Perjumpaanku yang Terakhir Kali Dengan Ayah

Perjumpaanku yang  Terakhir Kali Dengan Ayah
Oleh: Marjohan
http://penulisbatusangkar.blogspot.com
            Sudah 8 tahun aku tidak berjumpa lagi dengan ayahku. Saat itu aku ditelpon agar segera menuju rumah sakit M.Jamil Padang. Sebelumnya aku juga telah  lama tidak berjumpa dengannya yaitu ada selama sepuluh tahun pula. Itu berarti bahwa aku kehilangan figure ayah selama belasan tahun dan berarti  masa anak-anak dan masa remajaku hampa dari sentuhan dan kasih sayang seorang ayah. Apakah ayahku seorang pria yang sibuk ? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menjawabnya.
            Ternyata aku masih punya memori dengan ayah. Saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar aku dibawa ke Padang, ke kampung ayah. Di Koto tangah Lubuk Minturun- Padang. Saat itu transportasi tidak begitu lancar, aku dan ayah berjalan kaki dari pasar Lubuk Buaya menuju Ikur Koto, terus ke Rumah nenek jauh sekali rasanya…dibalik hamparan perkampungan orang dan sawah. Yang aku ingat adalah kebahagiaan di awalnya saja, namun dalam perjalanan aku merasa tersiksa karena kakiku merasa capek dan pegal-pegal. Aku harus berjalan mengikuti langkah ayah dengan kakinya yang panjang.
            Aku hampir menangis dan hampir rubuh karena harus berjalan menuju ujung jalan yang amat jauh. Aku ingin saat itu bisa naik sepeda atau bisa digendong oleh ayah. Namun aku tidak terbiasa bermanja- manja. Akhirnya aku (kami) sampai juga di rumah nenek. Di sana aku jadi tahu tentang cerita  ayah dan saudara- saudaranya.
            Ayah adalah anak laki-laki satu-sarunya dari ia memiliki 3 orang saudara perempuan. Diperkirakan ayah termasuk anak yang manja. Namun ternyata tidak, malah waktu kecil ayah termasuk anak paling bandel. Hingga ia pernah diusir atau lari dari rumah.
            Suatu hari ayah pulang sekolah dengan perasaan lapar. Namun nenek mengatakan bahwa tidak ada makanan buat dimakan. Diam-diam ayah menjumpai ada makanan dan gulai rendang tersembunyi. Merasa dibohongi, maka ayah menghabiskan semua gulai tadi kemudian dengan rasa sakit hati ayah melumuri sprei kasur dengan saus/ cabe dan sisa makanan. Melihat karakter  ayah yang demikian, nenek juga marah besar. Sehingga akibatnya ayah lari ke desa lain dekat  kota Padang Panjang.
            Ayah tumbuh jauh dari orang tuanya. Dalam pelarian ayah memperoleh banyak pengalaman. Ia pernah belajar sebagai pandai emas atau tukang emas  di kota Padang Panjang. Diceritakan bahwa saat muda, ayah juga pernah ikut pergi berdagang ke Tanjung Pinang- Kepulauan Riau. Tentu saja ayahku harus berperilaku baik selama tinggal dengan orang lain.
            Dalam masa remaja, ayah mencoba untuk pulang ke kampungnya. Ternyata semua familinya sudah kangen dengan dia. Kedatangan ayah, sebagai anak yang hilang, disambut dengan penuh suka  cita. Selama tinggal di kampungnya lagi – dengan nenek dan kakek, tentu ayahku tidak perlu bekerja keras, karena kebutuhan makan dan minum bisa diperoleh dari orang tuanya.
            Dalam masa remaja, tentu saja ayahku memiliki teman khususnya. Dan yang aku masih ingat bahwa ayah jatuh cinta dengan gadis satu kampungnya yang bernama “Banir”. Berarti ayah nikah dalam usia yang sangat muda.  Ayah memperoleh seorang anak perempuan. Namun aku yakin, bahwa ayah tidak memperlihatkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dan juga sebagai suami. Barangkali itu adalah gara-gara factor ekonomi atau keuangan. Ya akhirnya ayah ku bercerai dari istri pertamanya dan ia segera menjadi duda dalam usia remajanya.
            Dasar  pria yang gampang jatuh cinta, ayah jatuh cinta lagi dengan seorang gadis. Gadis tersebut bernama “Nurlaya” yang juga berasal dari Padang. Perkawinan ayah yang kedua tidak seumur jagung, lebih lama dari pernikahannya yang pertama. Agaknya sebagai seorang suami, ayah  belum bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga dan pasti mereka sering cekcok dan ayah orangnya bersifat keras kepala dan sensitive, itu karena ia sempat tumbuh dalam pemanjaan namun ttidak dilatih/ diajari tanggung jawab. Maka suatu hari ayahku dan istri keduanya naik kereta api menuju Bukittinggi. Selama dalam perjalanan mungkin mereka penuh cekcok. Klimaks  pertengkarannya terjadi di Kayutanam, kereta api berhenti dan ayahku “mengatakan good bye” selamat tinggal selamanya untuk perkawinannya yang kedua. Begitu mudah bagi ayahku menikah, begitu muda bercerai dan meninggalkan/ melupakan anak-anaknya.
            Ya kembali ayahku bertualang dalam hidupnya. Akhirnya ayah ikut-ikutan sebagai tentara pemberontak melawan pemerintahan pusat, ia pro dengan pemerintahan Ahmad Hosen untuk membentuk negara PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Ayahku sampai ke Lubuk Alung. Di sana ia jatuh cinta lagi untuk yang ke tiga kalinya dengan seorang wanita. Wanita tersebut adalah ibuku sendiri.
             Saat itu ibu berstatus masih punya suami, seorang tentara. Namun sudah satu tahun tidak pulang-pulang karena pergi bertugas ke daerah Jambi. Wah…ibuku terlibat cinta dengan seorang pria, kelak sebagai calon ayahku. Mereka jatuh cinta dan tentu saja semua family tidak setuju- karena status ibu masih sedang bersuami-  hingga akhirnya berita cinta   segitiga ibu tercium oleh suaminya. Akhirnya ibu diberi surat cerai- diberi talak tiga. Ibu sangat bersedih dan ibarat berjalan di awang-awang, namun ibu  juga sangat gembira dengan kekasih barunya- yaitu calon ayahku.
Tampaknya ibu dan ayah tidak bisa dipisahkan, ya ada gula da semut rupanya. Mereka menikah dan selanjutnya hidup sebagai suami istri. Saat itu ibuku juga telah punya 3 anak dari perkawinan sebelumnya- namun ibu juga menikah dalam usia yang amat muda. Anaknya yang tua saja memanggil “kakak” padanya. Saat itu ayah berhenti sebagai tentara pemberontak, karena tidak ada jaminan financial dan ayah juga sebagai pria pengangguran. Namun ibuku termasuk wanita yang kreatif dan mandiri. Ia mengajak ayah untuk berdagang makanan dan pada hari-hari senggang menjadi nelayan di sepanjang aliran sungai “batang anai”.
                Kata ibu bahwa saat aku lahir, rezki mereka melimpah. Kalau berdagang ya…laris, kalau menangkap ikan…hasilnya berlimpah. Kata ibu bahwa saat aku lahir ..ayah lulus menjadi polisi. Itulah maka aku memperoleh perlakuan sedikit ekstra baik oleh ibu. Aku tidak boleh dimarahi terlalu kasar oleh ayah.
Akhirnya ayah diangkat menjadi polisi di Resor Kepolisian 303  Kota Payakumbuh dan kami semua diboyong ke sana. Kehidupan pun berobah. Ibuku juga tetap menjadi wanita yang mandiri, ia mengasuh kami dan juga membantu karir ayah sebagai polisi. Ibu cukup pintar mengelola keuangan, walau pangkat ayah kecil, kami tidak pernah kekurangan uang. Ibu punya ternak unggas- itik dan juga ternak ayam. Kalau ada uang, ibu paling senang menabung dalam bentuk emas. Kalau berpergian, aku sering melihat tubuh ibu dihiasi oleh banyak perhiasan emas.
                 Dalam hidupnya, sebagai polisi berpangkat rendah, ayahku cukup pintar. Ia juga membuat usaha bisnis dengan teman-temannya. Sambil bertugas sebagai polisi, ayah juga berbisnis ternak ayam, bisnis daging sapi, bisnis penebangan kayu untuk diekspor. Waktu aku kecil aku melihat bahwa ayahku juga memiliki sebuah truck, mobil Chevrolet dan rice milling, namun aku aku tidak pernah tahu bagaimana caranya ayah memperolehnya.
                Saat aku kecil hingga remaja, aku melihat ayah jarang di rumah. Ya kalau di rumah ia cuma banyak tidur, pantaslah adik-adiku juga banyak. Sekali aku ingat, aku diajak ayah naik sepeda motor sejauh  250 km. Saat itu merupakan sebuah perjalanan yang eksotik. Namun aku paling bosan menunggu ayah yang ngobrolnya dengan temannya kelewat lama. Aku juga senang kalau diajak ayah ke tempat teman-temannya karena aku pasti bakal dikasih oleh-oleh dan uang yang banyak.
                Ada satu hal yang aku suka protes. Yaitu bahwa ayah kurang mendukung proses pembelajaranku di rumah.Padahal aku sendiri anak yang sangat rajin dalam belajar Suatu hari aku tengah asyik belajar di rumah dan ayah dengan grupnya datang hendak bermain domino. Aku pasti terganggu dengan suara dan suasana yang buka budayaku, lantas aku protes, aku lempari atap rumah dengan batu bata, agar mereka berhenti mengganggu ku. Sebagai protesku yang lain adalah aku mengempeskan motor- motor teman ayahku, agar mereka jera datang dan menggangguku dalam belajar. Itulah ayahku tidak pernah marah pada ku hingga ia pindah tempat ke tempat lain.
               Ternyata ibuku lebih tua usianya beberapa tahun dari ayahku dan api cinta mereka mulai meredup dan rumah tangga mereka sering cekcok. Hari-hari yang ku lihat dan ku dengar adalah percekcokan ayah dan ibu. Pernah ayahku marah sambil mengacungkan revolver (pistol) pada ibu. Dan aku pun juga pernah main main pistol dan secara tidak sengaja meletus….dor… dan untung aku tidak menembak kakakku. Sejak itu, pistol dijauhkan dari jangkauanku.
              Maka aku dan saudaraku yang lain dibesarkan dalam suasana rumah yang penuh cekcok- broken home-  sepanjang hari. Aku sendiri selama dua tahun lari dari rumah dan memilih tinggal jauh dari rumah dan begitu juga dengan kakakku. Untung  saja nilai pelajaran ku tidak begitu jelek dan tidak terjebak dalam menghisap obat terlarang. Malah walau aku berasal dari rumah yang broken home, aku pernah beberapa kali juara di kelas dan selebihnya masuk nilai tujuh besar.
                Hubungan cinta ayah dan ibu makin genting, karena ada wanita lain dalam hidup ayah. Pernah suatu kali ibuku lari ke Jakarta dan menelantarkan kami anak-anaknya. Namun family yang di Jakarta memberi ibu  nasehat agar bersabar dan itu  juga demi anak-anak- biarlah ayah berkarakter demikian asal keuangan tetap lancar.
Masa depan dan studiku ku saat itu merasa terancam, namun untung ibu pintar menabung dan ia memiliki cadangan emas untuk membiayai kuliahku. Aku takut memilih jurusan dan universitas yang bakal menghabiskan banyak dana dan waktu yang lama. Aku memilih kuliah di Padang saja, dan batal untuk kuliah ke pulau Jawa. Suatu hari ibu dan ayah bakal bercerai dan kami bakal berpisah-pisah dalam pengasuhan berbagai family. Hubungan cinta ayah dengan wanita lain makin menggila. Ia malah pergi jauh dari rumah dan hidup bersama wanita yang baru. Demi keselamatan pendidikan aku menjadi masa bodoh dengan urusan pertengkaran  ayah dan ibu.
                 Akhirnyya aku kuliah di Universitas dan juga bias mengembangkan diri agar aku bias mandiri kelak bila selesai kuliah. Aku bekerja sambil kuliah, menjadi pemandu wisata, memberi   lest privat bahasa Inggris untuk anak-anak orang yang berduit. Untuk keuangan aku tidak memperoleh kesulitan. Aku memperoleh uang yang cukup dari orang tua dan aku juga dapat uang sendiri, aku bisa menabung dan aku beli cincin emas sebagai tabungan.
                 Perkawinan ayah dan ibuku kandas sudah, ibuku sering sakit dan sengsara- ibu sering kujumpai menangis dan meratap sebagai istri yang dibuang oleh suaminya. Namun itu sudah menjadi pemandangan biasa bagiku- kadang kadang aku juga membujuk ibu bahwa tidak ada gunanya larut dalam kesedihan. Aku bisa melepaskan diri dari keruwetan rumah tangga. Sejak ayahku punya  wanita simpanan dan suka cekcok dengan ibu maka  aku  merasa  kehilangan idola/ figure ayah. Ada pengaruhnya terhadap jiwaku, pada mulanya aku sedikit jadi sulit jatuh cinta. Namun aku menguasai emosiku hingga aku bisa memperoleh cinta lagi dari seorang gadis  yang cantik menurutku namun punya karakter yang sederhana.
                Akhirnya bantuan keuangan ayah untuk ibu nyaris putus. Sehingga ibu ku pernah menjadi buruh pada rumah tetangga. Untung aku segera lulus dari Perguruan Tinggi dan segera punya pekerjaan. Gajiku aku tabung dan juga aku gunakan untuk membantu ibu. Ibu akhirnya ditinggal pergi oleh ayah. Aku melarang ibu untuk berduka dan menangis, karena ibu masih punya anak- anak yang baik dan bisa mengabdi ke orang tuanya.
