Ada Apa Dengan Penampilan Kita? Bagian II

Oleh: Soe86

Ada apa dengan penampilan kita? Pada bagian ke-II ini, saya akan mencoba menjawabnya dengan pengetahuanku yang terbatas. Hal yang terlebih dahulu harus dijawab adalah, mengapa seseorang butuh berpenampilan? Sebagaimana telah disinggung pada bagian I, penampilan yang saya maksudkan dibatasi pada cara kita menggunakan pakaian, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Secara umum, kita berpakaian untuk memebuhi kebutuhan, yaitu kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial budaya. Secara biologis semuanya sama, yaitu untuk melindungi tubuh dari dari ancaman yang ada di lingkungan kita. Namun secara sosial budaya, itu nampaknya lebih kompleks karena terkait dengan karakter manusia yang selalu belajar dan mendapat pengetahuan yang baru, tergantung pada lingkungan yang dia hadapi. Tidaklah masalah jika masing-masing orang menghargai perbedaan, khusunya pada gaya berpakaian.

Yang menjadi persoalan adalah ketika berpakaian itu selalu disandingkan dengan tingkat ke-modern-an seseorang. Dalam hal apa seseorang dapat dikatakan modern? Apakah dengan menggunakan hp yang canggih dan mahal tapi melupakan sisi manfaatnya? Atau kendaraan pribadi yang mahal dan mewah? Atau dengan jenis pakaian yang dibeli dari toko terkenal dengan harga yang tinggi? Sungguh kasihan jika kita merupakan salah seorang yang menjawab iya atas pertanyaan tersebut. Tidak masalah jika kita membeli pakaian yang mahal asalkan kita menyadari funginya atau manfaatnya dan tidak pernah menyalahkan orang yang menggunakan pakaian yang lebih murah.

Mengapa dalam pertemuan yang formal terkadang “memaksa” kita untuk berpakaian yang “rapi”? Tergantung kesadaran orang-orang yang ada di dalamnya. Tidak semua ruang formal di dunia ini menuntut kita seperti itu (berpakaian “rapi”) karena “sesungguhnya” Indonesia dengan bangsa lain itu berbeda. Lucunya, terdapat kecenderungan kita mengutamakan kualitas pakaian dibanding kualitas pengetahuan yang dimiliki oleh seorang peserta rapat atau pertemuan formal lainnya, yang hsilnya juga pasti akan “formal” tapi belum tentu “bermanfaat”. Ada apa sebenarnya dengan nilai dan praktek penampilan kita?