karena istrinya jauh lebih muda dan sempat selingkuh dan menikah dengan pria lain. Akhirnya ia juga meninggal dalam pengasingan di rumah nenek.
    Pamanku yang ke tiga cukup beruntung karena hingga saat ini ia sangat rukun dengan istrinya, walau mereka tidak punya keturunan. Namun ia tidak begitu dekat dengan semua keponakanya, ia jarang dan malas berkomunikasi dengan keponakannya. Akhirnya kaum kerabatnya juga tidak memiliki rasa kangen dan juga cenderung membiarkan karakter individualisnya. Suatu hari ia sakit keras dan hampir tidak ada kaum kerabatnya yang datang untuk membezuknya. Itulah hidup ini secara tidak langsung penuh dengan sebab akibat. Bahwa ia cenderung diabaikan (ignored) oleh yang lain karena ia juga tidak acuh pada kerabat dekatnya.
    Tiga orang bibiku tidak pernah pergi ke kota dan tidak memperoleh ilmu yang cukup, maka persis wawasannya juga sempit dan miskin keberanian dan ilmu pengetahuan. Mereka menikah dengan pria-pria yang juga kurang terdidik dan berwawasan sempit. Hampir semua bibiku punya banyak anak. Yang paling sedikit, mempunyai 4 anak, itupun dua anaknya ada yang meninggal. Mereka hidup terlalu menyerahkan hidup pada garis nasib (hidup pasrah atau fatalistic) seperti aliran air. Ada apa gerangan ?
    Suami- suami bibiku tidak punya rencana yang hebat dalam hidup mereka. Mereka cuma berfikir bahwa hidup hanya sekedar butuh makan dan pakaian, maka perjuangan mereka dalam hidup hanya sekedar mencari satu suap nasi atau satu liter beras per hari. Namun begitu anak lahir, mereka tidak tahu cara menumbuh-kembangkan anak dan apa yang harus dibutuhkan anak. Para suami bibiku adalah orang-orang kecil dan pola fikirannya juga sangat kecil.
    Bibiku yang tua punya 7 anak dan suaminya hanya seorang petani kecil, hidup hanya mengandalkan hasil kebun. Ia tidak punya fikiran bisnis untuk menjual hasil kebunnnya, akhirnya ekonominya sangat minim dan layak dikatakan sebagai keluarga pra-sejahtera. Kenapa ? mereka hidup dalam rumah, yang cocok dikatakan sebagai gubuk, tanpa listrik, tanpa perabot dan fasilitas hidup yang layak dan menyantap makanan yang gizinya tidak memadai- mereka tidak kenal apa itu multi vitamin, apa itu susu dan apa itu makanan yang bergizi.
    Hidup mereka hanya bersahaja, untuk makan ya cukup dengan nasi yang ditemani dengan rebusan sayur dan lumuran cabe. Mereka tidak kenal bagaimana standar pendidikan dan standar kesehatan. Untuk sekolah ya sekedar bisa mengeja kalimat- bukan bisa membaca buku. Dan untuk kesehatan maka mereka tidak kenal apa itu istilah pola makan “empat sehat dan lima sempurna”. Dalam keluarga mereka tidak ada kata kata motivasi yang ada hanya kata-kata “menyuruh, melarang, memarahi, menghardik dan kata-kata pasrah- wah kasihan kami memang orang susah dan kami orang miskin”. Demikian bagaimana anak- anak bisa memiliki motivasi dalam hidup dan bagaimana mereka bisa mendidik anak-anak dengan lancer. Sehingga semua anak-anak mereka putus sekolah saat masih di bangku SD dan juga hidup dengan pola pasrah pada takdir/ nasib.
    Anak-anak mereka punya obsesi yang sangat praktis. Sebagian dari mereka membayangkan bahwa hidup enak adalah hidup di Jakarta atau di kota besar lainnya. Maka anaknya yang paling tua dengan modal nekad pergi ke Jakarta dan bermimpi untuk bias hidup enak. Namun, kenyataan kemudian, bahwa sudah puluhan tahun sang anak tidak pulang-pulang dan diperkrakan bahwa anaknya sudah jadi mayad dan jasad anaknya sudah terkubur dalam keganasan bumi Jakarta.
    Bibiku yang paling tua segera menjadi janda. Suaminya pencandu rokok dan pencandu minuman kopi. Ia adalah perokok maniak dan peminum kopi maniak. Menghabiskan 2 sampai 3 bungkus rokok per hari. Lucu ya…untuk pembeli telur dan ikan- mengaku tidak punya uang namun untuk membeli rokok cukup mudah- ya demikianlah pola hidup orang miskin. Kemudian ia punya pola minum kopi sampai 3 gelas tiap hari- tentu saja bisa menderita gagal ginjal oleh zat racun yang ada pada kopi. Ya akhirnya sakit parah- gangguan paru-paru dan gagal ginjal, karena pola hidup yang tidak sehat.
    Bibiku yang ke dua, juga menjadi janda. Suaminya kelewat sensitive dan orang-orang kampung juga usil dalam berbahasa- mereka paling gemar saling mengejek, saling mengkeritik dan saling menghina “Jadi suaminya hanya pintar b ikin anak dan bikin masalah” Tentu saja ejekan demikian bias membakar emosi dan bikin sakit hati. Miskinya gaya berkomunikasi- tidak ada bahasa yang santun- telah membuat hati saling terluka. Ya…bercerai dan tinggalah 5 orang anak dengan seorang ibu yang juga buta huruf dan buta keterampilan hidup.
    Anak-anak yang tumbuh dengan ibu sebagai single parent yang miskin pengetahuan dan ketermpilan telah menumbuhkan anak-anak bermental lemagh dan hidup tanpa masa depan. Mereka memandang hidup ini begitu suram “wah buat apa aku harus lahir ke dunia kalau ditakdirkan jadi orang sengsara”. Hidup mereka hanya mengerjakan hal-hal yang sederhana- mengumpulkan pasir dan kerikil dari dasar sungai Batang Anai buat dijual dengan harga murah dan mereka hidup tanpa moto, kecuali selalu dalam keadaan rendah diri. Beberapa di antara mereka tidak menikah karena tidak tahu cara mengatakan “I love you pada lawan jenis”. Atau lawan jenisnya juga kurang tertarik karena mereka tidak bisa mengubah penampilan dan menggunakan bahasa yang indah. Sungguh penampilan dan bahasa yang indah amat berguna dalam hidup ini.
    Sebenarnya nenekku tidak miskin karena ia mewariskan lahan tanah yang cukup luas- ada sawah dan ladang dalam ukuran cukup luas. Ada beberapa bidang tanah yang bagus untuk dikembangkan untuk ternak kambing atau ternak ayam/ itik. Namun lahan yang luas tidak ada artinya kalau ilmu dan wawasan kurang. Maka bagi mereka (kaum family) yang memiliki keberanian ya mereka pergi merantau ke metropolitan untuk menjadi buruh.
    Malah ada yang telah tinggal cukup lama di metropolitan, kemudian terpaksa pulang kampung. Ternyata mereka juga sengsara di metropolitan, katanya “Dari pada sengsara di negeri orang biarlah sengsara di negeri sendiri”. Andaikata ibu dan ayahkuku tidak hijrah ke daerah lain dan maka kemungkinan pola pikiran ku dan juga orang tuaku juga akan sama dengan mereka (familiku yang di kampung.
    Itulah aku merasa beruntung karena bisa hidup pada sebuah kota dengan lingkungan yang cukup heterogen. Sebetulnya kami- para anak anak dari sebuah keluarga- bisa jadi pintar, bukan terbentuk oleh pemodelan dari orang tua. Soalnya ibuku termasuk orang yang sangat otoriter dan pemarah. Dalam ia hanya menggunakan prinsip “menyuruh dan melarang”, pelanggaran atas disiplin yang ia bentuk sendiri akan dicambuk sebagai hukuman. Bagaimana dengan reward ? Reward atau pujian adalah hal yang sangat mahal. Dalam hidupku, orang tuaku mungkin tidak pernah mengajarkan dan memengucapkan kata “Maaf, terimakasih, dan kata kata pujian padaku”.
    Ayahku sendiri, sebagai presiden di keluarga, hanya sebagai pemimpin laizzes faire- pemimpin yang serba membolehkan atau masa bodoh. Ayahku hanya cuma tahu bahwa kami hanya butuh makan, pakaian dan kesehatan. Ia berprinsip pada anak-anaknya “Terserah kamu, mau jadi orang gede atau tidak. Namun jadilah orang yang hebat”. Ternyata sepenggal harapan dari ayahku “jadilah orang yang hebat” cukup berguna dalam menggugah semangat juang ku.
    Yang banyak menggugah semangat belajar dan semangat hidupku adalah faktor lingkungan dan bacaan yang sering aku konsumsi. Sampai sekarang aku merasa beruntung punya tetangga, dimana orang tua teman cukup peduli dengan makna pendidikan, aku keciprat kena pengaruh. Aku juga terlibat aktif dalam kelompok belajar dengan teman, kami juga punya aktivitas dengan teman-teman tetangga- ikut latihan karate/ dan silat (namun aku sering bolos karena latihannya malam-malam dan aku sering diserang oleh rasa kantuk), aku juga ikut dalam kegiatan karang taruna, aku senang bisa keliling RT buat mengumpul sumbangan. Dan setiap hari minggu pagi kami pergi ke lapangan sepak bola POLIKO untuk berolah raga. Aku bisa lari sepuluh kali keliling lapangan, itu berarti aku bisa lari sejauh empat kilo meter.
    Aku juga beruntung bahwa ayahku ternyata juga suka membaca, akibatnya aku menyenangi bacaan. Akhirnya aku punya majalah sendiri yang aku beli tiap minggu- ada majalah Hai, Majalah Sikuncung dan majalah Kawanku. Lewat membaca aku punya sahabat pena dan kemampuan menulisku juga meningkat.
    Aku menjadi gemar menulis, menulis cerpen, kisah nyata dan opini. Aku coba-coba menulis dan mengirimnya ke koran- koran dan majalah. Ya ada yang dimuat dan banyak yang ditolak, namun aku tidak patah semangat dan malah selalu menulis. Namun sejak tahun 1992 hingga sekarang tulisanku sudah puluhan atau ratusan yang sudah aku tulis dan dipublikasikan. Malah dua buah buku ku juga sudah terbit untuk skala nasional.
    Aku juga memperoleh pengaruh dari orang orang dewasa yang ada di mesjid- mereka adalah para pengurus mesjid. Walau aku tidak memperoleh banyak pengaruh dari orangtua sendiri di rumah, namun orang-orang dewasa lain yang memberi aku perhatian, mengaggap aku sebagai anak mereka sendiri- mengajakku bercerita dan bertukar fikiran. Kadang kadang aku juga rindu dengan mereka. Namun aku tidak mungkin berjumpa dengan mereka, karena mereka mungkin sudah berada di alam sana- sudah meninggal dunia. Moga moga Tuhan (Allah) menyayangi mereka.
    Tulisan ini aku tulis bukanlah untuk mengekpose tentang kekurangan keluargaku, tetapi aku ingin berbagi dengan banyak pembaca bahwa betapa banyak keluarga lain yang nasib mereka seperti nasib keluarga ku. Dibalik itu dapat dipetik kesimpulan bahwa betapa hidup ini butuh persiapan, rencana dan motivasi. Bahwa menikah dan punya keluarga itu perlu rencana dan butuh tanggung jawab. Bahwa siapa saja yang mau menikah perlu memiliki ilmu tentang berkeluarga, ilmu mendidik keluarga dan ilmu agama dan kesehatan. Bahwa betapa kekayaan fikran dan keterampilan hidup lebih berharga dari kekayaan alam.
    Motivasi dan bahasa yang santun juga sangat dibutuhkan dalam hidup. Kemudian hidup kita bisa berubah melalui bacaan, melalui model atau contoh. Dan yang perlu juga untuk dimiliki adalah semangat juang dan semangat otodidak- atau self learning- dalam hidup. Sungguh hidup terasa indah bila kita memiliki kekayaan ilmu, kekayaan bahasa, kekayaan keterampilan, kekayaan spiritual dan juga kekayaan social/ kekayaan dalam bergaul.
    .
     
