Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 10:06 am on 25 December 2016 Permalink |
    Tags: info   

    Mohon maaf ya atas ketidak-nyamanan dalam beberapa hari terakhir, idepenulis.com sementara dalam perpindahan server baru, dan perbaikan beberapa aplikasi yang mengalami error

     
  • Dwi Surti Junida 7:40 pm on 24 December 2016 Permalink
    Tags: hubungan orang tua siswa dengan sekolah, orang tua siswa, sekolah   

    Hubungan Orang Tua Siswa dengan Sekolah 

    Orang Tua Siswa TK Qalbin Salim Makassar

    Tulisan ini republish dari blog saya pada halaman:
    http://dwisurtijunida.blogspot.co.id/2016/11/kesalahan-orang-tua-terhadap-sekolah.html
    Judul Asli: Kesalahan Orangtua Terhadap Sekolah

    Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah sistem asuh orangtua dalam mendidik, membina dan merawat anak-anak mereka. Tentu, tanpa pembinaan yang baik, maka anak juga tumbuh dengan potensi yang tidak baik. Kehadiran orangtua sangatlah penting dalam menunjak pembentukan karakter anak-anak mereka. Pendidikan anak dalam keluarga merupakan proses sosialisasi yang paling mendasar berangkat dari pemahaman bahwa ada upaya mempersiapkan seorang anak untuk menjadi bagian dari masyarakat yang tentunya bersikap baik.

    Sehingga peran keluarga sangat besar dalam membentuk kepribadian sang anak. Segala sesuatu yang berkaitan dalam proses pertumbuhan anak, baik dimulai dari lahir sampai dewasa hinga membentuk karakter sang anak. Ada banyak cara dari setiap orangtua dalam membina anaknya. Mulai dari merawatnya sendiri sampai menggunakan jasa penitipan anak. Seperti rumah bermain (biasa disebut dengan play grup), tempat pendidikan anak usia dini (PAUD) dan lembaga yang berusaha membantu orangtua yang disibukkan dengan kerjaan dengan menitipkan anak-anak mereka ditempat penitipan anak selama ia berkerja seharian atau sering disebut tempat penitipan anak (TPA), menjadi bagian bisnis yang menggiurkan melihat banyaknya para orangtua yang tidak punya cukup banyak waktu dalam mendidik anaknya. Kepercayaan yang tinggi terhadap kehadiran lemba-lembaga formal tersebut membuat para orangtua menganggap sekolah adalah hal terpenting dalam perkembangan anak mereka. Wajar jika banyak ditemukan orangtua yang selalu complaint atau protes dengan berbagai pelayanan sekolah. Misalnya anaknya tidak bisa membaca, menulis atau bahkan tidak dapat mengalami perubahan yang berarti. Padahal mereka lupa kalau sekolah adalah wadah yang berfungsi sebagai pendamping pendidikan anak-anak setelah orangtua. Orangtualah yang memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk kepribadian anak-anak mereka.

    Sekolah sebagai arena mewujudkan keteraturan sosial dimana lembaga pendidikan formal ini merupakan sebuah kesatuan sistem yang di dalamnya terdapat bagian-bagian yang dibedakan dengan memiliki fungsi dan peran masing-masing. Sebagai suatu sistem, fungsi dari masing-masing bagian mewujudkan tatanan menjadi seimbang. Bagian tersebut saling ketergantungan antara satu dengan yang lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak berfungsi akan merusak keseimbangan sistem. Di sekolah ada guru, ada siswa, dan ada interaksi yang melibatkan antar keduanya. Apabila ada salah satu yang tidak berfungsi secara maskimal, maka kualitas pembelajaran tidak akan maksimal.

