Share with writing

Oleh:Iyanahs
Kontak Person:http://iahsdomus.blogspot.com

Um………menulis adalah sebuah kegiatan yang sampai sekarang tidak ku mengerti mengapa aku begitu menyukainya. Bukan hanya sekedar menulis catatan kuliah tentunya, tapi lebih dari itu. Mulai dari sekedar mencatat schedule yang mesti ku lakukan dalam beberapa jam atau dalam sehari (maklum………aku adalah salah seorang manusia yang harus mencatat segala sesuatu yang akan ku kerjakan tentu saat pekerjaan tersebut sangat banyak dan beragam sehingga sulit dikelompokkan dalam satu kategori aku selalu menyebut kebiasaanku ini adalah time program a.k.a program atau kebiasaan yang bisa ku handle agar waktu yang ku gunakan tidak sia-sia). Em kembali ke topik……….selain sekedar mencatat schedule yang mesti ku lakukan, aku juga telah terbiasa menuliskan setiap kejadian yang terjadi pada hidupku (aku menyebutnya lompatan pikiran), tidak setiap hari tapi selalu membuatku memandang hidup dengan menyenangkan seperti kembali memutar ulang mesin waktu kembali pada periode waktu itu saat aku membaca setiap tulisan-tulisanku. Satu lagi kebiasaanku menulis yaitu novel atau sekedar cerpen, kebiasaan ini sangat membantuku mengatasi kemampuan mengkhayalku yang sudah diluar batas kewajaran yang biasanya ku lakukan di tepi-tepi waktu menjelang mimpi menggelayutiku dimalam hari.

Oke…..cukup penjelasan mengenai diriku, saat ini aku lebih ingin membagi beberapa referensi yang pernah aku dapatkan mengenai kepenulisan. Tentu tulisan ini sebagian ku kutip dari beberapa referensi tapi maaf kali ini aku tidak bisa mengikuti kaidah karya tulis ilmiah yang benar yaitu menyantumkan penulisnya. Bukan maksudku untuk melakukan tindakan plagiat. Hanya saja aku lupa dari mana aku mendapatkan pengetahuan ini, aku hanya ingin membaginya saja. Sekedar share aku rasa tidak apa-apa kan untuk mentoleransi kutipanku tanpa penulis aslinya. Mohon dimaklumi tapi aku harap pembaca bisa menarik sebuah hikmah dari tulisan ini, em…..setidaknya pembelajaran walaupun aku bukanlah seorang guru yang baik.

Pertama, aku akan membahas sebuah ilmu hipnotis yang disebut HYPNOTIC WRITING. Bukan….bukan….bukan seperti jenis hipnotis yang ada di TV..TV….atau dari beberapa pelatihan yang mungkin pernah pembaca ikuti. Jenis hipnotis ini digunakan untuk mengubah persepsi seseorang kepada sudut pandang yang kita inginkan (kita a.k.a penulis), atau bisa disebut juga dnegan menghipnotis pembaca agar tertarik dengan tulisan yang kita buat.

Misalnya:

“Wulaupan eajan tilasun ini slaah tatpei kmau tteep bsia bcaa, kernaa utarun hruuf drai ktaa tadik jdai mlsaah, asakln huurf ptmeraa dan trakhier bedara di teapmt ynag baenr.”

Nah, contoh di atas menunjukkan bahwa betapa mudahnya sudut pandang dan pikiran kita tertpu oleh tulisan, hanya dnegan mengubah persepsi seseorang kepada sudut pandang yang kita inginkan.
Beberapa tips yang pernah ku dapatkan dr salah satu penulis (lagi…lagi…saya lupa namanya siapa):
1.Tentukan dulu tujuan atau hasil yang ingin dicapai dari tulisan kita
2.Tahu betul apa yang ingin kita tulis, seperti manfaatnya bagi kita sendiri dan orang lain
3.Mulailah menulis dengan kreatif, dnegan cara merevisi setiap selesai menulis (tambahan dari aku pribadi, cobalah untuk selalu going the extra miles: berusahalah untuk tidak menjadi rata-rata)
4.Berikan naskah kepada orang lain dan biarkan mereka member komentar yang jujur
5.Perbaiki tulisan berdasarkan hasil flashback dari komentar-komentar orang lain

Kemudian hal kedua yang ingin aku bagi adalah mengenai detil dalam kisah fiksi, singkat saja:

Cerita kamu akan lebih nyata jika dibantu dnegan detil. Manusia memiliki berbagai macam indera. Gunakan indera tersebut untuk membuat cerita kamu semakin nyata di mata pembaca. Misalnya kedetilan dari segi fisik, penampilan, sifat, karakter, dan seting tempatnya. Sediakan waktu untuk detil pada setiap tokoh dan setting tempat serta setting waktu. Tapi jangan terlalu berlebihan karena nanti pembaca mual membacanya dan akhirnya menghentikan tindakannya membaca tulisan kamu. Cukup sampai pembaca merasa benar-benar mampu mengimajinasikan lokasi atau watak tokoh tersebut.

Oke, mungkin ini saja yang bisa saya bagi kepada orang lain, saya bukan guru kepenulisan karena saya pun masih belajar. Tapi sebagai pembelajar yang baik kita mesti saling berbagi, bukan. Tetaplah menulis karena dengan menulis itu adalah sebuah kesadaran sejarah.

“Without words, without writing and without books there would be no history, there could be no concept of humanity”