  • Foto Profil dari Marjohan Usman

    Marjohan Usman 7:06 pm on 30 June 2011 Permalink  

    Perjumpaanku yang Terakhir Kali Dengan Ayah 

    Perjumpaanku yang  Terakhir Kali Dengan Ayah
    Oleh: Marjohan
    http://penulisbatusangkar.blogspot.com
                Sudah 8 tahun aku tidak berjumpa lagi dengan ayahku. Saat itu aku ditelpon agar segera menuju rumah sakit M.Jamil Padang. Sebelumnya aku juga telah  lama tidak berjumpa dengannya yaitu ada selama sepuluh tahun pula. Itu berarti bahwa aku kehilangan figure ayah selama belasan tahun dan berarti  masa anak-anak dan masa remajaku hampa dari sentuhan dan kasih sayang seorang ayah. Apakah ayahku seorang pria yang sibuk ? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menjawabnya.
                Ternyata aku masih punya memori dengan ayah. Saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar aku dibawa ke Padang, ke kampung ayah. Di Koto tangah Lubuk Minturun- Padang. Saat itu transportasi tidak begitu lancar, aku dan ayah berjalan kaki dari pasar Lubuk Buaya menuju Ikur Koto, terus ke Rumah nenek jauh sekali rasanya…dibalik hamparan perkampungan orang dan sawah. Yang aku ingat adalah kebahagiaan di awalnya saja, namun dalam perjalanan aku merasa tersiksa karena kakiku merasa capek dan pegal-pegal. Aku harus berjalan mengikuti langkah ayah dengan kakinya yang panjang.
                Aku hampir menangis dan hampir rubuh karena harus berjalan menuju ujung jalan yang amat jauh. Aku ingin saat itu bisa naik sepeda atau bisa digendong oleh ayah. Namun aku tidak terbiasa bermanja- manja. Akhirnya aku (kami) sampai juga di rumah nenek. Di sana aku jadi tahu tentang cerita  ayah dan saudara- saudaranya.
                Ayah adalah anak laki-laki satu-sarunya dari ia memiliki 3 orang saudara perempuan. Diperkirakan ayah termasuk anak yang manja. Namun ternyata tidak, malah waktu kecil ayah termasuk anak paling bandel. Hingga ia pernah diusir atau lari dari rumah.
                Suatu hari ayah pulang sekolah dengan perasaan lapar. Namun nenek mengatakan bahwa tidak ada makanan buat dimakan. Diam-diam ayah menjumpai ada makanan dan gulai rendang tersembunyi. Merasa dibohongi, maka ayah menghabiskan semua gulai tadi kemudian dengan rasa sakit hati ayah melumuri sprei kasur dengan saus/ cabe dan sisa makanan. Melihat karakter  ayah yang demikian, nenek juga marah besar. Sehingga akibatnya ayah lari ke desa lain dekat  kota Padang Panjang.
                Ayah tumbuh jauh dari orang tuanya. Dalam pelarian ayah memperoleh banyak pengalaman. Ia pernah belajar sebagai pandai emas atau tukang emas  di kota Padang Panjang. Diceritakan bahwa saat muda, ayah juga pernah ikut pergi berdagang ke Tanjung Pinang- Kepulauan Riau. Tentu saja ayahku harus berperilaku baik selama tinggal dengan orang lain.
                Dalam masa remaja, ayah mencoba untuk pulang ke kampungnya. Ternyata semua familinya sudah kangen dengan dia. Kedatangan ayah, sebagai anak yang hilang, disambut dengan penuh suka  cita. Selama tinggal di kampungnya lagi – dengan nenek dan kakek, tentu ayahku tidak perlu bekerja keras, karena kebutuhan makan dan minum bisa diperoleh dari orang tuanya.
                Dalam masa remaja, tentu saja ayahku memiliki teman khususnya. Dan yang aku masih ingat bahwa ayah jatuh cinta dengan gadis satu kampungnya yang bernama “Banir”. Berarti ayah nikah dalam usia yang sangat muda.  Ayah memperoleh seorang anak perempuan. Namun aku yakin, bahwa ayah tidak memperlihatkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan juga sebagai suami. Barangkali itu adalah gara-gara factor ekonomi atau keuangan. Ya akhirnya ayah ku bercerai dari istri pertamanya dan ia segera menjadi duda dalam usia remajanya.
                Dasar  pria yang gampang jatuh cinta, ayah jatuh cinta lagi dengan seorang gadis. Gadis tersebut bernama “Nurlaya” yang juga berasal dari Padang. Perkawinan ayah yang kedua tidak seumur jagung, lebih lama dari pernikahannya yang pertama. Agaknya sebagai seorang suami, ayah  belum bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga dan pasti mereka sering cekcok dan ayah orangnya bersifat keras kepala dan sensitive, itu karena ia sempat tumbuh dalam pemanjaan namun ttidak dilatih/ diajari tanggung jawab. Maka suatu hari ayahku dan istri keduanya naik kereta api menuju Bukittinggi. Selama dalam perjalanan mungkin mereka penuh cekcok. Klimaks  pertengkarannya terjadi di Kayutanam, kereta api berhenti dan ayahku “mengatakan good bye” selamat tinggal selamanya untuk perkawinannya yang kedua. Begitu mudah bagi ayahku menikah, begitu muda bercerai dan meninggalkan/ melupakan anak-anaknya.
                Ya kembali ayahku bertualang dalam hidupnya. Akhirnya ayah ikut-ikutan sebagai tentara pemberontak melawan pemerintahan pusat, ia pro dengan pemerintahan Ahmad Hosen untuk membentuk negara PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Ayahku sampai ke Lubuk Alung. Di sana ia jatuh cinta lagi untuk yang ke tiga kalinya dengan seorang wanita. Wanita tersebut adalah ibuku sendiri.
                 Saat itu ibu berstatus masih punya suami, seorang tentara. Namun sudah satu tahun tidak pulang-pulang karena pergi bertugas ke daerah Jambi. Wah…ibuku terlibat cinta dengan seorang pria, kelak sebagai calon ayahku. Mereka jatuh cinta dan tentu saja semua family tidak setuju- karena status ibu masih sedang bersuami-  hingga akhirnya berita cinta   segitiga ibu tercium oleh suaminya. Akhirnya ibu diberi surat cerai- diberi talak tiga. Ibu sangat bersedih dan ibarat berjalan di awang-awang, namun ibu  juga sangat gembira dengan kekasih barunya- yaitu calon ayahku.
    Tampaknya ibu dan ayah tidak bisa dipisahkan, ya ada gula da semut rupanya. Mereka menikah dan selanjutnya hidup sebagai suami istri. Saat itu ibuku juga telah punya 3 anak dari perkawinan sebelumnya- namun ibu juga menikah dalam usia yang amat muda. Anaknya yang tua saja memanggil “kakak” padanya. Saat itu ayah berhenti sebagai tentara pemberontak, karena tidak ada jaminan financial dan ayah juga sebagai pria pengangguran. Namun ibuku termasuk wanita yang kreatif dan mandiri. Ia mengajak ayah untuk berdagang makanan dan pada hari-hari senggang menjadi nelayan di sepanjang aliran sungai “batang anai”.
                    Kata ibu bahwa saat aku lahir, rezki mereka melimpah. Kalau berdagang ya…laris, kalau menangkap ikan…hasilnya berlimpah. Kata ibu bahwa saat aku lahir ..ayah lulus menjadi polisi. Itulah maka aku memperoleh perlakuan sedikit ekstra baik oleh ibu. Aku tidak boleh dimarahi terlalu kasar oleh ayah.
    Akhirnya ayah diangkat menjadi polisi di Resor Kepolisian 303  Kota Payakumbuh dan kami semua diboyong ke sana. Kehidupan pun berobah. Ibuku juga tetap menjadi wanita yang mandiri, ia mengasuh kami dan juga membantu karir ayah sebagai polisi. Ibu cukup pintar mengelola keuangan, walau pangkat ayah kecil, kami tidak pernah kekurangan uang. Ibu punya ternak unggas- itik dan juga ternak ayam. Kalau ada uang, ibu paling senang menabung dalam bentuk emas. Kalau berpergian, aku sering melihat tubuh ibu dihiasi oleh banyak perhiasan emas.
                     Dalam hidupnya, sebagai polisi berpangkat rendah, ayahku cukup pintar. Ia juga membuat usaha bisnis dengan teman-temannya. Sambil bertugas sebagai polisi, ayah juga berbisnis ternak ayam, bisnis daging sapi, bisnis penebangan kayu untuk diekspor. Waktu aku kecil aku melihat bahwa ayahku juga memiliki sebuah truck, mobil Chevrolet dan rice milling, namun aku aku tidak pernah tahu bagaimana caranya ayah memperolehnya.
                    Saat aku kecil hingga remaja, aku melihat ayah jarang di rumah. Ya kalau di rumah ia cuma banyak tidur, pantaslah adik-adiku juga banyak. Sekali aku ingat, aku diajak ayah naik sepeda motor sejauh  250 km. Saat itu merupakan sebuah perjalanan yang eksotik. Namun aku paling bosan menunggu ayah yang ngobrolnya dengan temannya kelewat lama. Aku juga senang kalau diajak ayah ke tempat teman-temannya karena aku pasti bakal dikasih oleh-oleh dan uang yang banyak.
                    Ada satu hal yang aku suka protes. Yaitu bahwa ayah kurang mendukung proses pembelajaranku di rumah.Padahal aku sendiri anak yang sangat rajin dalam belajar Suatu hari aku tengah asyik belajar di rumah dan ayah dengan grupnya datang hendak bermain domino. Aku pasti terganggu dengan suara dan suasana yang buka budayaku, lantas aku protes, aku lempari atap rumah dengan batu bata, agar mereka berhenti mengganggu ku. Sebagai protesku yang lain adalah aku mengempeskan motor- motor teman ayahku, agar mereka jera datang dan menggangguku dalam belajar. Itulah ayahku tidak pernah marah pada ku hingga ia pindah tempat ke tempat lain.
                   Ternyata ibuku lebih tua usianya beberapa tahun dari ayahku dan api cinta mereka mulai meredup dan rumah tangga mereka sering cekcok. Hari-hari yang ku lihat dan ku dengar adalah percekcokan ayah dan ibu. Pernah ayahku marah sambil mengacungkan revolver (pistol) pada ibu. Dan aku pun juga pernah main main pistol dan secara tidak sengaja meletus….dor… dan untung aku tidak menembak kakakku. Sejak itu, pistol dijauhkan dari jangkauanku.
                  Maka aku dan saudaraku yang lain dibesarkan dalam suasana rumah yang penuh cekcok- broken home-  sepanjang hari. Aku sendiri selama dua tahun lari dari rumah dan memilih tinggal jauh dari rumah dan begitu juga dengan kakakku. Untung  saja nilai pelajaran ku tidak begitu jelek dan tidak terjebak dalam menghisap obat terlarang. Malah walau aku berasal dari rumah yang broken home, aku pernah beberapa kali juara di kelas dan selebihnya masuk nilai tujuh besar.
                    Hubungan cinta ayah dan ibu makin genting, karena ada wanita lain dalam hidup ayah. Pernah suatu kali ibuku lari ke Jakarta dan menelantarkan kami anak-anaknya. Namun family yang di Jakarta memberi ibu  nasehat agar bersabar dan itu  juga demi anak-anak- biarlah ayah berkarakter demikian asal keuangan tetap lancar.
    Masa depan dan studiku ku saat itu merasa terancam, namun untung ibu pintar menabung dan ia memiliki cadangan emas untuk membiayai kuliahku. Aku takut memilih jurusan dan universitas yang bakal menghabiskan banyak dana dan waktu yang lama. Aku memilih kuliah di Padang saja, dan batal untuk kuliah ke pulau Jawa. Suatu hari ibu dan ayah bakal bercerai dan kami bakal berpisah-pisah dalam pengasuhan berbagai family. Hubungan cinta ayah dengan wanita lain makin menggila. Ia malah pergi jauh dari rumah dan hidup bersama wanita yang baru. Demi keselamatan pendidikan aku menjadi masa bodoh dengan urusan pertengkaran  ayah dan ibu.
                     Akhirnyya aku kuliah di Universitas dan juga bias mengembangkan diri agar aku bias mandiri kelak bila selesai kuliah. Aku bekerja sambil kuliah, menjadi pemandu wisata, memberi   lest privat bahasa Inggris untuk anak-anak orang yang berduit. Untuk keuangan aku tidak memperoleh kesulitan. Aku memperoleh uang yang cukup dari orang tua dan aku juga dapat uang sendiri, aku bisa menabung dan aku beli cincin emas sebagai tabungan.
                     Perkawinan ayah dan ibuku kandas sudah, ibuku sering sakit dan sengsara- ibu sering kujumpai menangis dan meratap sebagai istri yang dibuang oleh suaminya. Namun itu sudah menjadi pemandangan biasa bagiku- kadang kadang aku juga membujuk ibu bahwa tidak ada gunanya larut dalam kesedihan. Aku bisa melepaskan diri dari keruwetan rumah tangga. Sejak ayahku punya  wanita simpanan dan suka cekcok dengan ibu maka  aku  merasa  kehilangan idola/ figure ayah. Ada pengaruhnya terhadap jiwaku, pada mulanya aku sedikit jadi sulit jatuh cinta. Namun aku menguasai emosiku hingga aku bisa memperoleh cinta lagi dari seorang gadis  yang cantik menurutku namun punya karakter yang sederhana.
                    Akhirnya bantuan keuangan ayah untuk ibu nyaris putus. Sehingga ibu ku pernah menjadi buruh pada rumah tetangga. Untung aku segera lulus dari Perguruan Tinggi dan segera punya pekerjaan. Gajiku aku tabung dan juga aku gunakan untuk membantu ibu. Ibu akhirnya ditinggal pergi oleh ayah. Aku melarang ibu untuk berduka dan menangis, karena ibu masih punya anak- anak yang baik dan bisa mengabdi ke orang tuanya.
                    Ibuku menjadi wanita yang nestapa dan memutuskan kembali ke kampung ke Lubuk Alung. Ia berniat untuk mengisi hari-hari dan mengobat hatinya yang terluka gara-pgara cinta ayah yang lenyap dari kalbu ibu.  Ibupun  bisa menjadi tegar sekali dalam hidupnya, aku tiap bulan datang berkunjung an ikut berbagi rezki dengan ibu. Ibu bersyukur, walau cintanya hancur namun lima orang anak anaknya bisa memperoleh masa depan, bisa bekerja dan juga lulus dari perguruan tinggi.
                    Kami semuanya patungan untuk menghidupi ibu dan membiarkan ayah dan gajinya untuk bersenang- senang di tempat kerajaan cintanya. Sejak masa remajaku hingga aku menginjak dewasa aku tidak lagi berjumpa dengan ayahku selama belasan tahun- kami tidak ingin mencari ayah dan sudah mengikhlaskan ayah untuk hidup senang pada istana cintanya yang baru. Dari dalam hati bahwa ternyata aku cukup rindu dengan cerita- cerita ayah. Namun suatu hari aku memperoleh berita/  telepon “Harap segera datang” sangat penting. Bahwa ayah tersungkur dan koma, dilarikan ke rumah sakit M.Jamil Padang.
                     Kami segera berkumpul menuju rumah sakit. Perjalananku dan saudaraku yang lain dengan mobil travel terasa lambat dan sunyi menuju rumah sakit. Kami tiba di gerbang rumah sakit setelah maghrib. Aku mencari tahu di mana posisi  ayahku “Kamaruddin Usman”. Akhirnya aku menemui ayah pada pada sebuah ruangan ICU, aku diizinkan masuk. Aku mendapati ayahku dalam keadaan koma. Ajaib bahwa saat kami datang/ masuk  ayah sempat membuka matanya melihat kami dan menangis namun setelah itu mata ayah terpejam untuk selanjutnya. Ayah masih bernafah dengah susah payah, dibantu oleh oksigen luar. Kadang-kadang air matanya bercucuran- barangkali ayah menyesal yang mendalam- namun kami harus memafkan dan kami tidak marah dan dendam pada ayah. Buktinya kami masih datang dan member ayah ciuman.
                    Aku berada di rumah sakit hampir sepuluh hari. Itu berarti ayahku dalam keadaan koma juga sudah sepuluh hari. Kami yakin bahwa ayah tidak bakal sembuh lagi maka kami memberi  khabar kepada family di  kampung ayah bahwa kalau tiba khabar jelek “ayah meninggal” maka harap segera dipersiapkan kuburan buat ayah disebelah kuburan nenek.
    Akhirnya ayah dinyakan meninggal dunia. Aku bingung apalagi saat itu juga ada anak kecil usia 10 tahun  menangis mendekati mayat ayahku, aku berfikir “Siapa sih bocah kecil yang juga ikut menangis”. Ternyata ia adalah bocah kecil hasil cinta ayah dengan wanita simpanannya. Aku akhirnya memeluk bocah kecil tersebut dan ikut  menghiburnnya bahwa aku adalah kakak satu ayah dengannya. Aku usap air matanya dan kami bawa jasad ayah ke kampungnya.
    Hari-hari terasa sunyi. Setelah belasan tahun tidak berjumpa dengan ayah dan bercanda dengan ayah maka aku jumpai saat sudah mau sekarat terbujur jadi mayat. Sore itu langit mendung, aku ikut mengantarkan jasad ayah ke dalam kuburannya di Desa Lubuk Minturun dekat Padang. Aku amat sedih dengan kepergian ayah. Aku juga ikut mengakat dan meletakan jasad ayah ke dalam liang lahatnya. Tubuh ayah masih berisi kekar dan gagah. Aku mengingat- ingat hari indah bersama ayah dan melantunkan doa pada Sang Khalik buat memafkan ayahku. “Tuhanku…maafkanlah ayahku….sayangilah ayahku…” Aku ikhlas sekali melepas ayah hingga airmataku dengan mudah meluncur membasahi pipiku. Saat itu dalam mpenghujan dan tiba-tiba hujan turun lebat, membasahi bumi dan airnya tumpah ke dalam kuburanm ayahku. Aku dan saudaraku yang lain tetap menyelesaikan penimbunan tanah kuburan ayahku- air mataku lenyap bersama derasnya air hujan.
                    Malam itu aku tidak bias tertidur. Fikiranku melayang jauh bersama memoriku, pengalaman indah tentangku dan ayahku bergulir lagi. Walaupun bagaimana karakter ayahku, ia adalah tetap pahlawan terbaik bukan aku dan saydara- saudaraku. Aku ajak ibu untuk memaafkan ayah. “Ibuku maafkanlah ayah karena aku dan saudaraku yang lahir adalah karena adanya engkau dan ayahku”. Aku tidak pernah tahu bahwa apakah ibu memaafkan ayah atau tidak namun buatku ayah adalah pahlawan ku dan aku tetap mencintai ayahku.