    Demikian halnya dengan lingkunga bermain di rumah. Kehadiran orangtua sebagai pembina dan pengurus yang pertama dan utama juga menjadikan sumber belajar yang amat penting bagi anak-anak bangsa. Masing-masing komponen tersebut mempunyai peran dan ikut mempengaruhi prestasi anak di sekolah. Sekolah mempunyai peran yang signifikan dalam pembentukan masyarakat menjadi cerdas, berbudaya, memelihara keteraturan, serta mewujudkan pembangunan. Tanpa sekolah, masyarakat akan mengalami kesulitan dalam berkembang, tidak akan tumbuh menjadi dewasa dan cerdas, dan tidak akan bermanfaat serta tidak akan ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Ditunjang dengan kehadiran orangtua yang selalu memantau anak-anak mereka di rumah dan sekolah dengan menjalin komunikasi yang baik dengan para guru untuk mengetahui perkembangan anaknya. Jika di rumah, orangtua memiliki andil dalam mengatur jadwal bermainnya, mengatur makanannya terutama belajarnya. Tidak menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab kepada pihak sekolah dimana anak-anak mereka dimasukkan. Dengan demikian, semoga tulisan saya ini dapat bermanfaat untuk kalian semua. Terima kasih karena sudah membacanya. Kalian dapat mengakses berbagai informasi tentang pendidikan anak di anak.ependidikan.com dapat dilihat disini. Atau kalian dapat memesan buku saya yang akan terbit berjudul “MEMBEDAH PAUD DENGAN PISAU BUDAYA” melalui telephone saya di nomor 0852-5545-9865 atau via email saya di dwisurtijunida@gmail.com. Saya tunggu pesannya. Terima kasih, semoga bermanfaat. Wassalam.

    Sumber Foto : dokumen pribadi foto kebersamaan para guru dan orangtua siswa di sekolah saat melakukan penelitian di TK Islam Qalbin Salim Kota Makassar

     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 11:22 am on 21 November 2016 Permalink  

    Kekerasan Terhadap Siswa 

    Menyambut Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November 2016 kelak, saya tertarik menulis tentang perlakuan seorang guru kepada siswanya. Mirip sekali jika kita melihat banyaknya kasus pelecehan seksual, kekerasan psikis dan fisik yang diterima oleh anak-anak kita di sekolah. Dimana peran para pendidik kita sebagai orang yang diamanahkan untuk membina dan membimbing mereka di sekolah, setelah di rumah. Kali ini, saya akan menjelaskan perihal hal tersebut. Yukk kita bahas bersama.
    Kekerasan terhadap siswa menurut saya disebabkan masih karena banyaknya pendidik yang belum memahami hakekat mendidik. Yang sangat memprihatinkan saya rasa adalah kepribadian pendidik belum mencerminkan seorang pendidik. Ini penting, mengingat karakter guru berpengaruh terhadap masa depan anak didik. Kata-kata yang diucapkan oleh guru ibarat anak panah yang dilepaskan dari busur dan menancap di hati anak didik. Misalnya kata-kata yang tidak simpatik dari guru menghancurkan semangat belajar para murid. Sebaliknya, kata-kata yang memberikan dorongan semangat akan sangat berharga dalam menumbuhkan motivasi belajar.
    Gurulah orangtua bagi anak di sekolah, yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan dan kepribadian anak. Seorang guru harus bisa tenang dan tidak menunjukkan emosi yang menyala,tidak mempunyai prasangka yang buruk kepada peserta didiknya. Mereka juga dapat menyembunyikan perasaannya dari peserta didik dan sebaiknya memandang semua peserta didik sama. Sudah sepatutnya seorang guru mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, bebas, motivator, dan semangat. Selain itu, mereka juga harus konsisten, tidak berubah-ubah pendirian dan jarang melakukan kesalahan. Mereka juga harus pandai, bijaksana dalam memperlakukan siswa dan mampu menjawab pertanyaan siswa serta sanggup memberikan bantuan secara maksimal kepada peserta didik. Jika hal tersebut dapat terlaksana, saya rasa kekerasan terhadap anak di sekolah tidak akan terjadi.

