Feeling empty

Feeling Empty mengancam Masyarakat Kita
Oleh: Iyan Afriyani HS

Setiap manusia mendambakan ketenangan hidup walaupun tidak semua dapat mencapai apa yang diinginkan. Beberapa sebab dan rintang mungkin terjadi dalam pencapaiannya termasuk keinginan manusia untuk terlibat lebih intens dengan dirinya sendiri dan tidak dengan campur tangan orang lain. Inilah bentuk dunia individualisme yang dihadapi oleh sebagian besar masyarakat yang hidup dikota-kota besar saat ini. Dunia
individualisme yang menunjukkan sebuah dimensi baru pada cara manusia menghadapi hidup.

Berbagai rutinitas dan gaya hidup yang membiasakan seseorang melakukan segala sesuatunya sendiri dan hanya berorientasi pada materi serta mengabaikan hal-hal spiritual, kini mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan sosial. Ketidakseimbangan ini terlihat dari interaksi dengan individu lain dan ketidakpedulian seseorang pada lingkungan sekitarnya yang mengalami pengurangan dalam jumlah menit perhari. Beberapa orang menjadi mudah melakukan kegiatan sendiri tanpa melibatkan orang lain dan menjadikan dirinya manusia individualis. Disaat mereka kemudian akan kembali berbaur dalam masyarakat, perasaan tidak dianggap akan mereka alami dan berakhir pada tindakan menarik diri. Menjauhi pergaulan dengan orang banyak, menyendiri, takut terhadap penolakan adalah beberapa bentuk tindakan menarik diri yang akhirnya menyebabkan seseorang menjadi kehilangan kepercayaan atas dirinya dan selanjutnya akan kehilangan kepercayaan terhadap orang lain. Gaya hidup seperti ini kemudian akan mengarah pada sebuah pola hidup individual yang kehilangan makna dan kecenderungan pada perasaan kehampaan (feeling empty). Inilah akibat dari individualisme yang coba di sadur dari bangsa lain untuk kemudian masuk ke dalam budaya bangsa Indonesia.

Perasaan hampa adalah sebuah perasaan yang biasanya ditandai dengan kebosanan, perasaan tanpa makna, ketiadaan tujuan, dehumanisasi, tidak peduli terhadap apa yang dilakukan dalam hidup dan kecenderungan melarikan diri dari tanggung jawab. Besar kuantitas masyarakat yang kemudian mengalami perasaan hampa muncul sebagai konsekuensi dari sedemikian lebarnya jarak antara kebutuhan individu untuk memaknai hidup di satu sisi dan kebutuhan individu akan interaksi masyarakat disisi yang lainnya. Kehampaan atau kekosongan dalam diri menjadikan individu merasa terisolasi atau terpisah dari dunia. Hal ini berupa kurangnya kontak fisik dengan masyarakat. Berdasarkan beberapa observasi sederhana yang dilakukan penulis, menunjukkan proses menarik diri yang dilakukan oleh individu meliputi menghabiskan lebih banyak waktu sendirian, merasa tidak nyaman dan merasa kesepian secara emosional saat berada diantara kerumunan orang walaupun sebenarnya individu tersebut menginginkannya, melakukan lebih banyak aktivitas tanpa bantuan orang lain, menggunakan banyak media untuk melepaskan kesepian, pemikiran yang kosong, dan perasaan ketidaktahuan dalam cara menghadapi hidup.

Perasaan kehampaan merupakan salah satu tanda ketidaksehatan mental individu yang dapat mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang. Kehampaan adalah keadaan pasif yang semestinya tidak dibiarkan terus berlanjut tanpa melakukan apapun untuk mengubahnya karena kesehatan mental menentukan tanggapan seseorang terhadap persoalan, penyesuaian diri dan gairah untuk hidup. Namun, menurut dr. Nalini Agung SpKJ kesehatan mental masyarakat sering diabaikan oleh pemerintah, masyarakat, dan individu itu sendiri, walaupun pada tahun 2004 WHO telah memperingatkan bangsa Indonesia agar memperhatikan kesehatan mental masyarakatnya. Bahkan diprediksi bahwa tahun 2015 kesehatan mental masyarakat Indonesia dalam kondisi mengkhawatirkan.

Saat ini, banyak persepsi masyarakat yang mengarahkan kesehatan hanya pada fisik semata. Padahal, mental seseorang juga harus diperhatikan. Contoh konkrit dalam masyarakat adalah sebagian dari perilaku bunuh diri atau individu yang melakukan percobaan bunuh diri sebagai jalan menemukan kehidupan yang lebih baik, mengalami kesehatan mental yang menurun drastis. Gangguan atau ketidaksehatan mental tersebut termasuk perasaan kehampaan. Ketidaksehatan mental berupa kehampaan tidak disebabkan oleh faktor tunggal tetapi berbagai hal yang kemudian dapat meningkatkan risikonya. Namun kesalahan fatal yang biasa dilakukan oleh individu adalah tetap membiarkan dan mempertahankan perasaan tersebut. Walaupun, mempertahankan kesepian dan membiarkan diri masuk ke dalam perasaan itu secara terus menerus akan memimpin pada perasaan depresi dan tidak berdaya yang pada gilirannya akan menuju pada keadaan yang lebih pasif dan depresi.

Setiap individu dengan kesadaran diri sebenarnya mampu melepaskan diri dari ancaman-ancaman lingkungan dan berbagai bentuk kecenderungan alami yang mengarah pada suatu keadaan atau perkembangan tertentu dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu, tindakan pencegahan terhadap salah satu bentuk ketidaksehatan mental ini harus dilakukan dengan kembali menemukan makna hidup agar terjadi transformasi dari kehampaan. Pencarian makna yang dilakukan merupakan fenomena kompleks yang membutuhkan penggalian dan untuk memahaminya individu harus menjalaninya. Individu harus memilih hidup dan tingkah laku yang sehat secara psikologis dan bertanggung jawab atas pilihannya tersebut. Peran masyarakat dalam transformasi ini juga sangat penting, dimana masyarakat diharapkan lebih peduli pada lingkungan sekitarnya dan senantiasa memberi dukungan sosial terhadap orang lain.

Covey (2005) menegaskan bahwa hidup akan menjadi penuh makna dan keagungan ketika individu dapat mengilhami sekaligus menjalani panggilan jiwa mereka yang dibimbing oleh empat jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan fisik, kecerdasan mental, kecerdasaan emosi dan kecerdasan spiritual, dimana ketiga kecerdasan yang disebutkan diawal tunduk pada kecerdasan yang keempat yaitu kecerdasan spiritual. Kebiasaan individu untuk tidak mengabaikan dimensi spiritual dan kodratnya sebagai mahluk sosial akan membawa individu tersebut pada keadaan yang sehat secara mental. hal tersebut menunjukkan begitu penting penataan potensi emosi spiritual pada masing-masing individu yang berpusat pada sumber spiritual manusia, yaitu Tuhan. Dengan demikian seseorang akan terbimbing dengan kesadaran pribadi untuk mengenali energi jiwanya guna meraih ketenangan atau keharmonisan diri. Pada dasarnya, pencapaian kesehatan mental secara spiritual sebenarnya menunjukkan pada manusia bahwa sebuah ibadah bukan hanya sebuah kewajiban melainkan sebuah kebutuhan yang akhirnya mengarahkan seseorang pada kesehatan mental yang baik, tidak mudah merasa putus asa, pesimis, dan mampu menghadapi rintangan dan kegagalan dalam hidup dengan tenang.