Watashi No Nikki (31 Januari 2010)

Watashi No Nikki (31 Januari 2010)
Oleh: Kurniati Umrah Nur
Tulisan Asli dapat di lihat di sini
Tulisan ini diterbitkan atas persetujuan dari Penulisnya

Tanpa adzan, sholat subuh menjadi mendekati sholat dhuha , semoga tidak keseringan atau ini jadi yang pertama dan terakhir kalinya. Pagi terakhir kami di Matsuyama Youth Hostel. Pagi ini kami akan pindah ke apartemen masing-masing seperti yang telah di tentukan kemarin. Apartemen ku berada di daerah Takewara, berjarak 3 km dari kampus utama Ehime University, yaitu kampus Johoku. Ehime University memiliki 3 kampus, yaitu kampus Johoku sebagai kampus utama, terdapat fakultas MIPA, Teknik, Ehime University Museum, dan tentu saja rektorat Ehime University.kampus Nogokubu atau Tarumi kampus, merupakan base untuk fakultas perikanan dan pertanian di Ehime University. dan Shigenobu kampus adalah tempat bagi calon dokter dan apoteker belajar. Apartemenku adalah apartemen paling jauh dari semua apartemen yang kami tempati. Tapi tidak apa-apa, semakin jauh berarti saya akan melihat semakin banyak hal..
Pukul 8 pagi, setelah sarapan pagi kami yang terakhir di Hostel, kami mengemasi barang-barang kami dan menaikkannya ke atas mobil pick up untuk di bawa ke apartemen-apartemen yang ada. Apartemen kami di beri nama apartemen A,B,C,D dan E. Aku, diah, indah, Ab, Ang dan Immanuel berada dalam satu apartemen, dibagi ke dalam 2 kamar yang terpisah tentunya antara cowok dan cewek. Karena Apato (Apartemen dalam istilah orang Jepang, istilah ini akan ku gunakan untuk merujuk pada hal yang sama) Apatoku adalah apato C, dan karena jaraknya dekat dengan apato D,maka barang-barang kami di naikkan dalam satu mobil yang sama. Sebelum berangkat ke apato, ku sempatkan memberi ole-ole kepada sukarelawan yang bekerja melayani kami selama di Hostel. Mereka yang menyediakan sarapan dan makan malam kami, dengan status tanpa gaji. Ku berikan sebungkus kacang disco khas makassar yang ku bawa dari Indonesia kepada mereka. Indonesia no omiyage desu (ini ole-ole dari Indonesia), ku coba menggunakan bahasa mereka sebagai tanda terima kasih dan penghargaan terhadap mereka.

Semua barang sudah siap, begitupun personel apato ku, aku di tunjuk menjadi koordinator apatoku untuk kamar cewek, dan Ab koordinator untuk kamar cowok, jadi kami harus memastikan semua barang kami sudah siap dan tinggal di angkut ke apato kami. setiap apato memiliki penanggung jawab atau volunteer untuk membantu kami. volunteernya adalah mahasiswa jepang yang aktif pada kegiatan-kegiatan pada International Relationship Institute Ehime University. banyak di antara mereka adalah alumni sailing practise di Makassar. Jadi keakraban memang sudah terjalin lebih lama. Akito Yanai dan Rikako Yamashita, adalah volunteer untuk apatoku. Aki dan Rikako adalah alumni Sailing Practise angkatan ke 2 (2007). Sewaktu mereka mengunjungi Makassar 2007 lalu, aku sedang berada di Lombok untuk penelitianku, jadi tidak sempat bertemu dengan mereka. Tapi, Rikako kemudian ikut kembali pada program yang sama tahun 2008 lalu, di mana aku menjadi panitia kegiatan dan mendampingi mereka berlayar di Kepulauan Spermonde di Makassar.

Akito menjadi sopir kami untuk sementara. Menggunakan mobilnya, dia mengantar ke apato kami. Hujan membuat udara semakin dingin di penghujung musim dingin ini. Meskipun di dalam mobil ada penghangat, namun udara dingin dari luar masih sanggup membuat kakiku beku.