    Kekerasan memang adalah hal yang seharusnya tidak terjadi dimanapun dan kapapun itu. Apalagi kekerasan ini menyangkut kekerasan yang dapat menentukan karakter anak didik. Ada hal menarik saya rasa jika kita melihat anak-anak di Cina, melalui tulisan dan gambar mereka mengungkapkan bahwa mereka ingin para guru menghormati harga diri siswa, sensitif terhadap kondisi emosi mereka, memberi kebebasan mengekspresikan diri dan bersikap adil pada semua anak apapun latar belakang, gender, kemampuan, dan ciri-ciri individual lainnya. Sebagian besar anak memimpikan guru-guru yang penyayang dan perhatian. Hal ini penting, mengingat di usia anak-anak secara biologi mereka cenderung berkata jujur. Kepolosan mereka berasal dari perkataan yang sebenarnya, tidak dibuat-buat. Kekerasan anak adalah perlakuan orang dewasa atau anak yang lebih tua dengan menggunakan kekuasaan/otoritasnya terhadap anak yang tak berdaya yang seharusnya menjadi tanggung jawab dari orangtua atau pengasuh yang berakibat penderitaan, kesengsaraan, cacat/kematian. Kekerasan pada anak lebih bersifat sebagai bentuk penganiayaan fisik dengan terdapatnya tanda atau luka pada tubuh sang anak.

    Kekerasan terhadap anak di sekolah sebagai bentuk penganiayaan baik fiisk maupun psikis. Penganiayaan fisik adalah tindakan kasar yang mencelakakan anak dan segala bentuk kekerasan fisik pada anak yang lainnya. Sedangkan penganiayaan psikis adalah semua tindakan merendahkan/meremehkan anak. Kekerasan terhadap siswa sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak-hak anak dan dibanyak negara dikategorikan sebagai kejahatan sehingga untuk mencegahnya dapat dilakukan oleh para petugas hukum. Hal ini akan mengancam kesejahteraan dan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikologi sosial maupun mental.

    Kekerasan terhadap siswa dapat berupa kekerasan fisik mudah diketahui karena akibatnya bisa terlihat pada tubuh korban Kasus physical abuse: persentase tertinggi usia 0-5 tahun (32.3%) dan terendah usia 13-15 tahun (16.2%). Kekerasan biasanya meliputi memukul, mencekik, menempelkan benda panas ke tubuh korban dan lain-lainnya. Dampak dari kekerasan seperti ini selain menimbuBlkan luka dan trauma pada korban, juga seringkali membuat korban meninggal. Bentuk kekerasan secara eerbal, bentuk kekerasan seperti ini sering diabaikan dan dianggap biasa atau bahkan dianggap sebagai candaan. Kekerasaan seperti ini biasanya meliputi hinaan, makian, maupun celaan. Dampak dari kekerasaan seperti ini yaitu anak jadi belajar untuk mengucapkan kata-kata kasar, tidak menghormati orang lain dan juga bisa menyebabkan anak menjadi rendah diri. Selain itu mereka juga mendapatkan kekerasan secara mental dan Pelecehan Seksual.
    Sangat disayangkan sekali, miris rasanya saya melihat berbagai bentuk kekerasan anak baik di sekolah maupun di lingkup keluarganya di rumah. Saya menghimbau kepada para orangtua harus waspada terhadap lingkungan bermain anak-anak mereka. Tidak hanya itu mereka juga harus selalu memantau perkembangan anak mereka di lingkungan sekolah, mengingat banyaknya kekerasan terhadap siswa. Apalagi dalam memasuki momentum hari guru nasional, kita perlu banyak belajar tentang pengalaman-pengalaman sebelumnya. Tidak ada lagi kekerasan terhadap anak, tidak ada lagi kekerasan terhadap siswa agar masa depan mereka dapat berjalan dengan baik menjadi generasi-generasi yang membanggakan bangsa.

    Sebenarnya tulisan ini sudah diulas sebelumnya disini dengan judul “Kekerasan Terhadap Anak”Kalian dapat mengakses berbagai persoalan pendidikan anak-anak pada “anak.ependidikan.com” yang dapat kalian akses disini.


