Saatnya Bintang “INS Kayutanam 1926” Bersinar Terang Lagi

Saatnya Bintang “INS Kayutanam 1926” Bersinar Terang Lagi
Oleh: Marjohan, M.Pd
(Pencinta INS Kayutanam
dan Guru SMAN 3 Batusangkar)
Dalam masa sekolah dahulu, setiap kali melewati jalan raya Padang- Bukittinggi, maka yang selalu penulis ingat di kawasan lembah anai dan Kayutanam adalah dua hal, yaitu air mancur dan nama “INS Kayutanam 1926”. Pada komplek INS tertulis kata “Ruang Pendidik”. Dulu, dalam tahun 1980-an, komplek INS tidak begitu terawat dan tampak seakan-akan telah ditinggalkan oleh pemilik dan stakeholdernya.
Orang-orang awam tentu berfikir “Komplek apakah ini ? Bekas sekolah, gudang logistic atau pabrik peninggalan penjajah ?”. Orang-orang yang punya visi bisnis pasti memasang telinga kalau-kalau komplek tua dengan lahan luas bakal dilelang. Apalagi posisinya amat strategi yaitu di pertengahan jalan utama Padang- Bukittinggi, maka pasti mereka berebutan untuk memenangkan tendernya.
Memang benar bahwa “Ruang Pendidik INS Kayutanam 1926 adalah sebuah pabrik otak (baca sekolah)” yang pernah berjaya dan telah menghasilkan manusia-manusia jempolan di negeri ini. Sebut saja nama nama seperti “AA Navis, dan Muchtar Lubis- sang penyair, Bustanil Arifin, FA Moeloek- sang Menteri, Idraman Akmam- direktur BUMN, Djang Jusi dan Mucntar Apin- tokoh intelektual, dan lain-lain . Mereka adalah segelintir lulusannya yang diasah melalui komplek INS Kayutanam 1926 hingga menjadi permata yang bersinar terang.
Sekarang mereka ada yang sudah jadi almarhum dan juga banyak yang masih hidup. Pasti mantan murid INS Kayutanam 1926 yang masih hidup masih tahu banyak tentang figure ‘Engku Mohammad Syafei”. Mereka tentu masih bisa menjembatani fikiran Engku Syafei dengan generasi muda sekarang- kalau tidak tentuk ide dan filosof hidup Engku Syafei akan terputus. Maka selagi para mantan INS Kayutanam masih hidup, mereka patut menjadi key informan untuk mengumpulkan informasi seputar Engku Syafei hingga tergubah senarai fikiran dari Engku Syafei. Bila tidak “ya…nama Engku Sayafei akan menjadi kenangan indah atau malah dilupakan”.
Memang benar bahwa INS Kayutanam adalah pabrik otak. Dikatakan pabrik karena disana ada siklus belajar dan pembelajaran yang dimulai dari siklus “input-proses dan menghasilkan output-outcome’.
Kalau tidak salah, INS sudah berulang-ulang berganti nama. Pada mulanya bernama “Indonesia Nederlandische School”, kemudian menjadi “Institut Nasional Syafei”, dan sekarang menjadi “Institut Talenta Indonesia 2020”. Tentu ini semua punya dasar visi dan misi.
Perguruan Nasional Ruang Pendidik INS Kayutanam didirikan tahun 1926, oleh Engku Mohammad Syafei, memang bertujuan untuk mendidik siswa agar punya jiwa merdeka, aktif-kreatif, mandiri, beretos kerja tinggi, memiliki dasar berbagai ketrampilan/hard skill. Kalau siswanya lulus, maka mereka harus mampu hidup/mandiri (berjiwa entrepreneur). Mereka tidak mengemis pekerjaan kepada pemerintah- saat itu pada pemerintahan Belanda. Karena Engku Sjafei menyadari bahwa sistem pendidikan yang dirancang oleh Belanda pada saat itu adalah untuk mendidik bangsa Indonesia agar bekerja dengan pemerintah colonial Belanda. Yaitu bermental buruh- berkarakter pembantu- (sekali lagi) yang hanya bisa bekerja jadi pegawai Belanda.
Visi dari Engku syafei ini terrefleksi dari para lulusannya INS 1926 yang memang berjiwa kreatif, beretos tinggi, mandiri dan berjiwa merdeka. Saat menuntut ilmu di INS 1926, diperkirakan bahwa Arbi Samah, Nasrun AS, MUchtar Lubis tidak pernah berfikir menjadi PNS “Pegawai Negeri Sipil” pada saat itu. Namun karena etos belajar yang begitu dahsyad maka kemudian mereka menjadi budayawan hebat. Begitu pula dengan Djang Jusi, Mahyudin Algamar, Surkani, Zaini, Hasnan Habib, sebagai contoh, karena etos belajar yang tinggi, fikiran kreatif serta karakter endeavour (suka kerja keras dan serius) maka mereka menjadi orang terkemuka di negeri ini.