Hujan, jalan yang cukup jauh dan berbelit-belit. Aku tidak sempat menghapalkan jalan ke apato kami. Aki mengikuti mobil pick up yang membawa koper-koper kami. menurut pak Atus, apato kami adalah yang terjauh, jauh dari keramaian dan jauh dari kampus…heheheheh…kasian. Tapi tak apalah, pasti ada hikmahnya (sok menghibur diri). Tapi dekat dengan Matsuyama Airport (jadi kalau mau ke Osaka pake pesawat cukup dekat dari apato heheheh).

Tiba di sebuah gedung berlantai 7, mobil berhenti. Ternyata Rikako sudah menunggu di depan apato.Yup…kami sudah tiba di apato kami. “Rumah” yang akan kami tempati selama 2 bulan lebih di Matsuyama. Karena lahan yang terbatas dan penduduk yang butuh rumah sangat banyak, maka Jepang menyiasatinya dengan membangun apartemen-apartemen yang bertingkat-tingkat sebagai tempat tinggal. Salah satunya yah yang akan kami tempati ini. Biasanya di sewakan per bulan dengan tarif yang fantastis, tapi untuk kegiatan ini pengelolanya bersedia memberikan tarif yang bersahabat, bukan tarif umum yang biasa di berlakukan.

Kamar ku berada di lantai 2 kamar 206, letaknya paling ujung. Aku membuka pintu apato dan…..sebuah ruangan berukuran 2,5 meter x 8 meter. Kecil????yah…kecil untuk ukuran 3 orang yang akan tinggal di dalamnya hehehehe….ruangan terbagi 2 bagian. Bagian depan adalah dapur yang sudah di lengkapi dengan kompior gas dengan unlimit gas, wastafel untuk cuci piring dengan space untuk memasak atau memotong-motong sayuran dan lain-lainnya di sampingnya, berdekatan dengan kompor gas. Kulkas 2 pintu dengan microwave di atasnya. Pemanas air elektronik dan rice cooker yang berada tepat di atas sebuah lemari kayu kecil berpintu kaca geser khas jepang sebagai tempat piring dan kelak bahan-bahan makanan lainnya. Lemari berada tepat di samping pintu geser khas jepang yang menghubungkan sekaligus memisahkan dapur dengan kamar tidur. Kamar mandi berisi kloset dan bathtub berada di ruangan depan di sisi yang berseberangan dengan kompor gas dan wastafel.

Kamar tidur, berisi satu buah ranjang ukuran satu orang, sebuah televisi flat Sony Wega ukuran 14 inch yang di letakkan di atas sebuah lemari kecil dengan tiga rak yang bisa di gunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang. Menempel di dinding tepat di samping pintu geser, sebuah lemari 2 pintu, di dalamnya terdapat 2 futon (kasur dan selimut ala Jepang). Sebuah meja belajar berada di sebelah kanan, di samping sebuah rak kayu bersusun 3. Jendela di sebelah kanan menyuguhkan pemandangan jalan di samping apato, juga sebuah gedung berwarna biru muda yang ternyata adalah sebuah stasiun TV bernama ITV. Mesin cuci satu tabung (cuci, bilas dan semi kering) berada di balkon yang terhubung melalui sebuah pintu kaca geser. Lantai apato terbuat dari beton yang di lapisi kayu.

Kesan pertama, cukup menyenangkan. Fasilitasnya lengkap. Alat masak pun tersedia meski tidak begitu lengkap, paling tidak ada yang bisa kami gunakan untuk memasak. Karena untuk membeli makanan di luar bisa menguras habis kantong kami. sekali makan bisa mencapai 500 yen, itu senilai 50 ribu rupiah. Kalau sudah seperti ini, memang lebih enak di negeri sendiri. Lagian, tidak semua makanan di luar sana halal untuk kami konsumsi. Kami harus berhati-hati membeli makanan. Bahkan untuk membeli daging sapi dan ayam pun tidak memungkinkan. Solusinya adalah sea food dan telur jadi pilihan utama kami.

Jika di Makassar H-2 dan H-1 sebelum keberangkatan ke Jepang, kami di sibukkan dengan jadwal pelepasan dan pembekalan dari Konsulat Jenderal Jepang di Makassar dan pihak Universitas Hasanuddin, maka di Matsuyama, kami di sibukkan dengan Welcome Party. Jika kemarin kami makan siang dengan mahasiswa-mahasiswa Jepang di Ehime Daigaku (Universitas Ehime), maka hari ini kami di undang untuk menghadiri acara pengajian bulanan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) cabang Ehime. Pengajian yang seharusnya di lakukan setiap tanggal 21 tiap bulannya, di tunda waktunya sampai kami tiba di Jepang, sekaligus sebagai ajang silaturahmi dan memperkenalkan kami kepada semua mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi lanjut di Ehime University.. jadi merasa penting sekali hehehehe…

Maka, setelah membereskan barang-barang kami ala kadarnya, jam 10 mendekati jam 11 (kami sudah terlambat untuk acara pengajiannya, Indonesia..belum bisa menyesuaikan diri). Karena kami sudah tidak bisa mendapatkan bus lagi ke Tarumi kampus (bus di sini punya jadwal tetap, jadi jika tidak ingin ketinggalan bus, be on time), kami akhirnya naik taksi. Rikako yang seharusnya menemani kami, tidak bisa ikut bersama kami dengan taksi karena masih harus menunggu teman-teman cowok di kamar 402 yang belum berangkat, takutnya mereka tidak tahu tempatnya dan nyasar (terus kami???kami juga tidak tahu tempatnya Rikako san???). Rikako menelpon taksi dan “menitipkan” kami pada sopir taksinya untuk mengantarkan kami ke Tarumi kampus (semoga saja kami tidak hilang di hari ke 3 kami di Matsuyama). Sopir taksinya seorang bapak-bapak berumur sekitar 50an mendekati 60 tahun. Kami mencoba mengajaknya bicara dengan bahasa Inggris, tapi ternyata beliau tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Kebanyakan orang Jepang memang hanya mengenal bahasa mereka sendiri, dan sangat sedikit yang bisa berbicara bahasa lain seperti bahasa Inggris, kalaupun ada, pronounciationnya pasti sangat berbeda, dan terkadang (maaf) lebih hancur daripada orang Indonesia. Mereka memang tidak begitu bagus dalam speaking bahasa Inggris, tapi untuk menulis karya-karya ilmiah dalam bahasa Inggris, mereka layak mendapat acungan jempol. Karena itu, tulisan-tulisan hasil penelitian peneliti-peneliti Jepang banyak yang bisa terpublikasi di jurnal-jurnal ilmiah internasional, meski mungkin penelitinya sendiri tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan baik. Kepala kantor konsulat Jepang di Makassar, sewaktu acara pembekalan dan “kuliah umum” tentang Jepang di kantor perwakilan Konsulat Jepang di Makassar, Drs. Noburo (jangan heran melihat gelarnya, gelar S1nya memang di dapatkan di Indonesia, di Fakultas Ilmu Sosial Politik Jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia angkatan 1983), mengatakan bahwa sebenarnya pada dasarnya orang Indonesia memiliki kemampuan untuk bisa menguasai bahasa asing yang lebih baik daripada orang Jepang. Karena sejak kecil, kita telah terbiasa menggunakan bahasa yang lain selain bahasa nasional kita, bahasa Indonesia. Dari 33 propinsi di Indonesia, ada ratusan bahkan ribuan bahasa daerah yang di kuasai oleh penduduk lokalnya. Artinya, jika kita berusaha, kita pasti bisa menguasai bahasa asing manapun. Al-Quran yang menggunakan bahasa arab bisa kita baca, meskipun baru sebatas di baca saja. Tapi, sekali lagi kata pak Noburo, coba tanyakan pada orang Jepang, sejak kecil apa mereka mengenal bahasa lain selain bahasa Jepang???mereka pasti menjawab tidak, karena seluruh Jepang memang hanya menggunakan satu bahasa sejak dulu, yaitu bahasa Jepang. Karena itu, susah bagi mereka untuk bisa menguasai bahasa lain di luar dari bahasa mereka sendiri. Mungkin, karena itu juga maka Jepang mengharuskan semua orang yang akan bekerja maupun belajar di Jepang, harus menguasai bahasa Jepang, meskipun sebatas dasar-dasar bahasa Jepang atau bahasa sehari-hari, karena mereka akan kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang luar jika orang tersebut tidak bisa berbahasa Jepang dengan baik, karena mereka tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik pula.

Kembali ke taksi, perjalanan jadi sedikit tidak menyenangkan karena hujan, dingin dan beku. Rute yang kami lalui pun kurang menarik, terkesan berada di pinggir kota. Saya belum mengenal tempat ini jadi tidak tahu nama areanya apa, ingin menanyakan pada sopir taksinya, bahasa Jepangku sampai sekarang baru bisa mengucapkan ohayo gozaimasu, ogenki desu ka, konbanwa, konnichiwa dan sayonara hehehe… Ada sedikit rasa takut nyasar, tapi kami percaya bapak sopirnya pasti bisa mengantarkan kami sampai ke tujuan kami sebenarnya. Kurang dari 20 menit, kami sudah tiba di gerbang utama kampus Nogakubu. Tarif taksinya 1.350 yen (rupiahkan saja dengan kurs 1 yen = 100 rupiah..mahal hehehe). Turun dari taksi, kebingungan melanda. Kami pun baru sadar…kami tidak tahu tempatnya di mana…!!!!!kami hanya tahu bahwa acaranya di kampus Nogakubu, tapi di gedung mana kami sama sekali tidak tahu…!!!!

Berbekal bahasa universal…bahasa Tarzan heheheh…kami bertanya pada satpam kampus yang berada di pos piketnya yang cukup besar untuk ukuran pos jaga. Dia sepertinya tahu tujuan kami sebenarnya kemana, karena itu, sebelum sempat menyambung kalimat “sumimasen” yang kami ucapkan, dia dengan bahasa Jepang dan Tarzan sekaligus memberi tahu kami gedung yang seharusnya kami datangi. Gedungnya berada sekitar 50 meter ke arah kiri dari tempat kami berdiri saat itu.

Arigatou gozaimashita dan senyum manis sebagai ucapan terima kasih kepada satpam kampusnya, kami bergegas ke gedung yang di maksud, selain karena hujan masih cukup lebat, kami pun sudah terlambat sebenarnya. Semoga saja keterlambatan kami bisa di maklumi, karena kami baru pindahan.
Tiba di sebuah gedung, yang ternyata adalah bagian dari fakultas pertanian Universitas Ehime. Kami bergegas ke lantai 2 seperti yang Ruth sensee katakan ketika kami bertemu dengan beliau di halaman depan gedung ini sesaat sebelum masuk ke gedung ini.

Kami di sambut oleh mb Ajeng, dan beberapa mahasiswa Indonesia lainnya yang sedang studi di Ehime University. Belum satupun teman-teman kami yang lain berada di ruangan tersebut, tnyata kami yang pertama datang. Mungkin karena mereka masih sibuk membereskan barang-barang mereka di apato masing-masing…dan mungkin juga karena nyasar!!!!

Sambil menunggu teman-teman yang lain, kami memperkenalkan diri dengan semua orang yang berada di ruangan tersebut. Pak Agus, Pak Syaiful, Mb Ajeng, bu Intan, Pak Rio, dan Bu Seiko. Bila mendengar nama Seiko, semua orang pasti langsung tahu bahwa dia adalah orang Jepang. Tapi bukankah ini acara pengajian????Bila melihat bu Seiko, mungkin beberapa dari kita akan berucap…Subhanallah. Kenapa???karena Bu Seiko seorang muslimah…berjilbab pula. Dan siapa yang telah menjadi perantara turunnya hidayah itu kepada beliau???tidak lain suaminya sendiri, Pak Agus. Dua jempol untuk pak Agus. Konon katanya heheheh….Sewaktu pak Agus masih menempuh pendidikan S2 nya di Ehime, beliau jatuh cinta sama cewek Jepang, dan akhirnya beliau berhasil meyakinkan wanita tersebut untuk menikah dengannya dan memilih Islam sebagai keyakinannya. Sekarang mereka memiliki 2 orang putri yang lucu dan lebih mirip wajah ibunya di banding bapaknya..Subhanallah…

Jam 11 lewat banyak..sudah semakin ramai. Teman-teman sudah datang. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang lain pun hampir semuanya sudah datang, jumlah mahasiswa Indonesia yang kuliah di Ehime University berjumlah 15 orang, dengan konsentrasi ilmu teknik, pertanian, kehutanan, perikanan, dan pendidikan. Kebanyakan dari mereka menempuh jenjang S2, beberapa program doktor dan post doktornya.

Ayah Atus sudah tiba, artinya acara akan segera di mulai. Pak Atus adalah ketua PPI Ehime. Beliau menempuh pendidikan S2nya di bidang Kehutanan di Ehime University. Membuka acara, beliau membacakan ayat-ayat suci Al-quran. Pikirnya, pembacaan ayat-ayat sucinya akan bergiliran setiap orang,atau akan ada ceramah keislaman seperti pada pengajian-pengajian di Indonesia. Ternyata…setelah membaca ayat-ayat suci Al-Quran, pak atus malah meminta kami memperkenalkan diri masing-masing. Mungkin karena acara ini lebih ke silaturahmi dan penyambutan buat kami, maka “kesan” bahwa acara ini adalah sebuah pengajian tidak terasa, kecuali bahwa di awal acara ada pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran.

Perkenalan selesai, sedikit penjelasan tentang PPI Ehime dan kegiatan-kegiatannya di berikan pak Atus. infonya cukup penting, apalagi tentang tempat di mana kami bisa membeli daging sapi dan ayam yang halal. Ada sebuah tempat bernama MICC (Moslem International Community Centre) yang menjual daging-daging sapi dan ayam yang di jamin kehalalannya. Yah paling tidak aku tidak akan selamanya makan telur saja. Mau makan ikan terus juga masalah,pada harganya hehehehe…sekali lagi, kalau sudah seperti ini aku masih mencintai Indonesiaku, aku bisa makan ikan sepuasnya dengan harga yang murah…

Waktu makan siang tiba, perut juga sudah meronta-ronta. Makanan-makanan Indonesia yang di bawa oleh orang-orang Indonesianya begitu menggoda. 3 hari di Jepang, lidahku hambar, rindu makanan khas Indonesia. Di setiap acara pengajian bulanan PPI Ehime, bagi yang masih jomblo, hanya membawa kue atau snack-snack. Tapi bagi yang sudah berkeluarga, harus membawa masakan untuk lauk pauk makan siang mereka. Ada gulai kambing, ayam kecap, cap cay, rendang dan banyak lagi. Makan puas pokoknya. Kami juag tidak lupa membawa ole-ole berupa kue dan cemilan-cemilan khas daerah masing-masing. Acara ini sekaligus sebagai ajang melepas kangen pada Indonesia melalui makanannya.

Beberapa mahasiswa Jepang juga ikut datang dan mencicipi masakan-masakan Indonesia. Dan hasilnya…mereka menjadi “Kepiting Rebus”. Muka mereka jadi merah karena kepedisan. Orang-orang Jepang memang tidak tahan pedas, tapi mereka menyangka Gulai kambing itu adalah kare, masakan yang sama yang mereka kenal dan selalu mereka makan hehehe…lucu juga melihat mereka jadi merah seperti itu. Tapi tidak apa-apa, sekali-kali mereka merasakan masakan indonesia, biar lidah mereka kaya akan cita rasa masakan.

Perut kenyang, makanan pun sudah habis. Agenda selanjutnya adalah rapat mengenai SBI (Sehari Bersama Indonesia) yang akan di adakan pada akhir Maret 2010. Acara yang terakhir kali di laksanakan 7 tahun lalu ini akan menampilkan Indonesia dalam ragam seni dan budayanya, juga makanannya. Sebelum berangkat ke Jepang, kami sudah di beritahu untuk menyiapkan minimal satu performance untuk di tampilkan di SBI nanti. Tim UNHAS sudah menyiapkan 3 tarian, Tari Pa’duppa, Tari Toraja dan Gandrang Bulo. Kami pun sudah latihan sebelum berangkat ke Jepang. Kostum pun sudah siap. Untuk makanan, tidak lupa kami membawa bumbu Coto Makassar siap masak.

Rapat selesai, kami pamit untuk segera kembali ke apato. Kami masih harus membereskan barang-barang kami yang masih berantakan ketika kami tinggalkan. Bersama Rikako dan teman-teman lainnya, kami pulang, menggunakan bus yang rutenya melewati depan kampus Nogakubu. Rikako mengatakan bahwa jika ingin pulang ke apato kami di kawasan Takewara dari kampus Nogakbu, kami harus menggunakan bus Iyotetsu No.8 yang akan berhenti di depan Takashimaya, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Matsuyama. dari Takashimaya, kita “bisa” berjalan kaki ke apato kami. bus datang tepat waktu. Semuanya naik dan karena busnya kosong, jadi kami bisa bebas memilih tempat duduk. Tarif busnya berbeda-beda sesuai dengan jarak. Lebih jauh lebih mahal, jadi tidak ada istilah, jauh dekat Rp. 2.500 seperti di Makassar. Bayar sesuai jarak yang di tempuh. Rikako mengatakan bahwa untuk ke apato kami, tarif busnya 200 yen. Di dalam bus, ada mesin untuk mengganti uang pecahan besar ke pecahan yang lebih kecil. Jadi tidak ada alasan tidak memberi uang pas. Sewaktu naik ke bus pertama kali juga kita harus mengambil tiket pada mesin tiket yang berada di dekat pintu masuk . tiket tersebut akan di gunakan untuk membayar tarif bus. Sekaligus sebagai bukti pembayaran pada sopir yang nantinya akan dia laporkan pada atasannya. Sistem yang hebat. Jadi sopir di tuntut untuk jujur pada perusahaan pengelola transportasi tersebut.

Kurang dari 20 menit, kami sampai pada bus stop di depan Takashimaya. Jika Rikako mengatakan dari bus stop tersebut kami bisa berjalan kaki ke apato, itu artinya apato kami dekat dengan Takashimaya. Dengan Mall terbesar di Matsuyama????wah godaan besar buat kami hehehe..

Turun dari bus, kami berjalan kaki, melewati jalur kereta di Matsuyama Shieki. Menyeberang jalan, melewati Starbucks Coffee dan Lawson (semacam Indomart di Indonesia, ada banyak di Jepang). Menelusuri jalan-jalan di samping kanal yang bersihnya minta ampun, mungkin airnya bisa di gunakan untuk mandi. Tiba di depan Community Centre, belok kiri. Perempatan pertama dari Community Centre, tepat di sudut sebelah kiri, apato kami berdiri. Alhamdulillah sekarang sudah bisa sedikit mengenali daerah sekitar apato kami. yang paling penting, kami sudah tahu di mana letak mall di Matsuyama heheh..

Tiba di apato, kami langsung beres-beres. Pakaian di masukkan ke dalam lemari di dinding. Sensee datang menjenguk, membawa jeruk buat kami. beliau berpesan untuk selalu makan jeruk, untuk menjaga daya tahan tubuh. Sekarang ini adalah puncak musim dingin di Matsuyama, jadi harus pintar-pintar jaga kesehatan, apalagi bagi kita orang tropis yang tidak terbiasa dengan suhu ekstrem seperti ini. Sensee memang baik. Jika bukan karena dia, tidak akan mungkin kami berada di sini sekarang.

Sensee mengajak kami belanja ke supermarket, namanya Banana kan, kami bisa membeli sayuran dan keperluan lainnya di sana. Tapi sensee melihat saya dan diah terlihat lelah, jadinya dia hanya mengajak Indah, sekaligus menunjukkan Banana kan agar lain kali kami bisa berbelanja sendiri di sana.

Indah belanja bersama sensee dan Rikako, aku dan diah tidur. Mungkin karena terlalu capek, aku tidak menyadari kedatangan Indah membawa belanjaan dan kemudian menggoreng ikan bersama Rikako. Hanya ketika mereka hampir selesai makan, aku baru terbangun dan sempat mencicipi ikan gorengnya.

Aku mandi dan sholat maghrib. Karena akses internet kami masih bermasalah, entah kenapa, kami hanya menghabiskan waktu dengan membereskan barang-barang kami. makan malam pertamaku adalah Indomie Coto Makassar. Ada rasa malas untuk memasak, padahal ada banyak bahan makanan yang bisa ku olah menjadi masakan, tapi karena capek, aku hanya memilih yang cepat dan praktis.

Kenyang, atau di paksakan kenyang, aku lalu sholat isya. Selesai sholat, aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku sampai esok pagi. Esok ada Opening Ceremony bersama rektor Ehime University.
Oya suminasai….

Matsuyama, 31 Januari 2010

Info Penulis:
Kurniati Umrah Nur
Perguruan Tinggi:

Kontak:

  1. koernhi_biouh@yahoo.co.id
  2. kurniati.umrah@gmail.com