PARADIGMA

Oleh:Chantro06

Malam ini gelap. Masih gelap dan tetap akan gelap.

Aku termangu di halte ini.
Sama seperti gelap yang hadir di setiap malam, aku juga seperti itu. Ku mulai setiap malamku dengan duduk sendiri di halte usang yang jarang berpenghuni. Aku sendiri. Hanya berteman pakaian yang cukup minim namun tak mencolok,, yang kugunakan untuk menutup diri. Dingin. Namun, ini kewajiban. Kalau kututup sedikit saja lagi, artinya aku tak ada nasi untuk makan besok.
Hahaha,, tragis. Tapi mau berkata apa. Ini takdir.

Mengusir rasa bosan menunggu, mataku tak henti-hentinya memandang tingkah anak sekolahan tepat di depan halte ini. Disini banyak sekali berseliweran anak-anak sekolah dari berbagai macam usia. Tak jarang dari mereka seusia denganku, yang memang semestinya masih duduk di bangku kelas 3 SMU. Tapi garis tangan tak membiarkanku mengenyam bangku pendidikan setinggi itu. Aku hanya mampu bersekolah hingga SMP. Itu pun tak tamat.
Yah,, Alasan klasik,, biaya..

Tempat kursus bahasa inggris yang dibuka setahun lalu membuat tempat ku nongkrong dari dua tahun silam terusik. Hal ini membuat rekan-rekan seprofesiku kebanyakan tak betah. Mereka banyak yang pindah karena tak tahan dengan sindiran anak-anak itu. Hanya tinggal beberapa yang bebal hatinya yang mampu bertahan. Salah satunya adalah aku.
Bagiku, anak-anak tersebut bukan masalah yang besar. Cukup merubah sedikit dandanan menjadi mirip mereka, takkan membuat terlalu mencolok. Lebih menguntungkan dari pada mencari lokasi lain dan mengorbankan pelanggan-pelanggan lamaku. Malas rasanya.

Tiba-tiba dari kejauhan kulihat sesosok pria berjalan. Semakin dekat, semakin membuat ada yang salah dengan jantungku. Debarnya mulai tak stabil.
Aduuuh,, ada apa aku ini. Dia lagi,, dan masih dia. Sosok laki-laki tak terlalu tampan. Namun punya keunikan sendiri. Rahangnya yang kokoh menunjukan bahwa dia tipekal pekerja keras. Kelihatannya dia seorang staff kantoran yang mau tampil sederhana dengan berjalan kaki dari ujung lorong. Hampir setiap hari ku temukan dia pulang jam segini. Lembur mungkin.

Semua dari dirinya menarik perhatianku. Wajahnya yang penuh dengan peluh, cara jalannya yang cuek, bahkan hingga tali tas kerja yang slalu setia berada di bahunya. Dan bajunya,, uuuuhh,, kenapa harus dia gunakan kemeja putih itu siih. Semakin membuat pesonanya memancar. Aku salah tingkah. Aduuh,, Tuhaan. Tolong aku.

Ups,, apa ku bilang?? Tuhan?? Masih maukah Tuhan mendengarkan doa perempuan hina ini. Hidup dengan menjajakkan diri, berlumur dosa. Tapi,, ah,, masih pedulikah aku dengan dosa?? Hahahaha,, hatikuw tertawa miris..

Sosok itu bukan sesuatu yang baru. Dialah alasan mengapa setiap malam aku “terpaksa” keluar lebih pagi. Rindu tatapan matanya yang kadang beradu, meskipun tak lama. Sudah 2 bulan ini dia terus-terusan mengusikku. Tapi tak ada daya untuk menyapa. Mhm,, malam ini ku bulatkan tekat. Aku harus menyapanya, paling tidak berkata “hai” untuk sekedar basa-basi perkenalan.

Dia mendekat , namun dalam penglihatanku dia bergerak seperti adegan slow motion yang biasa di tivi-tivi. Detak jantungku semakin beradu cepat dengan gerak tangan tak beraturan. Gemetaran.
Ahhh,, dia semakin dekat.

Ayo Laraas,, sapa dia….
Ayo,,,,bangun dari dudukmu… tunggu apa lagi..
Dia tepat di depanmu… Apa yang kau khawatirkan??
Heeeiiiii,, cepatlah.. Dia mulai berlalu… Laraaaass…
Eiiiiit,,

Haaahh… Sudahlah,,apa lagi.. Dia telah pergi…
Ku pandangi punggungnya yang mulai hilang dalam pekat malam. Sekali lagi, perasaan ini menyusup di dadaku. Aku merasa tak pantas untuknya. Takdir buruk menggiringku ke dalam lubang berdasar dalam yang tak mampu ku menemukan jalan untuk keluar. Yah,, aku seorang pelacur jalanan. Tak pantas dimiliki. Apalagi untuk lelaki seperti dia…

Sesaat kemudian, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depanku. Pengemudinya turun.. Om bobi, bisikku dalam hati.

“ Laras,, sedang kosong??”