     
  • Foto Profil dari Marjohan Usman

    Marjohan Usman 9:04 pm on 27 June 2011 Permalink  

    Naskah Buku: ROAD of HOPE Menggapai Harapan 

    Naskah Buku

    ROAD of HOPE
    Menggapai Harapan
    By: Marjohan, M.Pd

    Kata Pengantar

    Buku kecil ini merupakan ekspresi dari pemikiran serta pengalaman penulis yang dituangkan ke dalam bentuk artikel. Tulisannya banyak terbit pada beberapa koran di Sumatera seperti pada Harian Singgalang, Haluan, Serambi Pos dan Sriwijaya Pos. Tulisan- tulisan tersebut memberi inspirasi dan highlight (pencerahan) bagi pembaca.
    Penulis memberi judul buku ini “Road of Hope- Menggapai Harapan”. Sesuai dengan judulnya bahwa buku ini mengajak para pembaca untuk bangkit dari mimpi dan segera berbuat untuk menggapai harapan. Buku ini sebaiknya dibaca oleh para guru, orang tua, pelajar, mahasiswa dan siapa saja yang tertarik untuk segera menggapai mimpinya. Tentu saja dalam penulisan, masih terdapat kesalahan di sana-sini dan penulis dengan senang hati menunggu saran dan kritikan yang membangun dari pembaca. Penulis menunggu saran dan kritik pada alamat email : marjohanusman@yahoo.com, akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak.

    Batusangkar, 10 Juli 2011

    Marjohan, M.Pd

    Daftar Isi

    1. Percepatan Dalam Belajar

    2. Belajar Dengan Ceria

    3. Hidup Butuh Konsep

    4. Parenting Dalam Keluarga

    5. Mandiri Dalam Belajar

    6. Mendidik Dengan Tepat

    7. Membentuk Karakter

    8. Mengoptimalkan Home Schooling

    9. Tanggung Jawab

    10. Timbang Rasa

    11. Salah Asuh

    12. Perasaan Ditolak

    13. Gaya Hidup Hedonismee

    14. Karakter Jalan Pintas

    15. Mengaktifkan Motivasi

    16. Merajut Kualitas Pendidikan

    17. Bukan Sekedar Ranking Satu

    18. Hidup Perlu Visi

    19. Cerdas Akademis Plus

    20. Tidak Menjadi Bangsa Pemarah

    21 Negara- Negara Berkualitas

    22. Semua Jurusan Sama Bagusnya

    23. Say no to “ Stress”

    24. Gaya Hidup dan Kompetensi

    25. Mengapa Kecerdasan Kita Menciut

    26. Lima Kekuatan Untuk Lebih Cerdas

    27. Mengapa Justin Bieber Lebih Ngetop

    28. Siswa Desa Juga Bisa Jadi Doktor

    29. Suasana Yang Menyenangkan

    30. Sarjana Yang Rendah Hati

    Daftar Pustaka

    Tentang Penulis

    Marjohan, M.Pd adalah guru SMA Negeri 3 Batusangkar, sekolah Program Pelayanan Keunggulan Kabupaten Tanah Datar dan penulis freelance pada Koran Singgalang, Haluan, Serambi Pos dan Sriwijaya Pos. Ia pernah menulis pada journal speleologie (Toulouse, Perancis), juga telah menulis buku dengan judul “Generasi Masa Depan- Memaksimalkan Potensi Diri Melalui Pendidikan (Penerbit: Bahtera Buku, Jogjakarta) dan “School Healing Menyembuhkan Problem Sekolah (Penerbit: Insan Madani, Jogjakarta). Ia menikah dengan Emi Surya, memiliki dua orang anak: Muhammad Fachrul Anshar dan Nadhilla Azzahra. Marjohan dapat dihubungi melalui email: marjohanusman@yahoo.com dan tulisan-tulisannya dapat dijumpai pada berbagai situs internet. 
     
  • Foto Profil dari Marjohan Usman

    Marjohan Usman 11:17 am on 23 June 2011 Permalink  

    “Mengapa Hatiku Terasa Sengsara ?” 

    “Mengapa Hatiku Terasa Sengsara ?”
    Oleh: Marjohan Usman
    (http://penulisbatusangkar.blogspot.com)

    Kira-kira apa kelebihanku ? Suatu hari ada sekelompok wisatawan asal Amerika salah jalan di Payakumbuh. Mereka ingin pergi  menuju Pakan Baru. Aku segera mendatangi mereka dan menuntun mereka hingga sampai ke jalan utama agar  memperoleh kendaraan menuju kota Pakan Baru. Mereka mengatakan bahwa aku orang yang sangat  “hospitality”. Beberapa waktu kemudian juga ada dua orang wisatawan asal Australia “Craig dan John” yang juga salah  memilih tempat wisata. Aku mendekati mereka dan  mengatakan bahwa mereka lebih baik memilih tempat wisata yang tepat.  Aku juga memberi alternative kalau mau berlibur ke daerah ku- Batusangkar, hingga ke duanya memilih untuk berlibur ke desa-ku pada hari berikutnya.

    Keesok harinya mereka sampai ke alamat ku. “ Kok kamu berani memutuskan berlibur di desa saya, apa tidak takut kalau ternyata saya adalah teroris ?”. Tanyaku. “Tidak, saya membaca dari wajahmu bahwa kamu adalah orang baik dan hospitality “. Jawab Craig dalam bahasa Inggris.

    Oke,  baiklah kalau begitu. Dan keduanya aku antarka ke homestay, dekat rumahku. Dan selanjutnya aku ajak mereka jalan jalan dan memperkenalkan budaya serta geografi seputar rumahku.  Mereka juga pergi berlibur berdua ke daerah Singkarak dan Maninjau atas petunjukku. Agar tidak repot dalam perjalanan, mereka menitipkan beberapa barang berharga bersamaku. “Wah mengapa anda percaya saja menitipkan barang-barang pada saya ?”. Tanyaku. “I can read your mind that you are good person”.

    Mereka hanya berlibur beberapa hari saja dan kembali memutuskan pergi ke Australia. Saat berangkat mereka  menyerahkan  oleh-oleh buatku, dan aku yakin isinya pasti dollar Australia. Aku tidak menerimanya “No thanks, don’t submit it to me, as you are away of your country and you need financial”. Aku tolak hadiah yang ia berikan dengan halus karena aku tahu bahwa  mereka harus menghemat uang.  Namun mereka berdua kaget karena katanya akulah orang yang ia temukan “menolak” dollar yang diberikannya. Ya aku tahu bahwa mereka masih mahasiswa, jauh dari negaranya dan mereka butuh uang. Lagi-lagi mereka mengatakan bahwa aku orang nya “hospitality”.

    Untuk selanjutnya Craig Pentland telah menjadi teman ku, malah sudah aku anggap keluarga sendiri. Ia pun sering datang pada tahun-tahun berikutnya. Ia bercerita banyak tentang aku, sumatera dan Indonesia pada orang tuanya. Sehingga kedua orang tuanya “Joan dan John Senior” juga datang berlibur ke Sumatra ke tempatku. Keduanya aku tunggu di bandara Internasional Padang dan kami naik taxi menuju Batusangkar.

    Keluarga John Pendland ini juga senang dengan perlakuanku. Aku tahu bahwa orang-orang asing menghargai hospitality ini. Hospitality tentu tidak bisa diukur dengan materi. Namun ketika mereka bertanya apa yang aku butuhkan, maka aku menjawab bahwa keluargaku butuh peningkatan bahasa Inggris. Sehingga Craig dan orangtuanya, John Pentland, selanjutnya sering mengirimi aku oleh-oleh sampai seberat 5 Kg, yang mayoritas isinya adalah buku-buku bagus. Tahun berikutnya Craig datang dengan girl-friendnya. Aku mengusulkan bahwa mereka lebih baik menikah kelak. Aku tidak berfikir tentang usulanku itu diterima, hingga mereka memutuskan menikah dengan dengan girl friendnya yang bernama Norjana Binti Ibrahim- gadis Melayu Singapore. Mereka menikah di Singapore dan aku juga diberi undangan untuk hadir ke sana.

    Selain warga Australia, aku juga punya teman dari  negara lain yang sering berlibur bersama ku. Mereka adalah Louis Deharveng, Anne Bedos, Francois Brouquisse, Francois Beluche, Alexandra dan ada beberapa orang lagi dari Eropa dan USA.  Buat apa mereka datang berulang-ulang untuk berlibur. “Ya karena alam Sumatera indah dan hospitality yang menjadi karakter ku”.

