Trip To Kapoposang Island

Oleh: Yasher Sakita

Suara deru ombak pecah dan hembusan angin laut di tepi pantai, mampu membangunkan tidurku untuk
mengawali pagi dikala itu. Bagiku, tak ada suasana yang paling indah di pulau Kapoposang, selain menantikan sang surya muncul dikala fajar. Akupun tak ingin melewatkan momentum ini begitu saja. Sambil berbaring dikursi yang ada diteras rumah yang kami tumpangi, ku arahkan pandanganku menyusuri hamparan laut sejauh mungkin. Aku tercengang, …
…saat pandangan mata ini seakan berada pada titik batas pandangannya. Aku ingin menembus batas itu, Ku ingin berada dititik itu lalu memandang lebih jauh sampai batas berikutnya dan begitu seterusnya. Rasanya, aku ingin semua rasa kagumku tak lagi membuat tanda tanya tentang apa atau siapakah disana. Kungin semua rahasia ini terbongkar hingga tak ada lagi penasaran yang meyelimuti pandangan inderawiku.

Diatas garis itu, menjadi fokus pandanganku. Garis sebagai hasil pandangan dari dua objek terpisah yang sekan membentuk sudut dari dua sisi yang saling bertemu. Aku terus memandanginya. Sepintas terlihat bak sebuah bangunan, yang beralaskan laut dan berdindingkan langit. Dinding yang tak berujung, dengan polesan warna yang eksotis, berdiri dengan megahnya diatas laut. Rasa kagumku semakin menimbulkan rasa penasaran yang amat besar di garis pertemuan itu. 

 

Tak butuh waktu lama, yang aku nantikan pun kini tiba. sebuah sistem dengan desain rumit namun sangat indah disaksikan. Di atas garis khayal itu yang menjadi patokan bahwa dia telah muncul. Pandangan semu mataku tak mampu untuk mendefinisikan. Sang surya pun muncul dengan keinginannya sendiri, tak ada satupun yang dapat menghentikannya. Perlahan hanya sebuah percikan cahaya kecil, terus tampak sampai terlihat seperti bola kecil yang menggelinding diatas laut. Ku cobah menoleh disetiap sudut atmosfer, ada sesuatu yang membuatku merasa kosong hingga semua yang ada disekitarku tak aku pedulikan.