“ Iyya om”

“Temani om sejenak. Penat rasanya dengan kerjaan kantor. Istri om sedang tak dirumah. Sibuk dengan tour dharma wanitanya”

Aku tak berujar lagi..kulangkahkan kakiku tuk masuk didalam mobil hitam itu

Malam ini,, sama saja dengan malam sebelumya.. dan sepertinya, akan terus seperti ini.. Gelap,, Pekat…

***

Ahhh!!! Kota ini membuatku muak!!
Bosan sebenarnya berbuat seperti ini.. namun, mau diapakan lagi. Tak ada pilihan. Kekejaman kota metropolitan terhadap orang sepertiku tak bisa ku hadapi dengan kecengengan di depan sajadah saja. Aku harus berlari, dan terus berlari. Karna pekerjaanku memang membutuhkan ketangkasanku untuk berlari kencang.

Hahahah,, ku kelabui dunia dengan penampilanku. Kemeja lengan panjang, tas selempang, sepatu kulit, serta jam tangan mati yang ku beli dari tukang loak seolah menggambarkan aku orang kantoran. Yah, selevel lah mungkin dengan staff administrasi. Hanya sedikit yang tahu, bahwa sebenarnya keahlianku adalah memainkan jemari untuk merogoh saku orang..

Pencopet!!

Dengan penampilan seperti inilah aku lumayan aman. Siapa yang akan curiga dengan gaya ala eksekutif yang ku tampilkan?? Hahaha.. masyarakat Indonesia sebagian besar masih memandang sesuatunya dari cover..
Bodoh!!!!

Malam ini aku dapat lumayan. 5 dompet yang tak terlalu tebal. Cukuplah untuk membayar kosan. Tadi pagi ibu kos sudah meronta-ronta. Besok akan ku sumbal mulutnya pakai uang haram ini. Tak peduli. Yang penting aku tidak tidur beralaskan kardus lagi. Cukup sudah empat bulan yang lalu ku merasakannya. Harapan bahwa kota mampu memberikanku hidup lebih baik ternyata cuman angan-angan kosong. Bahkan untuk ongkos berobat emak di kampung pun masih harus kerja ekstra hingga malam. seperti malam ini.

Aku turun di perempatan jalan. Pete-pete¹ hanya mampu mengantarku sampai disitu. Selebihnya aku harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai di kosan butut yang bisa ku sewa. Ahh,, hidup itu kejam teman. Itu yang ku pahami.

Terus ku langkahkan kakiku dengan gontai.. Hingga,,, oh,, tidak.. gadis itu lagiii…
Kenapa harus melihatnya lagi malam ini ketika suasana hatiku gelisah??
Aduh, bagaimana penampilanku?? Pasti berantakan..

Dia.. Entah siapa namanya. Tak tahu bagaimana, pandangan kami sering bertemu di satu titik. Dan hal itu yang membuat perasaanku menjadi aneh. Panas dingin. Tapi menyenangkan. Lebih dari hembusan asap rokok yang biasa ku hirup jikalau ada uang berlebih. Hampir tiap malam ketika aku harus pulang agak lambat, aku melihatnya termangu di halte itu. Kelihatannya dia anak sekolahan yang kursus tepat didepan halte. Malam ini ku lihat dia gelisah. Menunggu jemputan mungkin.

Aduuh.. aku harus menyapanya.. Malam ini atau tidak sama skali.
Semakin dekat, keringat semakin mengucur…

Aah!! Tidak.. tinggal beberapa langkah lagi…
Ayo Bram.. lelaki macam apa kau?? Masa hanya untuk menyapanya kau tak berani….

Ayoo- ayooo.. tunggu apa lagi??

Daaaaaann….

Semua berlalu begitu saja. Bahkan untuk tersenyumpun aku tak mampu. Dia terlalu indah untuk ku genggam. Siapa aku?? Hanya seorang pencopet yang nista. Darahku dipenuhi dengan zat-zat haram. Mau jadi apa anak orang ditanganku?? Sedang menghidupi diri sendiri saja mesti tertatih…

Batinku meronta.. Aaahhhh!!!! BODOOH!!!! Kenapa tak aku mulai saja hidup yang baru?? Cari kerja yang benar… dan mengumpulkan uang untuk menikah dengannya?? Sedikit demi sedikit,, yang jelas halal..Mungkin ini momentum ku untuk berubah?? Ya,, aku harus kembali… Harus ku temui gadis cantik itu,, dan berkenalan dengannya..

Ku putuskan untuk berbalik arah.. tekatku bulat….

Hingga, ketika tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai,, ku lihat perempuan itu masuk kedalam mobil jemputannya. Ia dijemput oleh ayahnya yang kelihatan berdasi. ufhh,, Pasti bukan anak orang sembarangan.

Ahhh.. Harus ku kubur semua harapan itu… Cukup sampai disini..
Aku kembali berjalan untuk pulang… Kususuri jalan yang tampak semakin kelam…

Bagiku,,malam ini,, sama saja dengan malam sebelumya.. dan sepertinya, akan terus seperti ini.. Gelap,, pekat…..

Paradigma terkadang membuat kita tak sama, padahal sebenarnya, kita tak jauh berbeda…..