Unik dan Aneh *2

Oleh: Iyanahs
Kontak Person: http://iahsdomus.blogspot.com

Siang itu Mall Panakukang cukup dipadati oleh manusia-manusia yang katanya ingin mencari hiburan. Tapi alasan I ke Mall siang itu, tidak seperti alasan mereka. I berada ditengah-tengah pakaian serba indah namun indah harganya pula, berada diantara aroma roti yang menggugah selera dan mengempeskan dompet kalo nafsunya diturutin dan diantara pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran karena harus menemani Dee belanja. Besok pagi sepupunya itu akan ke Bali, jadi katanya harus belanja dulu, nanti di Bali belanja lagi (ya ampun……..!!!).

Setelah seharian berkeliling dan memasuki banyak toko, kini mereka sedang duduk didekat salah satu tempat playfun untuk menemani adik Dee yang baru tiba di Mall itu setengah jam yang lalu. Berbeda dengan mereka yang masih terlihat segar bugar untuk jalan-jalan, kaki I mulai kesemutan gara-gara berdiri kelamaan di salah satu toko hanya untuk mencari satu sendal. Ya……semoga saja I nggak farises. Sementara ketawa-ketiwi melihat tingkah laku adiknya Dee yang bisa dibilang lagi cari perhatian, matanya tertuju pada seorang cowok.


“Dee, coba kamu lihat cowok yang pake sweater abu-abu diarah jam 12.” Dee mencari seorang cowok sambil mencocokkan dengan jam tangan yang dia gunakan (capek deh!!!!).


“Kenapa dengan cowok itu?”


“Tinggal dipakein wig ama lipglos, dia udah bisa bikin jantung cowok kebat-kebit soalnya dia cantik banget.”


“Hehehehe…………….”


Waduh! Cowok itu berjalan menuju kearah mereka dan kini tepat berada dibelakang I. I pura-pura mengecek sms untuk mencari kesibukan, karena kelamaan membaca sms yang sudah basi, ia mencoba memberanikan diri memutar kepala 90 derajat dan memastikan bahwa cowok itu sudah nggak ada dibelakangnya. Hufh……..akhirnya cowok itu pergi juga hampir aja I kena damprat kalau ketahuan lagi ketawain dia.


“Kak temenin ke ATM yuk” rengek Dee saat keadaan sudah aman.


Sementara berjalan menuju ATM, Dee tiba-tiba mengatakan kalau mereka berpapasan dengan cowok cantik itu lagi. Ya…..otomatis I mencari sosok cowok cantik itu yang ternyata kini berjalan tepat disampingnya. Secepatnya I berpaling dari cowok itu dan berlalu melesat bagaikan angin puting beliung. Karena hari sudah sore Dee pamit pulang duluan, tapi I tidak ikut pulang bersama Dee karena masih pengen jalan-jalan dulu.

***

”Hei!”


Wajah I merengut melihat sosok yang menyapanya.


”Muka kamu kok kayak gitu?.”


”Ada apa?”


Cuma senyum.


”Ada apa?”


“Kok ada apa! Mestinya kamu seneng dong aku sapa.”


“Ngapain juga aku mesti seneng.”


”Dari tadi kamu merhatiin aku kan. Kagum ya!”


Tersenyum dan sama sekali tidak ramah, ”Ya….ampun, tolong deh nggak pake narsis.”


”Kamu nggak usah pura-pura, emangnya kamu pikir tadi aku nggak ngeliat kalo kamu ketawa-ketiwi sama temen kamu waktu ngeliat aku.”


”Halo…..emangnya ketawa-ketiwi itu dah pertanda kagum ya!”


”Yup!”


”Gini ya….aku nggak suka ada orang yang kegeeran. Asal kamu tau aja, tadi itu bukan teman aku tapi sepupuku dan tadi itu juga bukan pertanda kagum sama kamu, kami ketawa karena heran aja ada cowok yang bukannya ganteng tapi kok cantik ya!”


Diam.


”Kenapa? Kok diam nggak bisa narsis lagi ya!”


Senyum, manis banget (ih apaan sih).


”Maaf deh kalo gitu, aku pikir kamu kagum sama aku.”


Sambil menghela napas, ”Aku juga minta maaf dah bilangin kamu cocan(cowok cantik)”. I pun segera beranjak dari tempat itu.


”Eh tunggu dulu dong kok main nyelonong aja! Aku dah habisin waktu aku beberapa menit untuk kamu, masa’ aku nggak dapat apa-apa, minimal kenalan.”


”Maaf ya! Aku nggak punya waktu untuk ngeladenin mahluk asing kayak kamu.”


”Namaku Dika, kamu?”


”I, udah ya….aku harus buru-buru ke kampus.”


”Singkat amat.”


”Masalah ya buat kamu?”


”Ya….nggak juga sih. Kita bisa temenan kan!”


”Maaf, tadi kan aku dah bilang aku nggak suka bicara sama orang asing.”


”Kita kan dah kenalan, masa’ masih dianggap asing.”


”Heh, aku tahu wujud dan mukanya Alien itu kayak apa, tapi masih disebut mahluk asing kan! Jadi kamu masih tetap orang asing, aku pergi dulu.” Dika menarik tangan I.


I melihat tangan yang bisa dibilang cukup putih untuk ukuran cowok itu udah menyentuhnya tanpa permisi. ”Eh……eh…..lepasin nggak! Ngapain kamu pake narik-narik tangan aku, kamu berniat jahat ya!”


“Nggak, setidaknya aku boleh tahu dong kamu kuliah dimana?”


“Fakultas Psikologi salah satu perguruan tinggi negeri, puas!”


“Kamu emang mahluk Tuhan yang paling unik ya!”


”Kamu mahluk Tuhan yang paling aneh,” ucap I sambil berlalu pergi.

***