    Hospitality itu tidak saja merupakan karakterku namun juga telah menjadi karakter banyak orang Indonesia. Aku sendiri merasakan bahwa hospitality yang aku miliki adalah dalam bentuk kemampuan “bersimpati”. Ya memang bahwa aku suka bersimpati pada semua orang.

    “Bersimpati itu maksudnya adalah memahami fikiran dan perasaan seseorang sebagaimana adanya”. Kemampuan bersimpati membuat aku jarang bermasalah dengan orang lain. Sejak karir  mengajar atau menjadi guru, aku rasanya tidak pernah punya masalah dengan semua anak didik. Apakah mereka pintar, nakal, cerewet, suka ngambek… semuanya bisa beradaptasi denganku. Aku pernah ditanya oleh Aulizul Suib (wakil Bupati Tanah Datar) saat launching buku ku yang berjudul “School Healing Menyembuhkan Problem Pendidikan” tentang siswa yang nakal. Dan aku jawab bahwa menurutku tidak ada siswa yang nakal. “Yang ada adalah anak yang mengalami skin hunger- kulit yang butuh sentuhan dan kehangatan hati seorang guru”. Dan semua hadirin bertepuk tangan mendengar responku.

    Kemampuan bersimpati yang berlebihan terbentuk oleh pengalaman hidupku. Sebagaimana aku terlahir dari keluarga yang sangat besar. Sebelum menikah dengan ibuku, ayahku juga pernah   menikah dengan dua orang wanita sebelumnya dan mereka memperoleh 3 orang anak. Dan ibu ku juga demikian, sebelum dia menikah dengan ayah, ibu juga pernah menikah dua kali dan juga memiliki tiga orang anak. Dalam perkawinan barunya, ayah dan ibu ku, aku adalah anak yang kedua dan dalam  perkawinan mereka memiliki 6 orang anak.

    Ayahku seorang polisi dan  karena punya banyak anak, ia sibuk berbisnis di luar dan ibu ku sibuk pula mengurus anak-anak yang banyak. Sejak aku kecil, aku jarang sekali diajak ayahku jalan-jalan, kecuali diakhir tahun. Aku pernah keliling Sumatera Barat dan juga pergi ke Pekan Baru saat ayah memiliki mobil Chevrolet. Namun aku merasa ada yang hilang. “Aku kehilangan kasih sayang dari ayah dan ibuku”. Ayahku hanya mampu member  aku uang jajan yang jumlah agak lebih, namun yang aku butuh adalah aku bisa bermain-main bersama ayahku. Dan ibuku juga tidak pernah mengatakan “I love you” pada ku dan anak-anak yang lain. Itu karena ia capek mengurus rumah dan anak-anak yang jumlahnya banyak. Sebagai anak kecil, aku sering menangis dan meratap sambil menjauhkan diri dan bermohon agar aku memperoleh rasa cinta.

    Karena masa kecilku terasa kurang bahagia, aku menjadi orang yang mudah rapuh dalam perasaan. Aku beruntung punya pengalaman indah di luar rumah. Tetangga dan familiku yang lain berkata bahwa aku adalah anak yang santun dan baik. Hingga kemana aku pergi aku diterima oleh banyak orang. Aku masih ingat saat masih kecil aku diajak oleh keluarga lain untuk ikut kekampung mereka. Aku  senang sekali, rumahnya dekat kaki bukit, di sana ada kincir dan ada sawah. Aku diberi kebebasan untuk bereksplorasi dan suatu ketika aku terjatuh ke dalam sawah dan mereka segera memberiku perhatian “Oh tidak apa-apa sayangku, ayo mari pulang dan kita ganti pakaian kotor ini”. Kalbu ku terasa sejuk mendengar kata kata cinta dari keluarga itu. Sampai sekarang akupengalaman indah tersebut masih berbekas dan  aku sering berfikir tentang “Siapa orang baik tersebut, apa ia masih hidup dan dimana negeri itu kini ?”.

    Karena aku sempat menderita skin hunger- yaitu kulitku yang rindu dengan belaian kasih sayang dari orang tua, maka aku tumbuh menjadi orang yang suka bersimpati. Aku tidak ingin orang-orang merasa kesepian karena hampa dari rasa kasih sayang. Suatu ketika aku punya tetangga baru yang bekerja di kantor pos dan giro. Mereka adalah keluarga Khatolik dari Lampung. Aku senang untuk bermain-main ke sana. Hingga aku sudah menjadi bagian dari keluarganya, di sana mereka memberi aku rasa cinta dan rasa damai. Namun aku sangat sedih dan kehilangan yang mendalam saat keluarga tersebut pindah lagi ke Lampung.

    Perasaan sedih dan kehilangan yang mendalam inilah yang kerap datang dan membuat aku sengsara. Saat aku bersekolah di Sekolah Dasar dan di SMP, aku juga memiliki banyak teman-teman yang amat baik. Aku sendiri pernah membawakan coklat buat mereka dari rumah. Aku ingin selalu bermain dan dekat dengan mereka setiap saat, karena di sana ada rasa tenang dan damai. Namun tiap kali aku dan mereka harus berpisah maka inilah yang membuat aku menjadi sangat sengsara dan menderita. Aku takut berpisah dan jauh dari mereka.

    Saat aku duduk di bangku SMA, rasa kesepian ku makin mudah kambuh- aku jadi ciut lagi. Dari luar aku memang tampak selalu ceria dan tertawa namun hatiku sering menderita. Orang tuaku memang  selalu  memberi  aku kebutuhan sandang – pangan dan uang jajan yang bisa lebih dari cukup. Namun ada yang selalu hilang dari mereka yaitu aku tidak pernah merasa memperoleh “kasih sayang”. Aku rindu mereka mengatakan “I love you” padaku.

    Mereka juga tidak bersalah karena ayah dan  ibu ku juga tidak tahu cara mengatakan  “I love you”  satu sama lain. Mereka pun sering bertengkar dan perkawinan mereka sempat terancam bubar hingga aku menjadi remaja yang sangat gelisah dan aku menjadi pendiam. Itupun terbaca oleh guru dan teman-temanku di sekolah “Kenapa Joe sekarang kok jadi pendiam”. Dan aku tidak mungkin mengekspose problem yang aku alami pada mereka.

    Cita-citaku pada mulanya sangat tinggi, namun cita cita aku obah. “Tidak mungkin aku harus kuliah ditempat yang lebih favourite di Pulau Jawa. Aku takut kalau kuliahku patah di tengah jalan, karena masalah broken home yang mulai mengintai keluarku. Maka aku memutuskan saja kuliah di Padang. Selama empat semester pertama, aku kuliah asal-asalan saja. Namun aku sadar bahwa aku harus serius.

    Sambil belajar aku mengembangkan diri dan karakter berani ku. Aku bekerja part time, menjadi pemandu wisata dan juga member privat bagi ana-anak yang orang tuanya berduit. Selama kuliah aku dengan mudah memperoleh pengalaman indah dan banyak teman-teman yang baik, ganteng dan cantik. Namun aku selalu merasa terhempas bila perpisahan itu harus datang. Rasa sepi dan rasa kehilangan dari orang orang yang pernah dekat di hati membuat hatiku teriris-iris, aku menjadi susah tidur dan konsentrasi jadi buyar.

    Baru satu semester aku juga harus berpisah dengan orang yang amat Aku cintai. Walau ibu ku termasuk wanita yang pemarah, namun ia jarang marah padaku. Kalau mau marah ia memilih kata-kata yang lembut sekali. Ibuku sendiri mengatakan bahwa ia tidak tahu apa yang harus dimarahkan padaku karena “joe adalah anak cam jempol”. Memang aku sendiri selama hidup hamper tidak pernah bersuara kasar dan bernada tinggi pada ibuku. Semester lalu ibuku dapat musibah, saat mau ke belakang, beliau terhempas dan terjatuh ke air panas dan segera kami larikan ke Rumah Sakit Umum Payakumbuh. Aku ikut menemani di rumah sakit. Saat kami merasa ia sudah sembuh, diam-dian ia berangkat menuju Sang Pencipta. Aku ikut menyusul Jenazah ibuku Ke Lubuk Alung.

    Habis memberikan ciumanku yang terakhir pada wajah ibu dari balik kain kafannya, aku ikut mengankat tandu ibu menuju tempat perisirahatanya yang terakhir. Makin turun duluan lebih dulu dan menunggu jasad ibu dari dalam kubur. Aku ikut meletakkan ibu ke dalam lahatnya. Aku merasa damai sekali saat bisa mengusap pipi dan bahu ibu buat yang terakhir kali. Namun aku hamper-hampir tidak rela kalau segera berpisah dari ubuku. Akhirnya tanah mulai turun memenuhi kuburan ibu. Sebanyak tanah turun- sebanyak itu pula air mata mengalir pada pipiku. Aku tidak berani memperlihatkan bahwa air mataku keluar pada orang, namun orang-orang juga pada tahu. Hatiku juga berkeping-keping saat itu.

    Akhirnya aku memilih karir sebagai guru- karir yang amat mudah aku peroleh. Padahal cita-citaku waktu kecil adalah ingin menjadi saintis atau dokter dan bekerja di luar negeri. Itulah yang memotivasiku dalam mempelajari banyak bahasa “Inggris, Perancis, Arab dan Spanyol”. Aku menjadi guru dan aku dengan tulus memberikan rasa simpati pada murid-muridku. Selama aku jadi guru aku tidak pernah marah-marah dan memang aku tidak bisa marah-marah. Aku punya filosofi “Terimalah  karakter siswa apa adanya”. Akhirnya aku menjadi  dekat sekali dengan mereka.

    Lagi-lagi yang membuat aku sangat kehilangan adalah bila mereka tamat dan pergi jauh dariku. Tapi juga sama, aku pernah pindah sekolah dua kali. Dari sekolah ku yang pertama ke sekolah ku yang ke dua. Dan dari sekolahku yang ke dua ke sekolah ku yang baru “SMA Negeri 3 Batusangkar:. Saat aku pindah murid-murid ternyata juga kehilanganku dan aku juga. Aku sendiri saat menulis artikel ini juga sedang menderita merasa kehilangan dari orang-orang yang pernah dekat di hatiku. Maka aku sering berucap “I miss you dan I love you”. Moga moga para sahabat, sanak saudara dan murid-muridku  damai selalu di sana.  (http://penulisbatusangkar.blogspot.com).   

     
    • rosma nofilawati 12:15 pm on 25 Oktober 2013 Permalink

      kalau mario teguh pasti akan katakan super sekali,,,,
      artikel yang judul "mengapa hatiku terasa sengsara"
      kalau sedikit cerita kepada bapak, mungkin bapak masih beruntung,,kalau la pak tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, dari umur 3 thn la sudah ditinggal oleh ayah untuk selamanya. tpi membaca artikel yang bapak tulis membuat la kuat, karena dulu la juga merasa seperti yang bapak rasakan.

  • Foto Profil dari Marjohan Usman

    Marjohan Usman 11:14 am on 19 June 2011 Permalink  

    Milikilah Lima Kekuatan Agar Cerdas Dalam Hidup. 

