Kekerasan Terhadap Siswa

Menyambut Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November 2016 kelak, saya tertarik menulis tentang perlakuan seorang guru kepada siswanya. Mirip sekali jika kita melihat banyaknya kasus pelecehan seksual, kekerasan psikis dan fisik yang diterima oleh anak-anak kita di sekolah. Dimana peran para pendidik kita sebagai orang yang diamanahkan untuk membina dan membimbing mereka di sekolah, setelah di rumah. Kali ini, saya akan menjelaskan perihal hal tersebut. Yukk kita bahas bersama.
Kekerasan terhadap siswa menurut saya disebabkan masih karena banyaknya pendidik yang belum memahami hakekat mendidik. Yang sangat memprihatinkan saya rasa adalah kepribadian pendidik belum mencerminkan seorang pendidik. Ini penting, mengingat karakter guru berpengaruh terhadap masa depan anak didik. Kata-kata yang diucapkan oleh guru ibarat anak panah yang dilepaskan dari busur dan menancap di hati anak didik. Misalnya kata-kata yang tidak simpatik dari guru menghancurkan semangat belajar para murid. Sebaliknya, kata-kata yang memberikan dorongan semangat akan sangat berharga dalam menumbuhkan motivasi belajar.
Gurulah orangtua bagi anak di sekolah, yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan dan kepribadian anak. Seorang guru harus bisa tenang dan tidak menunjukkan emosi yang menyala,tidak mempunyai prasangka yang buruk kepada peserta didiknya. Mereka juga dapat menyembunyikan perasaannya dari peserta didik dan sebaiknya memandang semua peserta didik sama. Sudah sepatutnya seorang guru mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bebas, motivator, dan semangat. Selain itu, mereka juga harus konsisten, tidak berubah-ubah pendirian dan jarang melakukan kesalahan. Mereka juga harus pandai, bijaksana dalam memperlakukan siswa dan mampu menjawab pertanyaan siswa serta sanggup memberikan bantuan secara maksimal kepada peserta didik. Jika hal tersebut dapat terlaksana, saya rasa kekerasan terhadap anak di sekolah tidak akan terjadi.

Kekerasan memang adalah hal yang seharusnya tidak terjadi dimanapun dan kapapun itu. Apalagi kekerasan ini menyangkut kekerasan yang dapat menentukan karakter anak didik. Ada hal menarik saya rasa jika kita melihat anak-anak di Cina, melalui tulisan dan gambar mereka mengungkapkan bahwa mereka ingin para guru menghormati harga diri siswa, sensitif terhadap kondisi emosi mereka, memberi kebebasan mengekspresikan diri dan bersikap adil pada semua anak apapun latar belakang, gender, kemampuan, dan ciri-ciri individual lainnya. Sebagian besar anak memimpikan guru-guru yang penyayang dan perhatian. Hal ini penting, mengingat di usia anak-anak secara biologi mereka cenderung berkata jujur. Kepolosan mereka berasal dari perkataan yang sebenarnya, tidak dibuat-buat. Kekerasan anak adalah perlakuan orang dewasa atau anak yang lebih tua dengan menggunakan kekuasaan/otoritasnya terhadap anak yang tak berdaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab dari orangtua atau pengasuh yang berakibat penderitaan, kesengsaraan, cacat/kematian. Kekerasan pada anak lebih bersifat sebagai bentuk penganiayaan fisik dengan terdapatnya tanda atau luka pada tubuh sang anak.

Kekerasan terhadap anak di sekolah sebagai bentuk penganiayaan baik fiisk maupun psikis. Penganiayaan fisik adalah tindakan kasar yang mencelakakan anak dan segala bentuk kekerasan fisik pada anak yang lainnya. Sedangkan penganiayaan psikis adalah semua tindakan merendahkan/meremehkan anak. Kekerasan terhadap siswa sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak-hak anak dan dibanyak negara dikategorikan sebagai kejahatan sehingga untuk mencegahnya dapat dilakukan oleh para petugas hukum. Hal ini akan mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikologi sosial maupun mental.

Kekerasan terhadap siswa dapat berupa kekerasan fisik mudah diketahui karena akibatnya bisa terlihat pada tubuh korban Kasus physical abuse: persentase tertinggi usia 0-5 tahun (32.3%) dan terendah usia 13-15 tahun (16.2%). Kekerasan biasanya meliputi memukul, mencekik, menempelkan benda panas ke tubuh korban dan lain-lainnya. Dampak dari kekerasan seperti ini selain menimbuBlkan luka dan trauma pada korban, juga seringkali membuat korban meninggal. Bentuk kekerasan secara eerbal, bentuk kekerasan seperti ini sering diabaikan dan dianggap biasa atau bahkan dianggap sebagai candaan. Kekerasaan seperti ini biasanya meliputi hinaan, makian, maupun celaan. Dampak dari kekerasaan seperti ini yaitu anak jadi belajar untuk mengucapkan kata-kata kasar, tidak menghormati orang lain dan juga bisa menyebabkan anak menjadi rendah diri. Selain itu mereka juga mendapatkan kekerasan secara mental dan Pelecehan Seksual.
Sangat disayangkan sekali, miris rasanya saya melihat berbagai bentuk kekerasan anak baik di sekolah maupun di lingkup keluarganya di rumah. Saya menghimbau kepada para orangtua harus waspada terhadap lingkungan bermain anak-anak mereka. Tidak hanya itu mereka juga harus selalu memantau perkembangan anak mereka di lingkungan sekolah, mengingat banyaknya kekerasan terhadap siswa. Apalagi dalam memasuki momentum hari guru nasional, kita perlu banyak belajar tentang pengalaman-pengalaman sebelumnya. Tidak ada lagi kekerasan terhadap anak, tidak ada lagi kekerasan terhadap siswa agar masa depan mereka dapat berjalan dengan baik menjadi generasi-generasi yang membanggakan bangsa.

Sebenarnya tulisan ini sudah diulas sebelumnya disini dengan judul “Kekerasan Terhadap Anak”Kalian dapat mengakses berbagai persoalan pendidikan anak-anak pada “anak.ependidikan.com” yang dapat kalian akses disini.


Demikianlah tulisan saya, terima kasih sudah membacanya
Oleh: Dwi Surti Junida
Kategori: Pendidikan