Cerita Subuh

Bismillah Ar Rahman Ar Rahiim
Assallamu’alaikum wr.wb
Ketika diminta untuk mengumpulkan sebuah cerita subuh dan bagaimana awal mula bertekad menjadi Pejuang Subuh, hal yang pertama kali terbersit dalam pikiran adalah rasa syukur dalam diri bahwa Allah telah mengetuk hati dan pikiran serta mempertemukan saya dengan para saudara seiman yang berjuang bersama untuk menegakkan Shalat Subuh dan memakmurkan masjid.
Sebuah akun yang awalnya sempat membuat saya heran karena namanya yang cukup ‘menantang’ para followers yaitu @PejuangSubuh. Arti ‘pejuang’ disini bagi saya merupakan sebuah hal sepele, tak sampai berpikir pada awalnya bahwa memang memerlukan pengorbanan yang besar dalam diri hingga akhirnya bisa benar-benar disebut ‘Pejuang Subuh’ dan naik menjadi ‘Mujahid/ah Subuh’.

Sejatinya, kita semua memang harus menjadi ‘Pejuang dan Mujahidah’ Subuh. Permasalahannya hanya terletak pada diri yang masih mau ‘dipermainkan’ syaitan untuk bangun lewat dari Adzan Subuh dan ‘merasa’ tidak berdosa dan melakukan hal wajar (naudzubillah). Berdasarkan pengalaman pribadi menjadi seorang ‘Pejuang Subuh’ lalu bertekad menjadi ‘Mujahidah Subuh’ merupakan perjuangan yang membuat saya sadar bahwa perjuangan untuk menggapai Ridha dan mendekat secara utuh kepada-Nya adalah perjuangan yang membutuhkan pengorbanan.
Keyakinan yang Allah berikan untuk makin memperkuat niat istiqamah menjadi ‘Pejuang Subuh’ terjadi saat Saya berinisiatif mengikuti acara #SilaturahimSubuh yang diadakan oleh @PejuangSubuh pada 24-25 Desember 2012 lalu. Acara mabit selama dua hari yang berhasil membuat saya semakin ‘tertampar’ dan bertekad untuk berjuang bersama-sama para pejuang yang lain untuk menegakkan tiang agama (Shalat tepat waktu) terutama dalam bahasan kali ini adalah Shalat Subuh demi mewujudkan kebangkitan Islam.

“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafiq adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimani manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka”
(HR.Al-Bukhari no.141 dan Muslim no.651)

Setiap pemaparan demi pemaparan yang dijelaskan oleh masing-masing Ustadz membuat Saya tidak kuasa menahan tangis dalam diri. Menangis karena telah banyak melewatkan waktu-waktu emas ketika tiba waktu subuh dan masih dalam keadaan terlelap. Menangis karena telah banyak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk ‘berinteraksi’ dengan Allah saat sepertiga malam ketika banyak orang masih sibuk dengan mimpi padahal Allah datang untuk menyambut hamba-hambaNya yang beribadah (Tahajud).
Tidak kuasa menahan tangis dalam diri karena penyesalan bahwa Saya telah banyak dibuat Syaitan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan emas untuk menghidupkan sepertiga malam dan memakmurkan waktu subuh serta shalat tepat waktu. Dan saya bertekad, tidak akan membiarkan Syaitan mengambil waktu-waktu emas saya didunia. Mampukan kami ya Rabb..
Tekad untuk mengikuti program @PejuangSubuh untuk istiqamah menegakkan salat subuh tepat waktu selama 40 Hari bagi Ikhwan (laki-laki) dan 21 Hari bagi Akhwat (perempuan) tanpa putus. Tak bisa dipungkiri peran keluarga untuk membangunkan lebih ampuh daripada alarm. Mama yang memang sudah menjadi ‘pejuang subuh’ tepat waktu dan istiqamah Tahajud setiap malam selalu membangunkan saya di awal-awal perjuangan untuk menjadi seorang ‘pejuang subuh’.
Lewat seminggu dan benar-benar berniat serta selalu berdoa agar Allah memampukan untuk dapat bangun di sepertiga malam dan menunggu subuh, seperti sudah ada alarm otomatis dalam diri untuk tiba-tiba terbangun di sepertiga malam dan tidak ada kantuk dalam diri saat menunggu tibanya waktu subuh.
Menjadi pejuang subuh tidak hanya berefek pada kondisi waktu jam tidur yang menyehatkan karena bangun di awal subuh, lebih dari itu keinginan dalam diri menjadi semakin kuat untuk semakin mendalami ilmu agama serta dalam hal berpenampilan. Jika dulu saya masih sering memakai Jeans bahkan hampir tidak pernah memakai rok apalagi gamis, kali ini Alhamdulillah saya sudah meninggalkan Jeans dan beralih ke Rok serta gamis. Jika dulu saya masih mengenakan kerudung paris dan tipis, sekarang saya sangat memperhatikan kerudung agar jangan sampai menerawang dan memperlihatkan rambut. Jika dulu saya masih mengikuti les vokal dan musik, sekarang saya mulai meninggalkan musik dan bertekad menjadi seorang Hafidzah. Aamiin ya Rabb.. Mampukan kami, Rabb..
Selain perubahan dalam diri, Allah juga mempertemukan saya dengan para pejuang subuh lain yang bersama-sama bertekad menegakkan tiang agama dan memakmurkan masjid. Alhamdulillah, Sujud Syukur hanya kepadaMu, Rabb..
Saat ketukan hati, hidayah dan kesempatan untuk menjadi lebih baik datang