                               Milikilah  Lima Kekuatan Agar Cerdas Dalam Hidup.
    Oleh:. Marjohan
    Guru SMAN 3 Batusangkar
                Sekarang kuliah  sudah menjadi kebutuhan banyak orang. Mereka pergi kuliah  ke pulau jawa, universitas yang berlokasi di ibu kota Propinsi sampai kepada tempat kuliah di kota-kota kecil melalui Universitas, Sekolah Tinggi, Politeknik atau Akademi. Sukses kuliah itu ada di mana-mana dan cara untuk memperoleh kualitas  kulitas tentu saja tergantung pada pribadi kita.
     Namun karakter  yang banyak terlihat adalah “kuliah orang kuliah kita- atau kuliah secara asal asalan. Sebahagian dari mereka  pergi kuliah hanya sekedar  datang, duduk, dengar  dan diam saja di dalam kelas. Sementara itu  di tempat kost kerja mereka hanya makan, minum, menghafal, menghayal, hura-hura, main game, sampai begadang tidak karuan.  Padahal sang dosen di kampus mungkin pernah berkata “Anda sebagai seorang  mahasiswa telah menjadi kaum intelektual dan berfungsi sebagai “agent of change” atau agen perubahan social”. Tapi kalau  demikian gaya belajar dan gaya hidup  mereka apakah  pantas disebut sebagai agent of change ? O tentu saja belum pantas.
    Namun tentang prilaku orang dalam belajar atau kuliah juga bermacam-macam. Tentu saja ada yang rajin kuliah. Semua waktu mereka curahkan untuk kegiatan akademik. Namun ada juga  yang kutu buku hingga tidak punya kesempatan untuk bergaul. Mereka yang malas bergaul pada akhirnya akan memiliki karakter yang kaku , dingin, serta kurang peka terhadap orang lain. Kelak walau mereka bisa meraih prestasi tinggi dalam pekerjaan namun  mereka akan menjadi orang yang kaku.
                Sebagaimana yang telah kita nyatakan bahwa gaya belajar siswa dan mahasiswa sangat bervariasi. Misal, ada yang bergaya study oriented. Masa muda mereka dihabiskan hanya untuk berkutat dengan diktat dan buku-buku pelajaran, tujuannya agar bisa memperoleh nilai sempurna pada setiap mata pelajaran. Ada pula yang hanya senang berorganisasi, namun masa bodoh dengan urusan belajar. Ya ujung-ujungnya jadi gagal dalam bidang akademik.
                Selanjutnya  ada  yang telah berkarakter produktif. Yaitu bagi mereka yang telah memiliki agenda hidup- punya banyak aktifitas, mulai dari membaca buku, kuliah/ bersekolah, berolahraga, beribadah sampai merencanakan agenda-agenda hidup lainnya. Namun juga ada yang bengong saja sehingga tidak tahu apa yang mau dikerjakan. Mereka hanya pandai  menghabiskan waktu dalam box warnet-  di depan komputer untuk bermain game atau kecanduan nonton TV selama ber jam-jam.  
                Memang terasa bahwa saat kita tidak punya aktivitas maka akan sulit bagi kita untuk memulai sebuah aktivitas yang bermanfaat, misalnya mengerjakan tugas sekolah, mencuci pakaian, atau membantu orang tua. Ada gejala penyakit yang sering melanda remaja (pelajar dan mahasiswa), yaitu banyak tidur, boros (buang buang uang terhadap hal  yang tidak perlu),  menganggap sepele terhadap tugas- tugas sekolah, kecanduan talk mania (gila ngobrol pake HP), gila main game,  dan senang hura-hura.  Namun kita harus berhati-hati, bahwa kebiasaan ini kalau selalu kita biasakan maka akan berubah menjadi karakter kita.
                Gejala yang kita jelaskan tadi bisa menjadi indikasi bahwa seseorang sedang mengalami demotivasi (merosotnya motivasi seseorang). Dan sebetulnya ada beberapa tips untuk mengcounter (mencegah) gejala-gejala demotivasi tersebut:
    1). Segera melakukan silaturahmi kepada sahabat dan orang orang yang memiliki
          inspirasai dan motivasi hidup.
    2)  Kemudian, bacalah buku-buku untuk penambah semangat hidup atau motivasi.
    3) Kalau ingin sukses, maka cobalah membuat agenda hidup- target kegiatan harian,
         mingguan dan bulanan.
    4) Juga perlu melakukan hijrah (andai lingkungan menjadi penyebab kemalasan kita),
         karena  lingkungan teman yang santai akan juga membuat kita santai.
    Untuk itu  kita perlu mencari teman yang smart dalam hidupnya. Kalau demikian, kita perlu mencari komunitas di mana berkumpulnya orang-orang yang punya semangat hidup, produktif dan suka berbagi pengalaman.
                Sebenarnya hidup ini juga dipengaruhi oleh hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat tidak hanya ada dalam pelajaran sains, tetapi juga ada dalam pribahasa: siapa yang menanam dia yang akan menuai (memetik). Cepat atau lambat maka  setiap kebaikan yang kita lakukan akan membuahkan hasil. Kejelekan yang sering kita kerjakan juga akan kembali pada kita. Oleh sebab itu kita perlu  banyak-banyak menanam kebaikan. Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya. Ya seperti pepatah dalam bahasa Arab yang berbunyi : man jadda wa jadda- barang siapa yang bersungguh-sunggu akan berhasil.
    Dan semua kebiasaan atau karakter yang kita miliki, penyebabnya adalah kita sendiri. Siklus pembentukan karakter tersebut adalah sebagai berikut: Bermula dari pola berfikir, pikiran akan jadi perkataan, perkataan jadi perbuatan, perbuatan jadi kebiasaan, kebiasaan akan menjadi karakter, dan karakter menjadi budaya”.
    Tentang kebarhasilan, bahwa kadang-kadang keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh faktor kesempatan. Sebagaimana kita ketahui bahwa  itu kadang kala hanya datang sekali saja. Jadi kalau ada datang kesempatan, maka kita harus memanfaatkannya. Contohnya, ada orang yang sangat jenius, namun mendapatkan nasib yang tidak terlalu bagus. Salah satu faktor penyebabnya adalah tidak punya antusias dan usaha yang besar untuk mengambil kesempatan yang datang. Untuk itu kita harus mencari kesempatan dan peluang. Kita sendiri juga harus rajin mencari informasi.
                Sekali lagi bahwa di negara kita banyak orang yang cerdas dan memiliki nilai akademik, namun mengapa menjadi pengangguran ?  Penyebabnya adalah akbat gaya belayar yang hanya study oriented- pintarnya hanya belajar melulu. Idealnya mereka harus cerdas dalam belajar dan juga cerdas dalam kehidupan. Total learning bisa menjadi solusi bagi kita.
    Total learning dapat  kita lakukan  dengan mengembangkan potensi atau kekuatan yang ada pada diri kita. Sebenarnya tulisan ini terinspirasi oleh training yang diberikan oleh buku Setia Furqon (2010) yang berjudul “Jangan kuliah kalau gak sukses”. Ia sendiri adalah seorang penulis dan motivator berusia muda. Ia mengatakan bahwa untuk sukses dalam belajar, maka kita memerlukan  lima fondasi dasar sebagai kekuatan kita,  yaitu : kekuatan spiritual, kekuatan emosional, kekuatan financial, kekuatan intelektual dan kekuatan aksi. Istilah  lima kekuatan tersebut dalam bahasa Inggris adalah  “spiritual power, emotional power, financial power, intellectual power dan actional power”.
                Spiritual power, bahwa kesuksesan sejati adalah saat kita merasa dekat dengan sumber kesuksesan itu sendiri, yaitu Allah- Sang Khalik. Untuk itu ada beberapa kiat yang dapat kita lakukan agar hidayah/ petunjuk bisa datang. Bahwa hidayah (petunjuk hidup) itu sendiri  harus dijemput, bukan ditunggu. Kemudian kita harus mencari lingkungan yang kondusif, karena sangat sulit bagi kita untuk keluar dari lingkaran kemalasan jika lingkungan itu sendiri mendorong kita untuk jadi pemalas. Untuk mengatasinya, maka  kita bisa hijrah atau pindah kost ke tempat yang mendukung. Kalau sulit untuk pindah kost, maka kita bisa melakukan hijrah melalui perobahan sikap dan fikiran.  
                Untuk memperoleh hidayah,  kita bisa menemukan guru-guru dalam kehidupan. Guru tersebut adalah orang-orang yang akan  memberi  kita inspirasi agar bisa  bangkit setelah kita terjatuh. Sang inspirator kita tidak harus jago dalam ngomong, orang tersebut  bisa jadi sedikit bicara, namun karya dan prilakunya membuat kita termotivasi.
                Emotional power juga dapat kita sebut dengan istilah  kecerdasan emosional (EQ). Kecerdasan ini juga sebagai penentu kesuksesan seseorang. Di dunia ini ada banyak orang-orang cerdas atau jenius dengan IQ di atas rata-rata namun pekerjaanya selalu pada level bawah. Itu terjadi karena kepribadiannya yang kurang disukai atau sulit bersosialisasi. Kecerdasan emosional bisa berkembang, karena ia merupakan akumulasi dari karakter individu, dan dukungan dari faktor lingkungan. Sikap atau karakter sangat penting  dalam membentuk kecerdasan emosi seseorang. Apakah ia berkarakter ramah, gigih dan ulet- adalah contoh dari bentuk emosional power. 
                Karakter adalah ibarat sebuah perjalanan yang panjang. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa karakter adalah akumulasi dari bentuk fikiran, ide yang kita ekspresikan lewat ucapan dan tindakan, kemudian dipoles dengan suasana emosi. Orang lainlah yang  akan melihat kualitas emosional  kita tadi- apakah disana ada unsur “ jujur, peduli, ikhlas, disiplin, dan berani”, atau malah yang terlihat banyak unsur    “suka berkhianat, angkuh, boros, cepat bosan dan malas”.
                Emosi itu sendiri dapat dilatih. Beberapa cara untuk melatihnya adalah seperti : tersenyum dengan tulus, bila berjumpa teman ya jabat tangannya dengan penuh antusias. Kalau ngobrol mari kita biasakan untuk mendengar orang terlebih dahulu. Kita perlu ingat bahwa tidak bijak untuk membuat orang tersinggung. Kalau kita sedang ngobrol maka kita usahakan untuk  menatap mata lawan bicara sebagai tanda bahwa kita sedang serius dan ia juga akan  merasa dihargai. Kita juga harus ingat dan tahu dengan nama lawan bicara kita.
                Financial power berarti kekuatan dalam hal keuangan. Bahwa kita harus memiliki kekuatan keuangan agar bisa sukses dalam studi. Namun  banyak orang  menganggap bahwa uang bukanlah hal yang  utama- mereka takut dikatakan sebagai orang yang matre (mata duitan).  Paling kurang ada dua karakter orang berdasarkan pendekatan ekonomi atau keauangan. Ada  orang bermental miskin dan orang bermental kaya.
    Karakter orang bermental miskin adalah mereka yang menginginkan hasil sesuatu yang serba instan, lebih banyak membeli barang yang konsumtif, tidak mau berubah, dan senang mengandalkan bantuan orang lain. Mereka juga  berkarakter  suka  menerima,dan kalau belajar hanya untuk mengejar nilai yang bagus. Sementara itu orang yang bermental kaya adalah mereka yang karakter terbiasa menyukai  proses. Dalam shopping ya lebih suka membeli barang yang produktif. Selanjutnya ia (mereka) bersifat kreatif, mandiri, senang memberi, dan dalam belajar/ kuliah bertujuan  untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
                Kemudian lain yang harus kita miliki adalah “intelektual power”. Bahwa otak kita sedikit banyak juga harus memahami tentang keberadaan otak. Otak kita  membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar ia  bisa beroperasi secara optimal. Maka kita perlu untuk bisa memperoleh tidur yang nyenyak, karena  sangat berguna untuk kesehatan otak. Salah satu fungsi otak adalah membantu kita dalam memahami apa yang kita amati dan yang kita tiru.
    Dikatakan bahwa orang Jepang menjadi cerdas karena punya kebiasaan mengamati, meniru dan memodifikasi. Bangsa Jepang bukanlah bangsa yang menemukan  kendaraan roda dua dan roda empat. Namun mereka adalah bangsa yang  gigih dalam meniru dan memodifikasi penemuan bangsa lain. Budaya senang meniru dan senang memodifikasi tersebut  telah membuat Jepang sebagai negara produsen mobil terbesar di dunia. Negara Jepang pada mulanya mengamati dan  meniru serta  memodifikasi mobil Ford buatan Amerika dan mobil buatan negara lainnya. Jepang  memodifikasinya  hingga bisa menjadi mobil yang cantik, seksi dan hemat bahan bakar.
                Jadi dapat dikatakan bahwa sekarang kita perlu menjadi cerdas, cerdas dalam belajar dan juga cerdas dalam hidup.  Untuk  bisa cerdas atau  berhasil dalam  hidup ini maka kita memiliki dan memperdayakan lima kekuatan yaitu action power, financial power, spiritual power, intellectual power, dan emotional power. Dengan demikian pelajar dan mahasiswa yang bakal sukses itu adalah mereka yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosi, kecerdasan dalam bersikap/ aksi dan memiliki dukungan keuangan- biar pas-pasan namun bisa menunjang studi. (Note-  Setia Furqon Khalid (2010). Jangan Kuliah Kalau Gak Sukses. Sumedang: Rumah Karya).
     
  • Foto Profil dari Marjohan Usman

    Marjohan Usman 3:11 pm on 13 June 2011 Permalink  

    Kisah-Kisah Cintaku 

                                                       Kisah-Kisah Cintaku       
                                                      Oleh: Marjohan Usman
                                                                  http://penulisbatusangkar.blogspot.com
    Aku seorang guru dan aku juga jatuh cinta. Ayahku berasal dari padang dan ibu dari Lubuk Alung. Ayahku, Kamarruddin Usman, maka namaku juga menjadi Marjohan usman. Tentang jatuh cinta, rasanya ayah dan ibuku belum memberi   model yang pas menurut seleraku. Karena mereka hidup dalam kultur berbeda. Sebelum menikah dengan ibu, ayah pernah menikah dengan dua orang wanita dan memiliki anak. Begitu juga ibuku, sebelum menikah dengan ayah, ia juga pernah menikah dengan dua  orang pria dan juga punya tiga orang anak. Namun dari perkawinan ayah dan ibu, mereka memiliki enam orang anak- lima laki-laki dan satu perempuan. Kemudian adikku yang laki-laki meninggal dunia. Dan Aku yke dua.

    Dapat dibayangkan bahwa saat aku lahir, ayah dan ibuku mungkin tidak begitu surprised, karena sebelumnya mereka sudah punya banyak anak dari perkawinan mereka yang terdahulu. Pasti pula mereka merawat tidak begitu prima, ya selain factor ilmu yang kurang, ekonomi yang lemah dan perhatian yang kurang. Tentu aku tidak memperoleh perawatan dan perhatian yang prima.

    Ternyata rasa cinta- atau rasa kagum pada wanita- tumbuh saat aku duduk di kelas dua sekolah dasar. Saat itu murid-murid SD badanya besar-besar dan usia mereka juga lebih tua. Mereka berlarian dan aku tertabrak sehingga jatuh dan kepalaku terbentur ke lantai. Aku pusing dan berteriak. Namun tangisku reda saat kakak kelas ku yang cantik datang untuk menghibur dan menenangkan kesakitanku. Naluri keibuan gadis kecil tersebut mampu membuat aku tenang. Meskipun kesakitaku masih kuadukan kepada pada ayahku- seorang polisi di Payakumbuh, namun kebaikan dan kekagumanku pada perempuan kecil itu membuat aku mencintai semua kaum perempuan di dunia ini.

