Indonesia Butuh “Guru Gaul”

Oleh: Indonesiana
Tulisan ini sepenuhnya terinspirasi dari seorang sahabat, Marjohan atau Joe, yang juga merupakan penulis, bukan hanya di blog ini, tetapi juga di sejumlah blog yang membahas soal pendidikan sampai pada buku yang
muatannya sangat hebat. Saya tidak akan membahas penghargaan ini lebih jauh tetapi akan menjadikannya bahan utama untuk coretan ini selanjutnya. Saya tidak melebih-lebihkan, tetapi berusaha merasakan realitas pendidikan kita dan menghubungkannya dengan opini-opini yang beliau tulis.
Meskipun persahabatan kami dalam blog masih baru, namun saya dapat merasakan semangat yang beliau miliki untuk membangun pendidikan. Semua orang mungkin memiliki pemikiran yang sama tetapi belum tentu dapat melaksanakannya. Melalui pengalaman saya melewati beberapa jenjang pendidikan, saya mencoba untuk menyampaikan bagaimana saya dapat mengagumi sahabat saya ini. 
Beberapa point yang ingin disampaikan adalah sebagai berikut:
Guru adalah sahabat bagi murid. Menjadi sahabat mengandung beberapa hal yang penting, bukan hanya hubungan baik, tetapi komunikasi antara guru dan siswa. Saya yakin bahwa masih sedikit guru yang dapat menjadi sahabat bagi murid/siswanya. Menjaga wibawa adalah penting agar siswa tidak kurang ajar terhadap gurunya. Tetapi wibawa ini rupanya menggali jurang pemisah antara guru dan siswa yang akhirnya menghambat proses komunikasi. Bukankah proses perubahan itu sangat dipengaruhi oleh komunikasi? Sadarkah kita bahwa iklan-iklan yang disajikan lewat berbagai media massa adalah bentuk komunikasi yang “memanjakan” para konsumennya? Sadarkah kita bahwa “wewenang” orang tua, guru, tokoh agama untuk membentuk karakter anak telah “diambil alih” oleh media massa? Dan anehnya, meskipun media massa itu sebenarnya menyumbangkan hal-hal yang dapat merugikan, tetapi orang-orang dan sebagian besar siswa lebih “tunduk” pada ‘aturan-aturan’ yang disajikan. Bagaimana posisi guru, orang tua, tokoh agama dan lain sebagainya?
Pada zaman yang belum begitu lama ditinggalkan, orang tua, guru, tokoh agama adalah figur yang sangat dihargai dan dipatuhi. Apa yang mereka katakan adalah hal yang harus dilakukan oleh seorang anak atau seorang murid. Dan wajar saja bila pada waktu itu banyak anak atau murid yang dianggap berhasil. 
Namun, kita tidak dapat menyalahkan perilaku murid pada zaman sekarang yang sangat berbeda dengan murid tempo doeloe. Perbedaan ini tidak lahir begitu saja, melainkan dibentuk oleh sistem sosial yang kompleks, yang sebagian besar didukung oleh media massa yang memiliki model komunikasi yang jauh lebih efektif. Nampaknya kita tidak harus bertahan pada model mengajar yang klasik, yang mana orang tua, guru, dan tokoh agama adalah “pemillik” informasi. 
Lucunya, kita berusaha membuat perubahan pada fasilitas belajar-mengajar, yaitu menggunakan teknologi seperti komputer dan internet tetapi tidak memiliki kesiapan untuk menyeimbangi perubahan yang akan terjadi. Di internet, kita bisa memperoleh banyak pelajaran, yang barangkali tidak dapat diakses oleh para guru. Jika pendapat guru hanya bersandar pada buku-buku “klasik”, niscaya guru akan ditinggalkan oleh muridnya. Beruntung jika pengetahuan yang diperoleh dari “guru asing” ini bernilai positif. 
Untuk menyeimbangi perubahan ini, yang dibutuhkan adalah kehadiran “guru gaul” (istilah guru gaul sering disebutkan oleh siswa, yaitu guru yang bergaul dengan siswa layaknya seorang remaja). Mengapa muncul istilah guru gaul? Iya, karena dari 100 guru, hanya 1 yang dapat bergaul dengan siswanya seperti ini. Selain mengikuti perubahan zaman, guru gaul ini juga harus mampu menyadari misinya sebagai guru. Sanggupkah guru-guru di Indonesia melakukan ini?, Jawabnya iya untuk sebagian kecil guru. Guru gaul tidak harus menurunkan wibawanya di depan siswa. Jika guru memiliki kreatifitas, niscaya siswa juga akan senang bergaul dengannya tanpa harus berperilaku kurang ajar. 
“Anak-anak sekarang susah diajar”. Itu kalimat yang sering dibahasakan oleh guru atau orang tua. Mungkin itu benar, tetapi kita juga harus melakukan refleksi, mungkin saja pernyataan itu kita keluarkan hanya karena kurang memahami apa yang dibutuhkan oleh seorang siswa. Mari kita simak Status facebook sahabat  saya, Marjohan atau Joe:

Kalau dahulu (sebahagian) guru guru suka jaim (jaga imej) dan senang kalau murid ketakutan…., sekarang guru itu adalah orang tua murid…so harus punya jembatan hati…. guru itu ada karena murid, dan murid ada karena guru…., betulkan. tebarkanlah rasa cinta dan kasih sayang di sekolah

Guru itu pegawai negeri. Garis pantai Indonesia yang panjang sebanding dengan panjang antrian pendaftaran pegawai negeri. Mengapa? karena pegawi negeri itu adalah “pekerjaan” yang lebih aman dari resiko kerugian. Berbeda dengan wiraswasta yang sangat rentan dari kerugian dan penghasilannya rumit diperkirakan. Antrian untuk menjadi pegawai negeri itu mengandung beberapa hal yang penting.
  1. Kualitas pendidikan kita belum mampu mencetak para lulusan yang mandiri, percaya diri untuk membuka lapangan kerja sendiri. Berani untuk membangun lapangan kerja sendiri mengacu dari kata wira yang berarti berani dan swa berarti sendiri. Bagaiman mungkin lulusan sekolah berani jika dia tidak punya bekal yang cukup, bukan hanya teori-teori, tetapi kondisi psikologis yang mantap. 
  2. Guru bukanlah sebagai tanggung jawab, melainkan sebagai lapangan pekerjaan. Jika motivasi untuk menjadi guru hanya didasari oleh ekonomi, niscaya seorang guru hanya melaksanakan tugas-tugasnya sesuai aturan yang ada tanpa berpikir untuk menciptakan hal-hal yang kreatif dalam rangka mencerdaskan anak bangsa. Dan lebih parah lagi jika seorang guru hanya berpangku tangan atas “kenakalan” siswanya dan hanya mengatakan “anak sekarang susah diajar”. Uang itu penting, tetapi harus dilihat sebagai pendukung dalam melaksanakan tugas yang ada. Mana mungkin bisa mengajar dengan baik jika uang tidak ada atau tidak mencukupi. Jangan dilihat terbalik, harus menjadi guru agar memiliki penghasilan yang tetap, dapat gaji perbulan. Jika panjangnya antrian pada saat pendaftaran guru dimotivasi oleh rasa tanggung jawab untuk mencerdaskan bangsa, maka itu adalah suatu anugerah yang sangat besar untuk Indonesia. Namun jika yang terjadi justru sebaliknya, maka itu adalah petaka yang menghancurkan, dan itu berarti bahwa Indonesia masih kekurangan “guru”.

Seperti itulah yang saya pikir setelah bersahabat dengan beliau. Kritik dan saran tentu menjadi sangat penting karena saya sadar pikiran pikiran itu punya batas. Semoga bermanfaat.

Bacaan yang menjadi inspirasi:

  1. Karya Sahabat saya, Marjohan atau Joe:

     2.  Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar