“Orang Pulau” itu Bahagia

Oleh: Soe86

Pada “pandangan pertama”, subjektivitas kita kadang menyebabkan kesalahan dalam memandang orang atau kelompok yang lain. Kadang kita “seenaknya” saja menilai orang lain, misalnya “dia itu bodoh”, “mereka sangat ramah”, “dia itu pinter”, “dia itu cantik”, “dia itu tampan” dan seterusnya. Padahal setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata bertolak belakang dengan pandangan kita sebelumnya, atau berbeda dengan pandangan orang lain. Makanya, tidak heran jika banyak orang yang kecewa karena “pandangan pertama”. Misalnya, …
…seorang perempuan mimilih yang menikah dengan seorang laki-laki karena ketampanannya. Setelah menikah, rupanya sang suami yang ketampanannya “diidealkan” itu tidak nampak lagi, mungkin karena malas mandi (maaf), malas cukuran dan sebgainya. Ketampanan yang dulunya sangat nampak itu rupanya hanya “dibuat-buat” alias tidak alami demi menarik perhatian sang calon istri.

Begitu juga pandangan sebagian orang ketika baru pertama kalinya dia bekunjung ke sebuah daratan kecil di tengah laut yang dihuni oleh para nelayan. Mereka tidak memiliki rumah yang bagus, pernak-pernik yang mewah, tidak punya mobil dan motor dan hal-hal lain yang dimiliki oleh orang kota. Dengan kondisi yang “nampak” ini, akhirnya muncullah penilaian subjektiv sang “pendatang” dengan menganggap bahwa nelayan itu miskin, nelayan itu tidak pintar, nelayan itu…dan seterusnya.

Pandangan tersebut rupanya tidak hanya sampai di situ, tidak hanya dimiliki oleh satu orang yang mengunjungji daratan kecil tadi. Pendatang yang berkunjung tadi memiliki akses infomasi yang lebih bagus dibanding oleh orang pulau, sehingga sekali saja dia menceritakan bahwa orang pulau itu miskin, orang pulau itu hidupnya susah dan sebagainya, maka itu akan tersebar ke orang banyak. Implikasinya adalah, akhirnya banyak bermunculan proyek-proyek yang mengatas namakan dirinya “mengentaskan kemiskinan”. Bukan hanya itu, proyek-proyek yang bermunculan itu juga memberi pelajaran kepada mereka (nelayan) bahwa kita dapat memperoleh uang cuma-cuma dari “orang luar”, katakanlah pemerintah atau LSM. “orang luar” yang mengajarkan kepada mereka hidup tergantung pada pemerintah. Setiap muncul masalah, sasarannya akhirnya selalu ke pemerintah. Jadinya mereka tidak mandiri.

Dulu, sebelum mengenal nelayan secara langsung (bukannya dari media), saya juga memiliki padangan yang sama, memandang bahwa orang pulau itu miskin dan “bodoh”. Setelah berkunjung dan akrab dengan mereka (orang pulau), kami pun saling terbuka sampai menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi. Setelah akrab, saya pun akhirnya malu pada diriku sendiri karena telah lama menyimpan pandangan-pandangan yang keliru. Saya malu karena terjebak pada penampilan. Mari kita melihat faktanya!

  • Rumah mereka yang “jelek”. Alangkah kelirunya ketika kita mengatakan mereka miskin dengan melihat kondisi rumahnya. Memang sangat memprihatinkan jika melihat kondisi rumahnya karena kita masih menggunakan subjektivitas kita ketika menilai mereka. Tetapi, tahukah kita pandangan mereka? Rumah baginya adalah tempat peristirahatan sementara. Lalu yang mana yang utama? Yang utama adalah perahu, bukannya rumah. Jangan terjebak lagi, perahu yang bagus bukan dari besar atau kecilnya, bermesin atau tidak, tetapi berapa besar modal yang dikeluarkan untuk mengoperasikannya dan berapa besar keuntungan yang dihasilkannya. Harus dilihat lebih mendalam. Perahu yang bermesin belum tentu memiliki hasil yang lebih banyak dari perahu yang tak bermesin. Sekali lagi, jangan mudah mengambil kesimpulan.
  • Pendidikan mereka terbelakang. Betul, jika kita menggunakan standar pendidikan formal yang harus mulai dari TK, SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Tapi, sadarkah kita bahwa banyak orang yang “berpendidikan” justru tidak mampu berbuat sesuatu ketika diperhadapkan dengan sebuah tantangan? Mari kita simak tulisan Mas Marjohan <di sini> dan <di sini>. Pendidikan formal rupanya bukan sesuatu yang menentukan kecerdasan seseorang. Apakah tantangan laut yang setiap hari mereka taklukkan tidak dapat menjadi tolak ukur kecerdasan mereka? Dan harus kita ketahui bahwa bukan hanya itu kecerdasan mereka.

Pelajaran apa yang saya dapat dari orang-orang pulau? Hidup itu tidak usah di”mewah-mewahkan, dan jangan menilai dari penampilan. Menengoklah ke kota yang dipenuhi dengan kemewahan. Berapa penduduk kota yang bahagia dan berapa orang pulau yang bahagia dengan kondisi yang masing-masing dimilikinya. Di kota, orang rumahnya besar, mobilnya mahal, tapi hidup “susah”. Mengapa? Nampaknya kita harus belajar pada orang pulau yang kata “mereka” tidak berpendidikan?