#1 Menu itu

Oleh: Iyanahs
Kontak Person: http://iahsdomus.blogspot.com

Jam beker hijau dengan boneka anjing melet-melet berwarna cokelat diatasnya kini menunjukkan pukul 2 siang, dengan sedikit gaya menggeliat dari selimut hijau kekuningan aku keluar seperti kupu-kupu yang baru saja terlepas dari kepompongnya. Aku tidak tidur tapi hanya berlindung dari sengatan hawa dingin dibulan itu. Ku hampiri kuping cangkir yang berisi seperdelapan kopi susu di atas meja yang menggodaku dengan kerlingan matanya dan sedikit bisikan bahwa aku harus segera menghabiskannya sebelum binatang dari antah berantah jenis apapun berhasil mendahuluiku.

Ku perbaiki letak sandal rumahku yang hampir ku gunakan dengan posisi kaki yang tidak sesuai. Aku melangkahkan kaki menuju dapur sambil memegang pinggangku. Ehm…..rupanya ada beberapa kantong lemak yang bertambah disana, pantas saja orang-orang bilang aku mulai gemuk. Ruangan itu sedikit gelap karena hujan yang mendera sejak pagi tadi. Irisan bawang merah dan bawang putih, langkah pertama sebelum membuat menu spesial untukku sendiri. Auch……pisau yang ku gunakan membuat sedikit goresan kecil diatas jari manisku yang beruntung tidak mengeluarkan darah. Saat warna merah pada rice cooker telah berganti menjadi warna hijau menandakan beras yang ku masak telah matang, aku segera menyiapkan beberapa bumbu lainnya. Aroma harum tumisan bawang merah dan bawang putih seketika memenuhi ruangan, nasi putih yang masih mengepul pun segera bermain-main diatas wajan. Aha…..kemarin aku kan beli korned kayaknya cocok dengan nasi goreng ini plus mie instan goreng satu bungkus. Hhhmmmm………………makan siangku jadi lebih spesial.

Makanan yang dibuat sendiri dengan susah payah walaupun sangat sederhana memang jauh lebih nikmat dari pada makanan yang langsung didapatkan dari diluar sana. Ku letakkan menu makan siangku di atas meja depan TV dan mengutak-atik channel untuk menemukan sebuah acara yang cukup baik menemaniku santap siang. Menu itu kini berpindah tempat dari piring keramik putih menuju organ yang berbentuk seperti buah mangga di dalam perutku. Sedikit air ku tuang di atas piring dan mengusapkan sisanya pada perutku. Ini adalah sebuah ritual dalam suku bugis setelah menikmati makanan. Aku juga tidak mengerti apa maknanya atau mungkin itu adalah ungkapan rasa syukur…..entahlah, yang ku tahu ritual itu telah dibiasakan padaku sejak kecil jadi walaupun kelihatan sepele, aku selalu melakukannya (ya….kecuali kalo aku makan diluar rumah kan nggak mungkin).

Masih ada waktu sebelum Rapat Kerja pikirku. Setelah meletakkan piring makanku di bak cuci piring, aku bergegas menuju kamar dan membuka tas cokelat yang tadi ku letakkan diatas ranjang. Sebuah buku yang tidak terlalu tebal dengan sampul berwarna kombinasi hijau cokelat kini siap menemaniku sore itu. Gaya bersandar pada dua bantal yang tertumpuk segera ku lakoni di samping jendela sambil membuka setiap lembaran novel itu dan tenggelam didalamnya.