    Demikianlah tulisan saya, terima kasih sudah membacanya
    Oleh: Dwi Surti Junida
    Kategori: Pendidikan

     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 6:05 pm on 25 March 2016 Permalink  

    Link Download RPP 


    Konten hanya terlihat oleh anggota yang telah masuk.


     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 2:51 am on 12 March 2016 Permalink  

    Budayakan Menulis untuk Membangun Peradaban 

    Mari kita perhatikan negara-negara yang maju atau negara-negara yang berhasil memberi pengaruh pada negara lain secara budaya. Pasti mereka memiliki budaya menulis yang sangat kuat. Contoh yang mungkin kita tidak sadari misalnya Arab. Mereka memiliki budaya menulis yang sangat baik, bahkan sangat banyak kitab-kitab yang kita baca atau buku yang ditulis oleh orang Indonesia merujuk pada buku atau kitab mereka. Katakanlah hal yang paling kental adalah kitab agama. Bukankah itu adalah sebuah tulisan? 
    Saya tidak ingin berdebat soal kitab agama. Saya hanya ingin berbagi pemikiran bahwa tidak mungkin penyiar-penyiar agama yang masuk di Indonesia berhasil mengajarkan agama jika mereka tidak memiliki tulisan yang bisa dipelajari. Lagi pula, tulisan pada zaman itu adalah satu-satunya media untuk mentransfer pengetahuan.
    Jepang misalnya. Mereka juga memiliki sangat banyak dokumen bersejarah yang dapat dipelajari secara terbuka oleh generasi-generasi muda mereka. Lihatlah, bagaimana mereka sangat kuat mempertahankan “Budaya Jepang” mereka. Hebatnya lagi, justru kita yang sangat bangga dengan mereka. Malah kita cenderung mengikuti mereka.
    Saya sama sekali tidak melarang untuk mengikuti budaya apa pun. Tapi apakah kita tidak sadar jika ternyata sangat banyak budaya kita yang sangat bagus dan patut dibanggakan.
    Mengapa kita sampai tidak menyadari budaya kita sendiri? Sangat banyak hal yang mengakibatkan hal itu. Salah satu yang saya pikirkan adalah karena kita tidak punya budaya menulis yang kuat. Proses pewarisan budaya kita sebagian besar melalui budaya lisan atau bercerita, baik itu bercerita orang ke orang atau orang ke kelompok misalnya teater dan lain-lain. 
    Tentu bercerita saja tidak cukup karena salah satu kelemahan manusia yang paling besar adalah “pelupa”. Jika hal-hal penting yang diceritakan itu dilupakan karena kejadian tertentu, apa yang akan terjadi? Maka hilanglah pengetahuan itu bersama ingatannya. Tapi jika itu ditulis dalam bentuk apa pun, yakinlah, cepat atau lambat pasti akan ada generasi kita yang membacanya. Apalagi jika tulisan itu disebar luaskan melalui media massa atau yang media online seperti idePenulis.com ini.
    Kesimpulan saya, apa pun itu, jika ditulis pasti akan bermanfaat, paling tidak pada masa mendatang kita akan mengetahui bagaimana pemikiran kita pada kejadian yang lampau atau yang telah lalu. Mari budayakan menulis, idePenulis.com terbuka untuk anda.
     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 8:59 pm on 11 March 2016 Permalink  

    Masalah Pendidikan di Indonesia 


    Oleh: Dwi Surti Junida
    Weblog: http://anak.ependidikan.com

    Tulisan ini pernah saya publish di weblog saya di sini dengan judul Beberapa Permasalahan Pendidikan di Indonesia.

    Kualitas pendidikan di Indonesia tergolong masih rendah, peningkatannya juga masih tergolong sangat lemah jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Berdasarkan Survey United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kualitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang. Itulah kenapa permasalahan pendidikan di Indonesia tergolong sebagai masalah serius yang harus dipecahkan.

    Permasalahan pendidikan di Indonesia karena karena kualitas para pendidik kita masih tergolong lemah. Para pendidik di Indonesia kurang memahami mekanisme ajar-mengajar yang sesungguhnya. Metode yang mereka terapkan cenderung tidak memahamkan para didiknya, melainkan lebih memaksakan memikirkan sesuatu dengan cara dipaksa. Seharusnya para anak didik dipahamkan bagaimana cara mereka berfikir atau proses berfikir bukan dipaksakan untuk memikirkan sesuatu. Apalagi sebenarnya metode mengajar yang baik jika mampu membiarkan anak didik berimajinasi dengan yang ada disekitarnya. Mengasah otak mereka dengan terbiasa memikirkan hal-hal yang membantunya terus berfikir menemukan solusi bukan mengarahkan gaya berfikir anak.

    Selain itu, lemahnya juga sistem kurikulum kita yang dari tahun ke tahun tidak pernah berubah sejak dahulu kala. Standarisasi kurikulum yang berlaku tidak melihat kebutuhan anak yang sesungguhnya. Kurikulum yang diberlakukan hanya semata berasal dari rumusan para penguasa pendidikan kita, jauh dari yang dibutuhkan oleh anak didik. Sehingga banyak lulusan anak didik tidak berkualitas, tidak mampu menciptakan inovasi-inovasi yang produktif bagi bangsa ini.

    Terdapat tiga permasalahan pendidikan di Indonesia jika kita dapat melihatnya dengan jelih. Apa sajakah itu? Pertama adalah kurang seimbangnya antara proses berfikir (kognitif) dan berprilaku dalam metode mengajar (afektif). Unsur integrasi dalam dunia pendidikan di Indonesia cenderung semakin hilang, yang terjadi justru besifat disintegrasi. Padahal belajar tidak selalu terus berfikir karena disaat seseorang belajar mereka juga melakukan pengamatan, membandingkan , menyukai, meragukan dan sebagainya. Hal ini sering dihubungkan dengan istilah pendidikan seringkali dipraktekkan sebagai sederatan instruksi pendidik kepada anak yang dididik. Apalagi dengan istilah yang sering digembar-gemborkan sebagai “pendidikan yang menciptakan manusia siap pakai”. Dan “siap pakai” di sini berarti menghasilkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industri dan teknologi. Sehingga permasalahan pendidikan di Indonesia nampak memandang manusia sama seperti bahan-bahan pendukung indutri. Itu berarti, lembaga pendidikan diharapkan mampu menjadi lembaga produksi sebagai penghasil bahan atau komponen dengan kualitas tertentu yang dituntut pasar. Kenyataan ini nampaknya justru disambut dengan antusias oleh banyak lembaga pendidikan.

    Kedua yang menjadi permasalahan pendidikan di Indonesia adalah sistem pendidikan yang bersifat top-down (dari atas ke bawah. Sistem pendidikan ini membantasi para peserta didik (murid) karena mereka dianggap sebagai manusia-manusia yang tidak tahu apa-apa. Hanya seorang pendidik/guru yang menguasai banyak hal sehingga tugas guru sebagai pemberi mengarahkan kepada murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Katakanlah seorang guru tugasnya sebagai pengisi dan seorang murid sebagai yang diisi. ) Kalau menggunakan istilah Paulo Freire (seorang tokoh pendidik dari Amerika Latin) adalah pendidikan gaya bank, maka dalam sistem pendidikan di Indonesia murid dipandang sebagai safe deposit box, dimana pengetahuan dari guru ditransfer kedalam otak murid dan bila sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil saja. Murid hanya menampung apa saja yang disampaikan guru. Dengan kata lain hubungan pendidik dan murid sama hal dengan pendidik/guru sebagai subyek seangkan murid sebagai obyek. Model pendidikan ini tidak adil bagi murid karena sangat menindas mereka. Freire mengatakan bahwa dalam pendidikan gaya bank pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak mempunyai pengetahuan apa-apa.
    Beberapa Permasalahan Pendidikan Indonesia

