Melirik Sekolah di Pulau Kecil

Oleh: Soe86
Ketika mendengar kata “pulau kecil”, mungkin kita langsung membayangkan sebuah daratan kecil yang dikelilingi oleh air. Itu adalah hal yang mungkin “menakutkan” bagi sebagian orang atau justru menjadi hal yang
menarik untuk dikunjungi pada saat liburan atau tujuan lainnya. Namun, sudahkah kita membayangkan bagaimana kondisi sekolah di “daratan kecil” tersebut?
Wajib belajar 9 tahun atau wajib sekolah yang telah lama dikumandangkan nampaknya belum memberi pengaruh yang berarti bagi penduduk yang berdomisili di “pulau kecil”. Mengapa? Banyak hal yang membuat pertanyaan tersebut tidak mudah dijawab, apalagi jika kita berfikir untuk menyelesaikan permasalahannya. Mari kita memperhatikan beberapa poin berikut:
  • Pemahaman Tentang Pentingnya Sekolah. Bagi kalangan tertentu, sekolah mungkin dipahami sebagai hal yang penting agar tidak ketinggalan dari kemajuan zaman. Atau sekolah dipahami sebagai suatu persyaratan untuk melamar suatu pekerjaan tertentu yang berpenghasilan tinggi. Atau dikalangan yang mungkin minoritas memahami sekolah sebagai tempat bagi orang-orang yang memiliki uang dan tidak terbuka bagi orang-orang yang miskin. Faktanya, masih sedikit orang yang tinggal di “pulau kecil” yang “berhasil” memasuki bangku sekolah, itupun hanya sampai pada tingkat Sekolah Dasar. Bagaimana mereka memahami instansi pendidikan ini? Itu adalah PR yang harus segera kita selesaikan bersama (kita; orang-orang yang telah berhasil sekolah).
  • Tenaga Pengajar Yang “Enggan” Mengajar. Mengapa ini penting untuk dibahas? Karena hampir semua tenaga pengajar yang ditempatkan di pulau kecil bukan penduduk lokal. Biasanya berasal dari kota atau dari daratan utama, yang mana secara psiko-budaya sangat berbeda. Guru yang ditugaskan cenderung tidak betah untuk tinggal di pulau kecil, selain karena sulit mengakses kampung halaman, juga karena fasilitas hiburan yang terbatas. Hal ini mempengaruhi semangat guru untuk mengajar apalagi jika murid yang akan diajar juga “enggan berguru”.
  • Murid Yang “Enggan Berguru”. Murid-murid yang tinggal di pulau biasanya tidak memiliki semangat yang tinggi untuk masuk sekolah, mereka lebih senang ikut mencari ikan atau bermain-main di pantai. Berhasil menangkap ikan dengan teknik tertentu adalah sebuah kepuasan tersendiri bagi mereka, bahkan kemampuan menangkap yang dimiliki seorang anak itu seakan-akan menjadi sumber penghargaan di kalangan mereka. Sayangnya, kebanggaan ketika berhasil menagkap ikan (ikan-ikan kecil) di pantai tidak dikalahkan oleh kebanggaan ketika mampu menyelesaikan tugas sekolah yang diberikan, bahkan tugas sekolah cenderung dianggap sebagai beban yang sama sekali tidak memiliki arti apa-apa.  
  • Pihak Patron Yang Tidak Rela Berkorban. Siapa pihak patron di sini? Yang pertama adalah para pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab mengurusi persoalan pendidikan. Meskipun masih termasuk wilayah kotamadya, sekolah di pulau kecil nampaknya masih belum diperhatikan sebagaimana mestinya. Alasan yang selalu diucapkan adalah bahaya badai dan ombak yang menyebabkan sulitnya menjangkau sekolah yang ada di pulau kecil. Jika diperhatikan secara geografis, sebenarnya itu tidak begitu berbahasa dibanding dengan proyek-proyek lain yang dikerjakan di pulau yang letaknya lebih jauh. Yang kedua adalah orang tua, orang tua belum “rela” mengeluarkan biaya untuk menyekolahkan anaknya, maupun biaya yang dapat menjadi motivasi anak untuk sekolah, misalhnya hadiah dan sebagainya. Padahal, jika bandingkan dengan biaya lain yang dikeluarkan untuk membeli barang-barang lain yang sifatnya tidak pokok justru lebih mahal dibanding biaya untuk sekolah. Mungkin ini terutama disebabkan oleh kurangnya keyakinan mereka bahwa sekolah itu sangat penting.
  • Model Sekolah Yang Mereka Harapkan. Benarkah mereka sama sekali tidak mau sekolah? Jawabnya, tidak untuk model sekolah yang ada sekarang. Apa maksudnya model? Ialah suatu kondisi yang membuat sekolah itu sebagai hal yang menjenuhkan, membebani dan tidak memberi apa-apa? Mungkin sebenarnya ini tidak memerlukan biaya yang besar, hanya keseriusan untuk memahami apa yang sebenarnya mereka harapkan dari sekolah?

Akhirnya, beberapa point tersebut dimaksudkan sebagai bahan refleksi untuk membangun sekolah yang ada di pulau-pulau kecil dalam wilayah Indonesia. Banyak PR yang harus kita kerjakan bersama, jangan saling melempar tanggung jawab. Semoga bermanfaat.