Ada Apa Dengan Penampilan Kita?

Ada Apa Dengan Penampilan Kita?
Oleh: Soe86

Suatu hari, saya sedang berada di mall yang ramai dikunjungi orang. Masing-masing memiliki tujuan, ada yang ingin membeli sesuatu, ngecek harga, adapula yang sekedar mencari hiburan. Saya sendiri punya “misi” tertentu, yaitu mencari buku kesukaanku, yaitu buku yang membahas tentang masyarakat dan budaya. Setelah menemukan buku yang kucari, saya bermaksud bersantai ria, jalan-jalan sambil “cuci mata”.

Sekitar 15 menit kemudian, tanpa rencana sedikit pun saya berpapasan dengan seorang perempuan muda yang “cantik” menurut orang. Dengan langkah yang nampak cuek, perempuan tadi terus berjalan sampai saat dia melihat saya sedang menatapnya. Akan tetapi, rupanya dia tidak senang melihat pandanganku. Tiba-tiba saja dia berkata, mengapa kau memandangku, baru ya melihat perempuan cantik? Kaget bukan main setelah mendengar dia berkata seperti itu, saya menatapnya bukan apa-apa, hanya karena suatu kebetulan berpapasan dengan dia, dia nampak cantik tapi cuek dengan gaya menyerupai model, jadi wajar menutuku jika memandangnya, begitu ucapan dalam hatiku. Karena bingung menjawabnya, saya hanya menjawabnya “iya”, padahal seharusnya menjawab “tidak kok, bukan hanya kamu yang cantik”. Bukan hanya itu yang dia katakan, “kamu tidak merasa malu melihat saya seperti itu, dengan penampilanmu yang kampungan!” Wah, nampaknya dia serius berkata sama saya, kalimat terakhirnya tidak kuhiraukan, saya melanjutkan “perjalananku” mengitari mall.

Setiba di rumah, rupanya peristiwa itu muncul kembali di kepalaku. Saya akhirnya bertanya, ada apa dengan penampilanku? Mengapa dia sepertinya mengharuskanku merubah penampilan biar kelihatan tidak kampungan? Bagaimana sebenarnya penampilan “kota” itu? Setelah berusaha mencari jawaban, akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa penampilan itu sangat subjektif, tergantung pelakunya siapa.

Yang menjadi persoalan adalah, kata kampungan yang dilontarkan oleh perempuan muda tadi. Secara pribadi saya tidak tersinggung karena tetap merasa nyaman dengan penampilan yang menurutku nyaman. Tetapi, saya prihatin jika membayangkan bahwa generasi Indonesia mulai dirasuki oleh pandangan yang menurutku bukan ciri khas bangsa kita. Boleh saja memilih tampilan yang menurut kita nyaman, asal jangan penampilan itu dianggap sebagai sebuah “tuntutan” (penekanan penampilan di sini adalah gaya berpakaian maupun pernak-perniknya, mulai ujung rambut hingga ujung kaki).

Jika anak Indonesia lebih mementingkan penampilan, maka pantas jika bangsa lain mengatakan “selamat tinggal Indonesia”. Kata tersebut memang sangat ambigu, tetapi kita harus menempatkannya pada hal yang positif, terutama dalam karya, yang dapat membangun Indonesia. Meskipun penampilan dapat dilihat sebagai sebuah karya, tapi nampaknya dampak negatifnya lebih dominant dibanding positifnya. Bukan hanya peristiwa yang saya alami di mall tersebut, di lembaga pendidikan pun dapat kita saksikan. Banyak siswa maupun mahasiswa yang lebih mementingkan penampilan daripada isi kepala. Penampakannya cantik/tampan tetapi belum tentu otaknya berisi.

Tentu hal tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Berbagai proses telah membentuknya. Dari mana pengaruh itu datang? Kita dapat menemukan jawabannya jika tetap menyadari apa yang kita lakukan sebelumnya dan sekarang. Lakukan perubahan jika telah menyadarinya.