    Usiaku terus bertambah, namun permainanku sebagai anak-anak banyak berada di seputar rumah. Rumahku tidak jauh dari sekolah, ya ada SMEP (SLTP)  dan SMEA ( SLTA). Bila sora tiba, aku selalu melihat para siswa pulang berjalan kaki atau naik sepeda, karena zamannya saat itu orang bersepeda. Namun cukup banyak yang berjalan bareng sambil menggandeng sepeda, ya bagi mereka yang sedang jatuh cinta. Saat itulah aku mengenal kata “cinta dan berpacaran” melalui karakter mereka.

    Ada seorang siswa SLTP yang terbiasa pulang sendirian dengan sepeda mininya. Rambutnya sebatas bahu, punya sedikit jerawat pada pipi, bibirnya merah alami. Cara ia berjalan membuat aku kagum. Sering tiap sore aku sengaja berlari menuju pintu dan mengintipnya lewat dari balik gorden pintu. Aku tidak mencintainya, karena aku masih kecil, yaitu kelas 4 SD dan ia sudah kelas 2 SLTP. Aku juga tidak tahu nama gadis itu, namun ia adalah gadis ke dua yang aku kagumi.

    Kemudian aku tumbuh dan berkembang. Aku mulai punya banyak teman dan juga melakukan banyak eksplorasi. Mencari burung pipit ke sawah, menangkap kumbang atau mengunjungi banyak tetangga hingga aku sekolah di SMP.
    Di SMP proses sosialku berkembang, aku ingin terlihat paling gagah dan paling pintar. Aku mencari populeritas. Aku menemui gadis-gadis cantik dekat tetangga ku. Aku mulai belajar mengunjungi rumah gadis-gadis tetanggaku, aku bertukar cerita dengan Zulva efita, nit, nislan sari. Namun Nislan sari adalah gadis paling pintar dan paling cantik. Ia suka kucing dan menyukai figure Lady Di dari Inggris. Sering wajah nislansari hadir dalam kepalaku, tapi aku rasa Nislansari adalah TTM ku (teman tapi mesra ku) yang pertama.

    Saat aku belajar di SMA, temanku makin luas. Aku suka berkoresponden dan di SMA aku sudah jago berbahasa Inggris. Tentu saja amat mudah memperoleh banyak temann kalau kita punya banyak kelebihan. Maka aku merasa bersimpati dan hampir mengatakan “I love you” pada seorang gadis amaaat cantik, mempunyai tahi lalat kecil pada sudut bibirnya. Gadis itu bernama Rozalena. Namun Herlina Tondang nampaknya juga senang pada ku dan aku juga simpati padanya. Ia manis, matanya bersih dan rambutnya lurus.

    Namun aku sering pergi bareng- bukan berpacaran- dengan Yunarti Chandra, ia gadis hitam manis dan papanya bertugas di Caltex. Ia juga punya teman orang Amerika dan nama bekennya “Tican”, Tican atau Yunarti Pernah meminta aku untuk melamar cintanya. Dan aku respon dengan melakukan sering jalan bareng, makan bonbon bareng dan juga pernah saling berkunjungan rumah.

    Di rumahpun TTM-ku, nislansari juga sering curhat dengan ku, hingga aku dan dia makin akrab. Namun aku tetap memposisikan nislansari sebagai adik, konon kabarnya orang tuanya dan orang tuaku punya hubungan kerabat.
    Akhirnya aku belajar di perguruan tinggi, pada mulanya aku juga ingin kuliah pada fakultas kedokteran, IPB atau ITB. Karena saat belajar di SMA  Negeri 1 Payakumbuh, aku termasuk siswa yang rajin dan aku juga pernah juara kelas di sekolah yang cukup favorit tersebut. Namun seniorku yang berasal dari tetanggaku menyarankan agar aku masuk saja ke IKIP atau UNP. Aku rasa juga masuk akal, karena lebih mudah dan ayahku tidak kesulitan membiayaiku dan kakakku dengan banyak uang. Sejak kelas satu SD sampai kuliah aku satu kelas dengan kakakku, itulah yang membuatku berambisi untuk belajar dan mengalahkan nilainya.

    Di UNP aku mulai jatuh cinta. Ada gadis cantik yang mulai aku cintai namanya “Meirita”, sampai sekarang buku catatannya masih aku simpan. Namun aku tidak tahu mengapa bunga cintaku hilang tanpa sebab, mungkin karena cinta monyet. Saat itu aku menyinta seorang gadis yang sangat manis dan lembut namanya “Indrakusuma Ningsih”. Di rumah aku suka memutar lagu “pretty lady” sambil membayangkan wajahnya nan mirip dengan Indira Gandhi, perdana Menteri India. Ternyata aku gigit jari, karena cintaku merasa ditolak. Atau karena peluru cintaku belum jitu untuk meluluhkan emosi cintanya.

    Namun aku anggap itu sebagai cerita cinta yang indah. Aku aktif dalam kegiatan remaja mesjid Al-Azhar dan juga rajin di kampus. Kembali aku punya teman istimewa namanya “Marniliza”, ia cantik, cerdas dan anak tunggal. Hampir setiap sore aku berkunjung ke rumahnya dan baru pulang kalau sudah jam sembilan malam. Aku merasa Marniliza sebagai teman special dan ia juga, atau mungkin ia menunggu tembakan kata cinta dari ku. Namun aku tidak berani mengungkapkan cinta atau aku merasa lebih nyaman cukup sebatas teman tapi mesra saja. Hingga akhirnya aku punya kesibukan lain.
    Aku melatih diri untuk tidak cengeng kalau aku kehabisan uang, apa lagi aku mencium hubungan perkawinan ayah dan ibu agak retak dan malah cenderung menuju kehancuran. Aku melamar menjadi pemandu wisata ke departemen parawisata, aku ikut seleksi dan aku lulus. Aku menjadi pemandu wisata dalam usia 19 tahun. Aku meniringi wisatawan dari Negara Benelux- Belgia, nedherland dan luxembur yang dating dengan kapal pesiar “Sholokov” dari ema haven atau teluk bayiur.  Aku kemudian juga jadi guru privat untuk seorang manager pada pabrik kain- sumatex subur, di indarung, aku juga memberi bimbingan bahasa inggris untuk anak-anak yang orang tuanya punya uang. Malah aku juga diberi kamar agar tinggal di rumah /tempat aku memberi private, baik sekali ibu itu. Ia senang andai aku bias menjadi kakak bagi anak-anaknya. Namun aku tetap tinggal bareng di tempat kost ku, karena aku punya keuangan yang cukup memadai, malah oleh orang tua aku dianjurkan untuk pulang kampung tiap minggu.

    Aku masih mengembangkan naluri cintaku. Aku ingin jatuh cinta pada seorang gadis yang amaaaat menarik hati. Teman ku Edi yang berasal dari Pulau Dabo Singkep Kepulauan Riau. Memilihkan gadis yang dimatanya cocok untuk ku. Dari semula aku tidak mencintainya, namanya Evi Yumeri, namun ia Jago dalam menulis.
    Maka kami saling bertukar surat. Suratku untuk Evi yumeri sampai 8 halaman kertas folio, dan surat nya untuk ku sampai 10 halaman kertas folio. Surat kami mirip cerpen, penuh goresan cerita dan cinta. Aneh bila membaca surat Evi yumeri aku jatuh cinta, tapi bila jumpa dia, ya saya biasa biasa saja.

    Aku menikmati jatuh cinta ala zaman siti nurbaya, pakai surat suratan. Sebelumnya aku juga punya hubungan teman tapi mesra (TTM) dengan Anti, seorang  gadis Jakarta, juga dengan Siti Salbiah, gadis yang sekolah di Pondok Pesantren dan tinggal di kampong sumur Bekasi.

    Aku bisa wisuda lebih cepat dan memperoleh SK dalam usia 22 tahun. Aku mengajar, namun aku menganggap siswaku ibarat teman ku, mungkin karena jarak usia mereka ibarat kakak dan adik. Aku mengajar pada sebuah SMA. Beberapa siswa perempuan menaruh simpati padaku, dari matanya ada kesan bahwa mereka pingin jatuh cinta pada ku.
    Aku mulai serius mencari cinta, aku juga ingin nikah dini, kalau perlu usia 23 tahun. Aku berkenalan dengan Elvi Sukaesih, seorang mahasiswi yang sedang kuliah kerja nyata. Ya ampun sang gadis kelewat agresif dan aku takut. Ia datang ketempat kost ku dan tidak khawatir kalau ia kemalaman, atau dia punya maksud lain denganku. Akhirnya aku tahu, ia punya kekasih namanya Munzir, dan dalam waktu yang sama ia juga ada hati padaku, ya aku tolak secara baik-baik.
    Aku mulai serius menjajaki siapa gadis yang cocok untuk menjadi ratu hatiku. Diam-diam juga ada orang tua yang datang melalui ayah-ibu ku untuk melamar aku jadi menantu nya. Aku punya kelemahan dalam bersikap, dan kurang tegas. Aku tidak berani mengatak “ya” atau “tidak”. Akhirnya ada orang tua yangkecewa dengan karakterku.

    Suatu malam aku tidur dan pas tengah malam aku terbangun, namun kepala pusing, berat dan hendak berteriak-teriak histeris. Aku yakin, pasti ada guna-guna yang dihembuskan oleh Pak Ibrahim, seorang dukun yang punya ilmu dari Banten. Aku sadar juga, aku tahan diri dan aku kuasai emosiku. Tidak kubiarkan fikiranku kosong. Aku langsung menuju sumur, untuk berwudhuk dan sholat Tahajud.

    Malam itu kepalaku terasa plong, dan aku yakin sang dukun, Pak Ibrahim, pasti terjungkal karena ilmu sihirnya, Alhamdulillah, tak mempan padaku. Malam itu juga aku laporkan pengalamanku  pa ibu. Dan ibu tentu saja marah kepada temannya yang memberi aku guna-guna.

    Evi yumeri masih berkirim surat padaku, kadang-kadang dalam amplopnya juga ada uang, dengan harapan ongkos untuk menuju kampungnya di Bukittinggi. Namun aku tidak punya rasa cinta, dan aku sudah minta maaf. Walau surat surat cintanya sudah tinggi tumpukannya, namun aku tidak cinta padanya.

    Akhirnya aku berkenalan dengan seorang guru gadis, kulitnya putih, hidungnya mancung dan pemalu, sehingga aku menjadi agresif melihat gadis pemalu tersebut. Dengan lembaran surat yang dikirim oleh siswa ku, ia terima cintaku. Surat-surat kami lewat melalui anak-anak murid kami. Aku ngajar di SMA dan ia, Emi Surya, ngajar di SMP. Aku baru tahu bahwa ternyata Devi Artikasari, seorang murid yang selalu menjadi pos bagi surat kami, sering membaca surat-surat cintaku sebelum ia berikan pada gadis pilihanku Emi Surya.

    Aku menjadi akrab dan jatuh cinta dengan emi surya. Ada karakternya yang aku tidak suka, yaitu cara ia berbahasa. Aku aku sempat memutuskan/ mengakhiri cintaku secara sepihak denganya. Aku jadi pemarah dan semua siswa tahu kalau aku lagi broken dengan Emi surya. Guru-guru yang lain juga jadi tahu. Karakterku yang selalu ceria berubah menjadi pendiam, mudah ketus dan aku juga bersikap kurang ramah pada siswaku.

    Namun aku sadar, buat apa aku cari gadis lain Cuma gara-gara masalah kecil. Kalau demikian kapan aku dewasanya. Akhirnya cintaku dilanjutkan lagi. Dan semua muridku jadi tahu kalau aku jatuh cinta lagi. Siswa ku jadi lebih senang belajar, bukan karena bahasa inggrisnya, tapi karena aku punya kisah kisah cinta.

    Hari sabtu adalah hari yang indah. Karena aku bisa membuat janji untuk [ulang kampong bareng, dan kami naik mobil umum. Kami mengambil bangku paling belakang, aku membeli banayk jajan untuk kami konsumsi selama perjalanan. Selama pergi berdua- jalan berdua, aku menjaga kehormatanya. Tidak berani pegang-regang, kalau mau menyeberang jalan ya aku cuma pegang tasnya saja. Sehingga adikku tertawa terbahak bahak melihat kami jatuh cinta ala anak pesantren.

    Akhirnya aku merasa mantap memilihnya menjadi calon istri, ya setelah ayah dan ibu ku juga telah berjumpa denganya. Akhirnya aku ajak abangku, saat itu baru saja wisuda, karena aku wisuda jauh lebih dulu, untuk melamar Emi Surya jadi istriku, meski kakakku abangku sendiri berfikir apa-apa. Benar seperti yang diperkirakan oleh seseorang bahwa aku bakal kawin lebih dulu dari abangku.

    Ya akhirnya aku menikah, aku tidak memakai adat pariaman, dimana pria musti dibeli mahal oleh pihak wanita. Aku punya tabungan. Aku tidak menyusahkan siapa-siapa. Orangtua ku juga restu. Akhirnya datang jugalah hari dimana aku menjadi raja sehari atau pengantin. Ternyata setelah perkawinan, kami tidak langsung diberi baby. Pada mulanya aku berfikir kalau membuat istri hamil mudah. Istriku dan aku tiap bulan konsultasi ke dokter kandungan pada berbagai kota di Sumatera Barat. Selama berbulan bulan dan sudah puluhan pula buku aku baca dan aku praktekan petunjuknmya supaya istri bisa hamil. Akhirnya pada tahun ke empat diketahui bahwa istriku ada kista atau polip rahim. Ya dioperasi dan kami selalu jatuh cinta. Akhirnya istriku hamil, kami dapat baby ganteng yang aku beri nama “Muhammad Fachrul anshar”. Baru bayi berusia Sembilan bulan, istriku hamil lagi dan kehamilan kedua masuk usia delapan bulan bayi kami yang ke dua meninggal saat bersalin. Aku jadi sedih melihat bayiku yang perempuan meninggal. Namun saat itu aku masih muda, namun kami musti ikut program kelurga berencana. Setelah usia fachrul tiga tahun maka aku bisikan kembali kata “I love you” ke telinga istri, akhirnya ia hamil dan melahirkan dengan selamat, kmai punya bayi perempuan dan namany “Nadhila Azzahra’.

    Kedua anak-anak ku memiliki nama islam dan punya makna. Posisi istriku adalah sebagai teman. Kami memutuskan tidak punya pembantu, biar anak-anak langsung melihat bahagaimana orangtuanya membesarkan mereka dan juga mengurus keluarga bersama-sama. Aku rajin membaca buku- buku psikologi dan buku paedagogi. Agar aku memahami perkembangan dan pertumbuhan anak, gunanya agar aku tidak salah didik.

    Kini mereka mulai tumbuh Fachrul sudah kelas tujuh (kelas satu) di Mtsn dan Nadhilla kelas 4 SD. Mereka harus tahu tanggung jawab, bisa cuci gelas, bias menggoreng telur- ya tentu saja aku awasi dari jauh agar tidak terbakar api. Ia juga bias memilih sampah dan menyapu. Mereka bias mencuci kaus dan membersihkan sepatu. Mereka harus sholat ke mushola dan ikut mengaji, mereka juga harus membuat peer dan cinta membaca seperti ku. Malah aku juga mengembangkan bahasa Inggris dan bahasa Arab mereka, serta kemampuan mereka dalam menulisd dan dalam menceritakan gambar. Mereka diharapkan menjadi generasi yang santun dan memiliki multi talenta. Dulu ketika teman-teman ku dari Amerika, Perancis dan Australia datang, mereka harus ikut terlibat dalam berinteraksi bersama.  

    Ada satu rasa bersalah yang masih tersisa dalam hati bahwa ku dengar sahabatku Evi Yumeri sampai sekarang belum menikah. Mengapa ia menutup hatinya untuk pria lain, apakah ia patah hati karena aku, aku mohon maaf. Ia sempat aku yakin bahwa masing-masing kita sudah punya takdir, aku berdoa agar ia damai selalu dan Allah Swt memaafkan aku, amiin.
     
