Hidup tanpa Senyuman, Buah dari Prinsip

Oleh: Seseorang yang Bersalah

Kesalahan yang kulakukan pada awalnya adalah buah dari prinsip, prinsip yang kuyakini benar. Berkali-kali kesalahan serupa kulakukan sebelumnya, tapi tidak pernah kunilai sebagai sebuah kesalahan, melainkan suatu yang menurutku patut dipuji, bahkan diikuti oleh orang lain. Aku ebrtahan pada pendirianku itu selam bertahun-tahun dan tak pernah terpikir untuk luluh atau beralih pada pendirian yang baru.

Hal terakhir, yang menurutku paling prinsipil rupanya mengubah hampir seluruh hidupku; cara berpikir dan perilaku ku.sesuatu yang prinsipil rupanya mengundang kesalahan besar yang telah siap merombak prinsipku sendiri.
Mengapa aku sangat bendi janjji? Mengapa aku mudah terpengaruh oleh sebuah janji? Aku sangat benci pada janji yang tidak ditepati, karena prinsipku, janji adalah hutang yang harus dibayar. Tapi, aku salah, karena begitu mudah percaya pada janji (nya). Janji yang pada akhirnya membuatku salah mengambil keputusan, janji yang membuatku lupa akan rasa benci yang siap menghujat.
Aku telah melakukannya karena janji, benarkah? Bukankah pada awalnya ku melakukannya bukan karena janji itu? Lantas, mengapa aku harus benci jika bukan karena itu? Seharusnya ku siap dengan segala dusta yang telah, sementara dan akan terjadi.
Mengapa aku salah? Karena memutuskan untuk tidak meneruskan pekerjaan yang seharusnya kuselesaikan. Awalnya, janji itu tidak pernah terucap sampai pada akhirnya pekerjaanku hampir selesai. Itulah salahku karena tidak menyadari bahwa doronganku untuk melakukannya bukan karena janji itu.
Kini keputusan itu tidak dapat ditarik ulur. Janji itu tidak meungkin ditepati karena keputusanku sendiri. Ini tidak hanya berdampak pada dia yang berjanji, tetapi juga pada orang lain yang kupuja serta diriku yang telah buta. 
Karena kesalahan itu, tak ada lagi yang dapat membuatku tersenyum, meski semua mahluk berusaha menghiburku. Itu terjadi karena hatiku diselimuti oleh penyesalan, penyesalan terhadap sesuatu yang tidak mungkin terjadi lagi. Aku tidak pernah membayangkan betapa hebatnya prinsip itu merombak hidupku hingga tak mampu lagi tersenyum. Prinsip itu telah mengunci bibirku agar tidak tersenyum. Prinsip itu telah menutup mata hatiku agar tidak lagi menikmati indahnya seberkas sinar. Hidupku telah hampa hingga suatu waktu yang mungkin tidak akan pernah ada.