Zaman berubah dan perubahan social-pendidikan dan budaya pun terjadi. INS juga dilanda oleh perubahan. Seharusnya stakeholder INS Kayutanam 1926 selalu mengupdate diri- melakukan evaluasi: koreksi dan revisi. Namun Aditi Husni (Cucu Engku Muhammad Syafei), dalam emailnya pada penulis, menyadari bahwa pemiliki dan pengurus INS Kayutanam 1926 tidak / belum melakukan regenerasi tentang manajemen INS Kayutanam, dan baru sekarang terjadi revitalisasi INS walau agak terlambat. Tapi “better late than never”, biarlah terlambat dari pada tidak pernah sama sekali.
Andaikata INS tidak/ belum bisa berkembang pesat, itu bukan kesalahan Engku Muhammad syafei dan para penggantinya, tetapi itu adalah kesalahan kita. Tetapi tidak perlu untuk meratapi kesalahan. Maka yang tepat adalah “mari berbuat sesuai dengan kemampuan dan potensi diri masing-masing untuk sama-sama melakukan revitalisasi (menghidupkan kembali) pesona INS dan Fikiran Engku Muhammad Syafei ini.
Dalam dunia manajemen ada analisa “SWOT” yaitu “Strength- Weakness- Opportunity- Threatening”. Maka INS Kayutanam 1926 pun memiliki kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan. Kelebihan atau kekuatan INS Kayutanam 1926 adalah bahwa ia “memiliki alumni yang bernas dengan jumlah cukup banyak, berpotensi untuk memajukan melalui kekuatan financial dan akademik yang mereka miliki. Juga ia memiliki areal tanah 18 hektar”. Sehingga akan memberikan opportunity (kesempatan) untuk beraktivitas dan berkreativitas untuk ikut mencerdaskan anak-anak bangsa ini.
Kata Aditi Husni bahwa areal INS seluas itu sangat memungkinkan untuk melakukan berbagai usaha/kegiatan yang produktif. Tentu saja butuh pemikiran dan usaha bersama untuk “MAANGKEK BATANG TARANDAM” ini.
Ancaman dan kelemahan INS selama ini, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr F.A Moeloek dalam e-mailnya pada penulis adalah menemukan “kepemimpinan” dan “guru-guru”yang sesuai untuk “membangkikkan batang tarandam”, untuk perguruan/sekolah tersebut, sesuai dengan filosofinya.
Penulis punya grup pada face-book yang judulnya adalah “Indonesia Cerdas” dengan anggota hamper 2000 orang. Kemudian berganti nama menjadi “Pencinta INS Kayutanam 1926”, sehingga anggota bertanya bertanya “Kenapa grup kita berganti nama ?”. Ya
itu karena penulis juga terpanggil untuk ikut mensosialisasikan INS Kayutanam dan
Pemikiran Engku Mohammad Syafei.
Ke dua nama di atas memiliki kekuatan nama “Engku Syafei dikenal sebagai tokoh pendidik yang berfikiran modern dalam zaman yang belum modern”. Pastilah beliau orang yang hebat, karena beliau tidak meningggalkan karya tulis sebanyak Buya Hamka (Alm) maka tugas kita para pengagum dan pencinta fikiran beliau untuk menulis dan mensosialisasikan idea tau opininya. Kemudian nama “INS Kayutanam 1926 juga sangat popular karena telah melahirkan lulusan berkualitas ibarat intan atau permata- namun prosesnya terjadi. Lulusan tersebut selalu tumbuh dan menjadi tua, sebagian masih hidup dan sebagian lagi telah berpulang. Karena alumni ini mengikuti proses pendidikan langsung dari Engku Mohammad Syafi, maka- sekali lagi- bahwa mereka layak menjadi sumber untuk mengupas tentang pilsafat hidup dan filsafat pendidikan dari Engku Mohammad Syafei.
INS Kayutanam 1926 masih eksist dan nama Engku Mohammad Syafei masih harum. Namun kedua nama ini perlu selalu diupdate- perlu sosialisasi total. Jaya selalu INS Kayutanam 1926 dan harumlah selalu pemikiran Engku Mohammad Syafei, hingga saatnya dan saatnya bintang “INS Kayutanam 1926” Bersinar Terang Lagi.