  • Foto Profil dari Marjohan Usman

    Marjohan Usman 12:27 pm on 26 May 2011 Permalink  

    Jalan jalan Ke SMAN 8 Pekanbaru dan SMAN Plus Riau 

    Jalan Jalan FUN dan ENJOY:
    Comparative Visit of  English Club SMAN 3 Batusangkar to Excellent School in Pekanbaru
    Departure:
                   Tanggal 19 sampai 22 Mei (Kamis sampai Minggu ) adalah saat yang ditunggu. Buat apa ? Siswa kelas X SMAN 3 Batusangkar atas nama English club telah membuat rencana untuk melakukan studi banding. Kata Mr Ai (Arjus Putra) bahwa ternyata Pekanbaru memiliki SMA yang sangat berkualitas, yaitu SMA Negeri 8 Pekanbaru dan SMA Negeri Plus Riau di Pekanbaru. 
    Mr Ai sebagai tour leader jauh jauh hari sudah merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu. Ia sudah mengurus segala sesuatu mulai dari hal hal kecil sampai ke pada hal-hal yang lebih gede. Ia sudah menyiapkan hadiah atau cendera mata buat sekolah tamu, sampai mengurus akomodasi kami di sana. 
    Saya (Joe) juga ikut bagian atas nama juri dari English drama performance. Pasti tiap yang mau berangkat sudah menyiapkan akomodasi untuk keperluan diri. “Wah buat apa harus membawa travelling bag yang gede, di sana kan Cuma beberapa hari dan pecan baru suhunya panas. Maka saya memilih palkain buat tiga hati, keperluan harian dan mandi. Saya juga membawa beberapa biji bacaan (Majalah dan buku pencerahan) buat dibaca di sela-sela waktu selama di Pekanbaru.
    Kami harus berkumpul di depan Indo Jolito. Kamis itu saya saya tiba di pasar jam 6 sore. Saya numpang sholat (untuk sholat jamak Magrib dan Isya) di Q-net. Buat beberapa menit menunggu jam 8.00, saya browsing di internet, mengedit you tube, blogger saya, membalas email dan face book. Saya Cuma menyandang sebuah tas punggung, sengaja tidak makan dan tidak minum banyak. Khawatir kalau saya butuh toilet di tengah jalan, kan bisa barabe.
    Jam 8 malam anak-anak sudah berkumpul di depan Indo Jolito, diantarin oleh papa dan mama mereka. Ya lumayan ramai dan juga terjadi saling silaturrahmi. Kami masih menunggu satu bus lagi. Kami butuh tiga bus untuk tiga kelasw, X.1, X.2, dan X.3. Sambil menunggu bus anak anak menggunakan saat indah untuk jepret-jeprat lewat HP, Kamera digital atau kamera pinjam ala paparazzi (Kamera untuk melihat focus yang lebih jauh).
    Akhirnya bus datang dan Mr Ai member pengarahan. Guru guru yang ikut juga saling bersilaturrahmi dengan orang tua dan juga berbagi tebar pesona- ada Pak Yal, Pak Datuk, Sense Ayu, Bu Yani, dan Mr Joe. Akhirnya bus berangkat menuju Payakumbuh. Anak-anak berbagi kegembiraan. Pak Supir ngerti sekali, ia mematikan Stereo bus dan anak anak menyanyikan tembang tembang heroic sampai kepada tembang-tembang cintang. Maklum usia remaja kan usia narsis- usia memuja dan merindu.
    Dalam perjalanan ada dua kali bus berhenti dan berhenti memang sengaja agak lama. Kalau dihitung jarak Batusangkar dan pecan baru hanya 220 Km dan kalau berjalan normal kami bisa sampai 5 jam dan tentu akan tiba di sana pukul 3.00 dini hari, wah di mana mau istirahat. Itu;lah kami sedikit berlama lama pada dua restoran. Di sana bisa beli snack, beli pop mie, atau antrian ke toilet karena sebelumnya beberapa siswa sudah ada yang menghabiskan banyak soft drink dan ampas biologinya tentu harus dibuang ke toilet. Perhentuian pertama di restoran milik Sederhana di daerah Ketinggian Tanjung Pati, 13 KM dari Payakumbuh, dan perhentian ke dua di Simpang Rangkiang ya sudah masuk wilayah provinsdi Riau. “Ayo….semua masuk, dan mobil harus berangkat….coba hitung temannya, ada yang tinggal…?”
    Arrive in Pekanbaru:
    Pas waktu subuh bus masuk ke kota Pakan Baru. Tentu saja kami harus menjangkau mesjid buat sholat subuh. Kami sholat dan istirahat sejenak di mesjid Arrahman Kota Pekanbaru. Mesjidnya cukup megah. Pada dinding depanterdapat running text dengan tulisan “selamat beribadah di masjid arrahman pekanbaru”. Sebelum kami datang, jemaah sedang sholat subuh namunh kami bisa bergabung karena imam membaca bacaan yang panjang yaitu surat sajjadah pada subuh jum’at itu. Mesjid bagus namun jamaah cukup sepi, masing masing kurang satu saf. Penyebabnya karena rumah penduduk jauh dari sana.
    Usai sholat subuh kami menikmati suasana damai dalam mesjid. Saya mengambil moment untuk berfoto dengan Pak datuk dan Arief Rizaldi juga bergandu. Sambil bercanda berkata “Pak datuk ariefr berfoto bareng mr Joe untuk memanfaatkan kengetopan Mr Joe”. “Mr joe malah yang memanfaatkan ke-ngetopan Anak Indonesia…”, kata Pak Datuk Edi Maizul.
    Beberapa menit setelah itu, kami sampai di Hotel Nilam milik SMK negeri 3, Pekanbaru (SMK Parawisata) yang berlokasi di Jalan Dr. Sutomo. Tour leade, MR Ai, kemali member pengarahan dan juga tentang some do-s dan some don’t-s (beberapa suruhan dan beberapa larangan). Saya mencuri waktu untuk napping (tidur sekejap). Ya bangun dan mandi kemudian mencari makanan di cafe depan hotel. Nasi gorengnya biasa biasa saja dan harga dua kali lipat nasi goring lezat di Batusangkar. Nah bagi yang punya naluri bisnis bisa buka usaha kuliner di kota Bertuah ini.
    Pak datuk sedang menyelesaikan sarapannya, Pak Yal masih tidur bergelung di kamar, damn mr Ai udah membuka acara penampilan drama. Saya dan pak datuk jadi dewan juri dan mr Ai juga. Ada tiga drama yang musti kami amati kualitas penampilan tokohnya, ide cerita, kekompakan dan nilai menghiburnya. Ada drama “Cinderella, school deterctive dan summer breeze”. Si Mercusi membacanya “Sammer Braiz….”
    Drama performance diskors karena hari jum’ata maka kami harus makan siang dan sholat Jumat. Anak perempuan tentu boleh otak astik HP di kamar. Kami sholat Jumat di Masjid Mukhlisin. “Mr…mesjid di sini megah megah ya..”, kata Hidayat Beetoven. Sepatu sepatu bagus berjejer di tangga luar dan tidak ada penitipan dan kemungkin sepatu sepatu tidak akan hilang. Mesjidnya bagus dan jaman- ventilasi banyak, kipas angin banyak dan sound system cukup sempurna. Dalam imej saya bahwa Pakanbaru sedikit sekuler dan dalam kenyataan Susana malayu dan islam lebih terasa. Di kota ini nama-nama jalan, instansi memakai huruf arab melayu di bawah nama aslinya.
    Usai sholat saya juga berfoto buat sweet memory dan kami kembali ke hotel. Kami mencuri waktu buat tidur buat sesaat, rencananya jam 2 siang English performance akan diteruska. Dalam kenyataan tidur siang saya jadi lebih lama dan pak datuk lebih lama lagi “Pak datuk bangun kan juri kita kan sudah tekan MoU dengan Mr ai. Saya biarkan pak datuk. Ya ampuin saya tertidur lebih lama dan tak sempat melihat dua penampilan terdahulu. Saya hanya bisa melihat penampilan Dream High. Namun saat ada adengan romantic ya saya rekan dengan HP Nokia e63 saya, kemudian bakal saya unduh di youtube. Akhir akhir ini saya senang mendokumentasikan event evenyt kecil di youtube. 5 atau 10 tahun ke depan bakal jadsi sweet memory. Aktivitas anak anak saya di rumah dengan suaranya yang masih belum baligh juga saya rekan dan saya unduh. Nanti kalau suaranya udah gede kan saya atau mereka bisa mendengar suara dan fil jadul mereka. Hidup kan Cuma sekali dan sweet memory sangat berguna buat membentuk karaktar.
    Lewat sedikit jam 5.00 sore ketua team juri (Mr Ai) mengumumkan the best actor, the actress, the best drama dan the best sutradara. Wah semua jadi dapat kebagian. Pokoknya semua siswa harus kita bikin fun dan enjoy.        
    Sight seeing:
                Kegiatan kami di penghujung hari jum’at ini adalah jalan-jalan di Pekanbaru downtown. Kami semua menuju mesjid paling gede di kota bertuah ini. Seperti biasa saya senang merekam moment-moment menarik dengan HP saya, Nokia E63, HP royalty buku ha…ha..ha. Kemudian saya unduh di youtube. Nama saya udah beken di google sekarang.  Saya juga mencatat hal-hal kecil lewat note pada layar hape.
                Usai sholat maghrib kami menyebar. Buat sementara saya dan juga anak-anak berfoto foto dalam tebaran cahaya lampu merkuri, wahyu mercuri juga senang dengan lampu mercuri. Wah aku juga lupa diri dan anak-anak juga. Mr Ai…udah berteriak teriak dari samping mobil mata air. “Copek lah….katingga kalian….” Pak Yal juga memanggil kami. Nah lagi-lagi indiscipline dan kami melanggar janji. Mobil melaju hingga sampai pada sebuah persimpangan dan anak anak diturunkan , mereka main main ke mall SKA. Ya mungkin beli novel, beli buku, beli jus….atau mejeng.
                Jam 10.00 masih terasa senja. Anak anak yang tepat waktu undah pada tiba dan mereka disuruh pulang. Saying mobil mata air pecah ban. Beberapa anak lagi laki yang indiscipline terpaksa menunggu mobil mat air sampai baik bannya. Saya lihat “Arif, Irfan, Dedet, si Abank, Pahlevi..udah pada mengantuk, namun harus tabah menunggu perbaikan ban mobil. Akhirnya jam 11.00 kami sampai di tempat rendezvous lagi.
    Saturday:
    SMA Negeri Plus Riau
                Sabtu adalah hari yang indah, hari untuk bersenang-senang. Kami sudah punya re3ncana untuk mengunjungi dua sekolah: SMA Negeri Plus Riau dan SMA Negeri 8 Pekan Baru. Sengaja Pak Yal membawa mobil bagus bercat hitam melaju di depan dan diikuti oleh dua mobil pemda yang sudah berumur tua dan juga bus mata air. Jadi ada kesan untuk jaga citra. “Bayangkan kalau pergi dengan mobil carry yang di depan. Tentu akan tidak ada sambutan.
                Kami sampai di SMA Negeri plus jam 8.00 pagi dan kami bergabung dengan English avtivity. Sebelumnya kami disambut dengan music rebana ala melayu. Siswa kami juga bergabung dengan English day dan juga sempat menang dan memperoleh 3 bungkus reward, mungkin isinya kerupuk Palembang- but oke..for spirit dan persahabatan.  Bentuk acara englisg activity nya adalah ada English performance, sshort drama, quiz, song. Semua dikelola oleh siswa. Microphone siswa yang memegang dan guru serta kepsek hanya sekedar pemberi support saja. Kebiasaan ini sangat bagus untuk melatih kemandirian, tanggung jawab, saling menghargai, menumbuhkan keberanian siswa dan kerjasama semua siswa.
                Usai kegiatan English day, kami disambut lagi untuk meeting di ruang serba guna. Sebelum liputan profil sekolah, siswa juga  menyuguhkan puisi dan drama bahasa inggris. Untuk pelepas dahaga dan lapar, tuang rumah telah menyediakan snack dalam kotak. Siswa plus dengan lokasi cukup luas hanya mendidik sekitar 200 siswa kelas X dan kelas XI. SMA ini langsung dikoordinir oleh Dinas Pendidikan Propinsi. Sebagai sekolah RSBI , ia sudah punya sekolah partnership di Jakarta dan juga di Tomohon, Sulawesi Utara. Visi sekolah ini adalah : Memiliki mindset internasional tanpa meninggalkan dasar melayu”.
                Sekolah ini memiliki ekskul akademik dan non akademik. Untuk discipline maka semua siswa memotong rambut cukup pendek dan juga dibina oleh seorang anggota TNI. Untuk mempertahankan prestasi, maka sejak awal rekruitmen, berdasarkan potensi awal anak anak dikelompokan atau dibuat pemetaan kemampuan akademik mereka. Selanjutnya setiap minggu ada program pengayaan dan pelatihan olimpiade hingga mereka sering memperoleh prestasi tingkat nasional dan internasional. Malah juga bekerjasama dengan universitas riau dan dengan alumni  untuk menjaga mutu.
                Habis melihat lihat beberapa lokasi dan bincang bincang dengan guru dan siswa akhirnya acara kami usai. Saya masih asyik ngobrol dengan siswa dari sekolah sana “Afdal Ghifari, Muhammad Ihsan dan Regi Andrean”. Memang di sana jumlah siswa laki-laki lebih banyak, karena asrama untuk laki laki juga lebih banyak.
                “Oh where is my bus…” Saya buru buru ke luar. Astaga saya hamper tinggal, karena mobil avanza pak datuk udah meluncur dan tiga bus yang lain sudah stand bye mau ke luar. Saya masuk ke dalam bus yang di tengah aja….good bye, au revoir.
    SMA Negeri 8 Pekanbaru
                Perut kenyang siang itu dan yang enak adalah tidur, tapi kami ke sana bukan untuk tidur tapi untuk studi tour. Kami sudah diberi aba-aba oleh tour leader bahwa sore ini ada kunjungan sekolah SMA Negeri 8, dan tuan rumah sudah bersiap siap. Malah dua orang gurunya sudah datang ke hotel kami, persis saat siswa- afdal dan dua orang temannya latihan debat. Hurry up….semua naik mobil, kita menuju SMA Negeri 8 Pekan baru.
                Sekolah ini hanya beberapa menit saja dari hotel dan akhirnya mobil berhenti. “Wah sekolah apaan ini” Celetuk saya, “Kalau Cuma seperti sekolah wah ramai di Batusangkar”. Kami melangkah ke dalam. Rupanya sekolah sedang berbenah diri dan dekat aula ukuran kecil, mulai terasa suasana kehijauan sekolah dan taman sekolah.
                Sekolah ini berdiri tahun 1975 dan sudah berganti nama beberapa kali. Mulai dari SMPP 49, SMAN 6, SMAN 8, SMUN 8 dan kembali menjadi SMAN 8 Pekanbaru. Luasnya 4.8 hektar. Dengan 27 rombongan belajar. Semua peraturan siswa dibuat oleh siswa dan headmaster tinggal ACC saja lagi. Orang tua berpartisipasi menyumbang dalam bentuk barang, bukan uang. Pukul 6.45 pagar sekolah sudah ditutup. Guru dan siswa yang terlambat segera pulang (dilarang masuk).  
                Kalau SMAN 3 Batusangkar mulai PBM jam 7.15, itu sudah diklaim sebagai PBM paling cepat mulainya di Tanah Datar. Namun SMAN 8 Pekanbaru mulai beraktifitas jam 6.45 dan pagar sudah tutp. Guru terlambat ….pulang , siswa terlambat juga pulang saja. Hasil komitmen bersama. Bentuk disiplin yang lain terlihat dari cara berpakaian dan model rambut.
                Dikatakan oleh Kepala Sekolah dari sekolah tersebut bahwa kalau ada terjadi tawuran, yang paling bertanggung jawab adalah guru dan kepala sekolah. “Coba lihat….penampilan siswa yang senang tawuran, penampilannya pasti seperti preman: cara berpakaian, model rambut dan disiplin waktu. Maka segera ini ditertibkan sejak dari sekolah.
                Sekolah ini punya program kerja untuk taraf nasional dan juga taraf internasional. Program dibentuk dan dilaksanakan oleh tim kerja. PSB (penerimaan siswa baru) juga lebih awal. Saat ini (sebelum ada tahun ajaran baru) mereka sudah memiliki siswa baru dari siswa SMP yang terseleksi dan para siswa sedang mengikuti program martikulasi. Anak-anak perlu diajari disiplin dan tanggung jawab sebab hancur atau majunya peradaban tergantung dari ini. SEkarang yang membentuk karakter seorang anak/siswa adalah : Program TV yang dipilih, Majalah/bacaan, ICT, internet dan baru interaksi dengan lingkungan.
    Kalau dahulu pembentuk karakter nasih sederhana. Pagi di sekolah, siang/ sore di rumah, sore di TPA dan malam di surau. Untuk memajukan karakter maka sekolah ini punya semboyan: buka mata, buka hati dan jaga amanah. Lingkungan sekolah penuh dengan poster poster dan pesan pesan moral yang dibuat oleh kelompok siswa.
    Prestasi yang paling banyak di miliki oleh SMAN 8 ini adalah prestasi untuk level internasional. Apa rahasianya ? Ya lakukan kebersamaan, mencari informasi dan apa saja lomba mereka ikuti. Ini melibatkan kerja sama dengan orang tua dan orang tua di sana tidak memikirkan bagaimana kegiatan bisa gratis alias harus perbanyak ikhlas.
    Dipesankan bahwa jangan memulai pekerjaan dengan masalah (Ambo ingin ikut…tapi….) jauhkan kata kata “takut dan tapi”. Namun mulailah pekerjaan dan kegiatan dengan solusi. Info tentang sekolah ini bisa diperoleh pada http://www.sman8.org
    SMAN 8 dibantu 99 % oleh orang tua. Kalau demikian sekolah ini lebih baik lepas dari status negeri dan menjadi swasta aja (kata kepala sekolahnya). SPP di sekolah ini, untuk kelas X (sepuluh) sebesar Rp. 200 ribu, dan kelas XI dan XII (sebelas dan dua belas) sebesar Rp. 150 ribu. Dan ternyata guru guru dan kepala sekolah di SMA unggullan berkarakter sabar, ikhlas, suka berbagi pengalaman dan ilmu, penuh senyum dan ceria selalu.
    Untuk sparing partner, diadakan debat bahasa Inggris antara SMAN 8 Pekanbaru dan SMAN 3 Batusangkar. Di batusangkar para siswa SMAN 3 Batusangkar tentu saja merasa the best. Namun ternyata di atas langit ada lagi langit. Selama debat siswa dari pecan baru tampak bersemangat, bukan karena mereka sebagai tuan rumah, namun karena mereka lebih percaya diri, punya wawasan luas dan jam terbang berlatihnya lebih lama.
    Pembinaan bahasa Inggris oleh David (berasal dari Amerika Serikat), mungkin bantuan tenaga ahli dari aminef yaitu kerja sama Indonesia dan amerika, telah berkontribusi dalam peningkatan kualitas bahasa Inggris anak anak di sana. David mengatakan bahwa kegiatan debate sangat bagus dalam mempertajam cara berfikir kita. Kegiatan positif untuk bahasa Inggris dsana adalah “kegiatan menggubah lagu berbahasa Inggris dan juga musikalisasi berbahasa inggris. 
    Wah tidak terasa, tiga hari terasa pendek untuk melihat pengalaman pengalaman sukses dari orang. Saya kira melihat dan bertukar pikiran tentang bagaimana cara sukses lebih baik dari  membaca satu kilo buku motivasi tapi tanpa aksi. Aktivitas berakhir, kami kembali menuju hotel dan malamnya ada kesempatan terakhir untuk sight seeing. Satu dua siswa dan juga guru memanfaatkan kesempatan untuk silaturahmi dengan handaitolan mereka. Saya juga mengunjungi family dan bermalam di jalan Cik ditiro.
    Au Revoir Kota Bertuah:
                Saya sarapan pagi dengan sepiring nasi goring di tempat family. Memanfaatkan moment yang sempit untuk menjepret jempret foto. Soalnya esok tak muingkin bisa mengabadikan event yang akan berlalu lagi. Jam 7.30 pagi saya diantar kembali ke hotel. Wow…aku terlambat, anak anak sudah pada menenteng tas mereka kea rah bis. Saya buru-buru berkemas. Dan setelah menit juga bisa beres.
                Tour leader mengajak kami untuk istirahat sejenak ke lokasi mesjid raya – masjid Annur- di pusat kota Pekan Baru, katanya Zahratul aina belum tiba dari rumah familinya. Kami sholat dan juga membuat acara perpisahan kelas. Dari tigas kelas tersebut, Buk yani Jago sekali menyentuh kalbu siswanya..anak anak perempuan air mata mereka mudah tumpah ke bumi. Habis iitu mereka tertawa kembali.
                Nah itu….zahratul sampai dengan taxi roda dua, dan semua naik bis melaju menuju daerah luak nan tuo nan tercinta. Cuma ada acara beli oleh oleh di Kampar, yaitu membeli keripik nenas dan nenas. Saya cuga mencicipi kerupuk nenas….habis beberapa keeping. Namun perut terasa mules (mungkin saat itu kurang pas untuk selera) dan pingin mencari toilet. Saya masuk obil lagi untuk menenangkan perut. Ternyata tubuh kita bisa ditenangkan hingga bis berhenti di pool. Saya Cuma membeli oleh oleh “pias kacang, kerupuk- wah zat pewarnanya banyak. Dimakan tiap hari bisa rusak ginjal”.
                Habis makan malam dan juga setelah sholat maghrib (dijamak dengan isya) mobil meluncur menuju Kabupaten limo puluh kota, Payaklumbuh. Dan saya dengar anak anak dan juga guru sudah kontak lagi dengan orang orang tercinta yang akan menjemput mereka.
    Sense Ayu…berfikir dalam berbicara dalam bahasa Jepang dialek Ibaraki. Saya tidak mengerti namun diperkirakan berarti “Jemput aku bang di simpang piladang aja, mobil ku mobil pemda…ya tigabelas kilometre lagi”. Pas dekat simpang Piladang saya lihat sudah ada seorang Pria dengan tubuh tegap, tingginya sama dengan Ade Ray dan juga atletis. “Itu kakak ayu…uncle”. booooom…bis melaju dibawah guyuran hujan. Untung memasuki Sungai Tarab dan Kota Batusangkar hujanpun reda. Bis kami berhenti dan sebagian orang tua menyambut anak mereka. Anak anak kost disambut oleh doa sahabat dan doa orang tua mereka dari rumah. Saya juga pulang bareng dengan bis mata air hingga pukul 12.00 mid night saya juga sampai di GAS- Griya Alam Segar. Alamnya memang segar dan sejuk. Perjalanan studi tour kali ini pasti telah membuat kenangan termanis dalam diri kami terutama dalam sweet memory siswa siswi SMA Negeri 3 Batusangkar. Sweet memory….sweet memory. (Ditulis oleh; Marjohan Usman, M.Pd     http://penulisbatusangkar.blogspot.com
     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel