Refleksi si Authiz

Refleksi si Authiz
Oleh: Just_AuthiZ

Saat lahir melalui rahim SPMB wujud ku tak berbeda dengan yang lain
Bertemu, belajar dan bertualang bersama saudara se-angkatan
Tapi seiring meluasnya pergaulan,, aku ternyata sedikit berbeda

Tak pernah searah dengan Kalian,, tak punya cukup waktu dengan Mereka
hingga tampak deviant….
Untuk alasan yang aku sendiri tak jelas
Untuk “dunia” yang jarang merasakan kehadiran ku
Untuk sesuatu yang lebih sering menghadiahkan ku derita

Kemudian jika merasa terasing,, itulah ganjaran atas perilaku ku
Tak etis jika harus berkeluh kesah…..
Namun apa mau dikata jika sekali lagi terjebak…

Setelah menutup mata untuk tidak melihat kepergian Mereka
Kini harus berpikir keras untuk memilih
Apakah ikut dengan Kalian atau untuk kesekian kalinya
tak terlibat kebersamaan Kalian….

Sedih sekali,,, banyak kehilangan waktu dengan “saudara“ sebaya
Masa kanak-kanak yang penuh konflik,, saling memahami ideologi pada masa remaja,, hingga masa dewasa yang dimanfaatkan untuk menjalin silaturrahmi kembali

Lalu ketika salah satu dari Kita,, saudari terkasih ku telah memilih jalannya
Waktu berkumpul telah ketuk palu,, kembali aku dilema
Karena sesuatu yang –entah pantas atau tidak– ku sebut sebagai “pekerjaan”

Tetesan bening dari pelupuk mata hanya keluar dalam hati
Dramatisir,, mungkin itu yang komentar yang terbersit dalam otak
Tapi orang awam tidak tau apa yang terjadi…
Hanya kaka tersayang yang tahu bagaimana hari-hari suram ku di masa kanak-kanak karena terpisah dari Kalian
Hanya pendengar setia yang tahu bagaimana penderitaan ku jika “dunia” yang jarang merasakan kehadiran ku menuntut ku ada,,
sementara Mereka juga menagih janji terhadap apa yang menjadi “kewajiban” ku……

Teringat sebuah ucapan :
hidup adalah pilihan, bahkan ketika kita tidak memilih pun itu tetap sebuah pilihan
Bukan maksud merutuki semua yang telah berlalu sampai detik ini
Hanya rintihan seseorang yang berusaha, dan terus berharap bisa menjadi yang “terbaik” bagi Kalian dan Mereka