Tulisan dikala menunggu membuatku jenuh


Oleh:Iyanahs
Kontak Person: http://iahsdomus.blogspot.com

Tiga hari dengan rutinitas yang sama yaitu berada diruangan ini dengan durasi kurang lebih setengah jam, aku merasa telah mampu mendeskripsikan kebiasaan-kebiasaan para pegawai dihadapanku. Seorang pria dengan beberapa rambut putihnya duduk sebagai pimpinan. Ia bekerja di balik sebuah meja besar di bagian tengah sisi sebelah kanan ruangan. Setiap kali aku memasuki ruangan ini, selalu saja ku temui asap rokok mengepul yang sebenarnya kurang tepat disandingkan dengan beberapa alat pendingin ruangan. Pria itu adalah seorang pimpinan yang bisa ku katakan patut disebut pimpinan teladan. Ia hampir selalu ada diruangn itu, baik aku datang dihari yang sudah memasuki jam istirahat ataupun aku datang sejak pagi. Dia pasti telah bertengger di kursinya dengan mengamati laptop dan komputer dihadapannya secara bergantian, menyelesaikan pekerjaannya sambil sesekali mengkonfirmasi beberapa jenis pekerjaan melalui telepon selular.

Satu kebiasaan yang tidak ku sukai diruang itu adalah semua pegawai laki-laki pasti menyelesaikan pekerjaan mereka sekaligus bersamaan dengan melahap beberapa batang rokok, tidak terkecuali pimpinan yang kepribadiannya ku kagumi itu.

Pegawai lain yaitu seorang wanita paruh baya yang melengkapi penampilannya dengan sebuah jilbab disudut ruangan sebelah kiri, pun tidak luput dari pengamatan dan analisisku. Wanita itu jarang sekali mengeluarkan suaranya melainkan hanya sibuk dnegan setumpuk pekerjaannya. Sesekali ia mengambil beberapa map di bawah meja atau di dalam lemari di belakang mejanya. Ia juga sesekali tampak merapikan segala sesuatu yang duduk manis di atas mejanya, seolah tidak membiarkan satu barang pun berserakan dan tersimpan tidak teratur.

Sejalan dengan kondisi wanita paruh baya itu, pria hitam pendek, seorang pegawai yang terlihat lebih muda, yang duduk di sisi sebelah kiri tepat di samping pimpinannya dan dipisahkan oleh sebuah lemari panjang itu juga lebih suka mengunci mulutnya lebih rapat. Ia selalu menekuri pekerjaannya yang sekilas terlihat dari tempatku duduk, hanya berupa beberapa potongan angka yang bagai semut memenuhi layar Microsoft excelnya. Ia adalah seorang pegawai yang tidak pernah tampak berbicara banyak atau sekedar menimpali dan ikut dalam perbincangan di ruangan itu. Ia hanya menyunggingkan senyum atau mengerutkan kening dengan mulut yang tetap mengatup.

Sangat berbeda dengan kondisi pria gemuk yang meja kerjanya tepat berhadapan dengan tempat dudukku. Ia mengerjakan pekerjaannya dengan disertai mulut yang terus mengoceh entah menyalahkan proposal, menyalahkan seseorang, pemerintah, bahkan pilkada. Ia tidak pernah tenang duduk di tempat duduknya. Ia pasti menghabiskan sebagian waktunya dengan berjalan kesisi lain ruangan sambil membiarkan ampas rokoknya bertebaran memenuhi lantai yang sebelumnya licin mengkilat itu.

Oh iya……selama tiga hari aku berkunjung ke ruangan ini secara berturut-turut, setiap menit tidak pernah luput dari tamu yang silih berganti menemui pimpinan (laki-laki rambut uban itu). Entah hanya untuk sekedar duduk sambil menghabiskan beberapa batang rokok dan obrolan ngalur ngidul atau sekedar mengelesaikan beberapa urusan.

Dan kini aku mulai lelah menunggu, apakah selalu, setiap kali berbenturan dengan urusan yang mengharuskan seseorang berhubungan dengan sebuah instansi, seseorang lantas harus mengalah dan memaklumi semua hal karena kita yang butuh. Tidak bisakah kita, baik yang butuh atau dibutuhkan saling bekerja sama dan sadar untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin karena ia selalu mengejar dan tidak membiarkan kita menunggu hanya untuk hal yang sepele. Sekarnag, telah beberapa lembar tulisanku di buku ini, dan orang yang ku tunggu (pria berkumis) itu belum juga menampakkan hidungnya. Kesal, tentu, tapi apa yang bisa ku lakukan selain menunggu.

Sulitkah bagi bapak berkumis itu untuk mengerti bahwa aku juga memiliki segudang aktivitas dan bukan hanya untuk menolerir aktivitas pribadinya.

Makassar, di sebuah gedung berwarna krem, diatas sebuah kursi, dengan mata murung, telinga mendengarkan lagu untuk menawarkan rasa kesal, dan dengan hati yang amat sangat jenuh serta tentu dengan tubuh yang telah lelah menunggu, 30 Juni 2010.