                Ibuku menjadi wanita yang nestapa dan memutuskan kembali ke kampung ke Lubuk Alung. Ia berniat untuk mengisi hari-hari dan mengobat hatinya yang terluka gara-pgara cinta ayah yang lenyap dari kalbu ibu.  Ibupun  bisa menjadi tegar sekali dalam hidupnya, aku tiap bulan datang berkunjung an ikut berbagi rezki dengan ibu. Ibu bersyukur, walau cintanya hancur namun lima orang anak anaknya bisa memperoleh masa depan, bisa bekerja dan juga lulus dari perguruan tinggi.
                Kami semuanya patungan untuk menghidupi ibu dan membiarkan ayah dan gajinya untuk bersenang- senang di tempat kerajaan cintanya. Sejak masa remajaku hingga aku menginjak dewasa aku tidak lagi berjumpa dengan ayahku selama belasan tahun- kami tidak ingin mencari ayah dan sudah mengikhlaskan ayah untuk hidup senang pada istana cintanya yang baru. Dari dalam hati bahwa ternyata aku cukup rindu dengan cerita- cerita ayah. Namun suatu hari aku memperoleh berita/  telepon “Harap segera datang” sangat penting. Bahwa ayah tersungkur dan koma, dilarikan ke rumah sakit M.Jamil Padang.
                 Kami segera berkumpul menuju rumah sakit. Perjalananku dan saudaraku yang lain dengan mobil travel terasa lambat dan sunyi menuju rumah sakit. Kami tiba di gerbang rumah sakit setelah maghrib. Aku mencari tahu di mana posisi  ayahku “Kamaruddin Usman”. Akhirnya aku menemui ayah pada pada sebuah ruangan ICU, aku diizinkan masuk. Aku mendapati ayahku dalam keadaan koma. Ajaib bahwa saat kami datang/ masuk  ayah sempat membuka matanya melihat kami dan menangis namun setelah itu mata ayah terpejam untuk selanjutnya. Ayah masih bernafah dengah susah payah, dibantu oleh oksigen luar. Kadang-kadang air matanya bercucuran- barangkali ayah menyesal yang mendalam- namun kami harus memafkan dan kami tidak marah dan dendam pada ayah. Buktinya kami masih datang dan member ayah ciuman.
                Aku berada di rumah sakit hampir sepuluh hari. Itu berarti ayahku dalam keadaan koma juga sudah sepuluh hari. Kami yakin bahwa ayah tidak bakal sembuh lagi maka kami memberi  khabar kepada family di  kampung ayah bahwa kalau tiba khabar jelek “ayah meninggal” maka harap segera dipersiapkan kuburan buat ayah disebelah kuburan nenek.
Akhirnya ayah dinyakan meninggal dunia. Aku bingung apalagi saat itu juga ada anak kecil usia 10 tahun  menangis mendekati mayat ayahku, aku berfikir “Siapa sih bocah kecil yang juga ikut menangis”. Ternyata ia adalah bocah kecil hasil cinta ayah dengan wanita simpanannya. Aku akhirnya memeluk bocah kecil tersebut dan ikut  menghiburnnya bahwa aku adalah kakak satu ayah dengannya. Aku usap air matanya dan kami bawa jasad ayah ke kampungnya.
Hari-hari terasa sunyi. Setelah belasan tahun tidak berjumpa dengan ayah dan bercanda dengan ayah maka aku jumpai saat sudah mau sekarat terbujur jadi mayat. Sore itu langit mendung, aku ikut mengantarkan jasad ayah ke dalam kuburannya di Desa Lubuk Minturun dekat Padang. Aku amat sedih dengan kepergian ayah. Aku juga ikut mengakat dan meletakan jasad ayah ke dalam liang lahatnya. Tubuh ayah masih berisi kekar dan gagah. Aku mengingat- ingat hari indah bersama ayah dan melantunkan doa pada Sang Khalik buat memafkan ayahku. “Tuhanku…maafkanlah ayahku….sayangilah ayahku…” Aku ikhlas sekali melepas ayah hingga airmataku dengan mudah meluncur membasahi pipiku. Saat itu dalam mpenghujan dan tiba-tiba hujan turun lebat, membasahi bumi dan airnya tumpah ke dalam kuburanm ayahku. Aku dan saudaraku yang lain tetap menyelesaikan penimbunan tanah kuburan ayahku- air mataku lenyap bersama derasnya air hujan.
                Malam itu aku tidak bias tertidur. Fikiranku melayang jauh bersama memoriku, pengalaman indah tentangku dan ayahku bergulir lagi. Walaupun bagaimana karakter ayahku, ia adalah tetap pahlawan terbaik bukan aku dan saydara- saudaraku. Aku ajak ibu untuk memaafkan ayah. “Ibuku maafkanlah ayah karena aku dan saudaraku yang lahir adalah karena adanya engkau dan ayahku”. Aku tidak pernah tahu bahwa apakah ibu memaafkan ayah atau tidak namun buatku ayah adalah pahlawan ku dan aku tetap mencintai ayahku.