Telaah tulisan Soe86 tentang “ada apa dengan penampilan kita?”

Oleh:ahmad ismail
saya adalah mahasiswa antropologi di salahsatu Perguruan Tinggi terbesar di Indonesia Timur. saya resmi menjadi mahasiswa di universitas tersebut pada tahun 2005. Ketika itu, saya melihat beberapa senior saya berpenampakan (berpenampilan) “berantakan” seperti gonrong, celana robek-robek, jarang mandi, baju compang camping dan lain sebagainya. Sehingga hal tersebut menimbulkan citra pada masyarakat umum

bahwa mahasiswa umumnya berpenampilan demikian. Dengan begitu, saya pun mengikuti pola tersebut seperti mahasiswa pada umumnya yang penampakannya “berantakan”.

Berjalannya waktu sebagai seorang mahasiswa, saya di didik oleh seorang Guru Besar untuk dijadikan asisten peneliti di beberapa penelitiannya. Karena saya ikut dengan orang besar maka sedikt demi sedikit saya imbangi penampilan saya dengan penampilannya serta penampilan orang-orang di lingkungannya, seperti memakai baju dan celana yang rapi memakai sepatu pada saat-saat tertentu dan lain sebagainya. Saya seringkali di kirim ke luar kota untuk beberapa kegiatan presentasi yang mengharuskan penampilan saya rapi.
Suatu ketika, saya mencoba mengadakan eksperimen kecil-kecilan berkenaan dengan masalah penampilan. Ketika itu, saya dikirim ke Jakarta untuk memaparkan hasil kajian kerjasama antara universitas di tempat saya kuliah dengan salah satu kementerian di Negeri ini. Hari pertama, kucoba penampilan saya dengan penampilan apa adanya selayaknya mahasiswa yang sering memakai kaos dan celana yang sedikit robek dan memakai sandal biasa. Saya coba angkat bicara pada beberapa kegiatan diskusi hasil kajian dari berbagai provinsi di Negeri ini. Nampaknya pada waktu itu semua mata seakan tidak respect dengan apa yang saya lontarkan, semua menganggap saya sebagai angin lalu saja. Hari kedua, saya rubah kembali penampilan saya dengan mengimbangi penampilan para presentator dari berbagai universitas di negeri ini, dengan memakai kemeja rapi, celana kain yang rapi dan sepatu yang sedikit mengkilap (vantovel) dan lain sebagainya. Ketika itu, saya merasa setiap mengeluarkan pendapat saya merasa di perhatikan secara seksama dan ditanggapi secara baik disetiap diskusi yang dilakukan.
Artinya apa,?? Penampilan memberikan kesan pertama untuk membuat orang tertarik dengan kita, terlepas dari kepentingan kita untuk berpenampilan, tetapi setidaknya penampilan merepresentasikan kehidupan kita sehari-hari.
Indonesia adalah Negara berkembang. Perlu kita ketahui bahwa salah satu ciri Negara berkembang adalah mengutamakan penampilan. Bagaimana SBY pada masa kampanye nya membuat pencitraan yang sulit di kalahkan oleh pesaing-pesaing politiknya pada waktu itu. JK menawarkan program-program yang lebih real tapi penampilannya kurang memukau penduduk di negeri ini, dan Megawati yang kurang maksimal dalam memaparkan program-programnya pada saat debat Capres.
Jika dibandingkan dengan Neraga maju seperti amerika dan eropa yang memiliki penduduk dengan kebudayaan yang sangat kompleks tidak lagi menekankan pada sisi penampilan, melainkan dari sisi kualitas pribadi. Contoh sederhana yang sering kita jumpai adalah ketika orang barat melakukan studi ke negeri Indonesia, dapat kita amati penampilannya yang begitu sederhana dan tidak teralu mencolok.
Yang saya ingin simpulkan secara singkat dari penjelasan di atas ialah penampilan merupakan faktor pendukung dalam setiap aktivitas, namun penampilan tersebut haruslah disesuaikan dengan konteks dimana kita harus berpenampilan.