    Permasalahan pendidikan di Indonesia yang ketiga adalah manusia yang dihasilkan hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Manusia sebagai objek (yang adalah wujud dari dehumanisasi) merupakan fenomena yang justru bertolak belakang dengan visi humanisasi, menyebabkan manusia tercerabut dari akar-akar budayanya (seperti di dunia Timur/Asia). Bukankah kita telah sama-sama melihat bagaimana kaum muda zaman ini begitu gandrung dengan hal-hal yang berbau Barat? Oleh karena itu strategi yang dilakukan untuk keluar dari permasalahan pendidikan di Indonesia, pendidikan di Indonesia harus terlebur dalam “strategi kebudayaan Asia”, sebab Asia kini telah berkembang sebagai salah satu kawasan penentu yang strategis dalam bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan politik internasional. Bukan bermaksud anti-Barat kalau hal ini penulis kemukakan, melainkan justru hendak mengajak kita semua untuk melihat kenyataan ini sebagai sebuah tantangan bagi dunia pendidikan kita.

     
    • idePenulis.com 2:14 am on 12 Maret 2016 Permalink

      Memang selama ini dirasakan, bahkan terkadang kita melakukannya, mencoba mengajarkan sesuatu yang menurut kita baik tetapi dengan metode yang menurut kita juga baik, bukan melihat kondisi mereka yang akan diajar. Masalah pendidikan selalu dilihat dari sisi perlengkapanya atau infrastruktur saja, atau kurikulum saja, tetapi bagaimana sikap kita melihat anak yang akan didik.

      Terima kasih atas tulisannya 🙂

  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 4:23 am on 10 March 2016 Permalink  

    Akhirnya Saya Kembali 

    Setelah menjalani berbagai kesibukan, saya tiba-tiba sangat rindu dengan teman-teman Komunitas Penulis Muda di blog ini. Saya sempat bingung karena lupa dengan akun login saya, padahal saya adalah orang yang bertanggung jawab atas terbentuknya blog komunitas ini (sekali lagi saya sangat memohon maaf atas ini).

    Setelah berusaha melakukan berbagai cara, akhirnya akun saya pulih dan akhirnya bisa kembali menulis di sini. Saya berharap kepada diri saya sendiri, semoga saya tidak “menghilang” lagi 🙂

    Tuntutan untuk bertahan hidup dan terus maju… itu alasan saya “meninggalkan” komunitas ini. Rupanya saya merasa sangat bersalah setelah itu. 6 tahun sejak didirikannya, tentu itu adalah masa yang seharusnya membuat komunitas ini menjadi lebih produktif. Seandainya saya berfikir waktu itu bahwa Komunitas ini adalah bagian dari hidup saya, tentu kasus menghilangnya “Sang Admin” tidak akan terjadi. Hahaha, lucu juga ya…
    Sekali lagi saya sangat memohon maaf atas kekeliruan ini.
    Melalui kesempatan ini pula, saya kembali mengajak teman-teman yang bergabung untuk bergabung. Silahkan klik di sini untuk mendaftar.
    Oke, tetap semangat! Sampai di sini dulu ya, silahkan komen jika ada yang perlu dikomentari 🙂
     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 1:34 am on 10 March 2016 Permalink  

    Cerita Subuh 

    Bismillah Ar Rahman Ar Rahiim
    Assallamu’alaikum wr.wb
    Ketika diminta untuk mengumpulkan sebuah cerita subuh dan bagaimana awal mula bertekad menjadi Pejuang Subuh, hal yang pertama kali terbersit dalam pikiran adalah rasa syukur dalam diri bahwa Allah telah mengetuk hati dan pikiran serta mempertemukan saya dengan para saudara seiman yang berjuang bersama untuk menegakkan Shalat Subuh dan memakmurkan masjid.
    Sebuah akun yang awalnya sempat membuat saya heran karena namanya yang cukup ‘menantang’ para followers yaitu @PejuangSubuh. Arti ‘pejuang’ disini bagi saya merupakan sebuah hal sepele, tak sampai berpikir pada awalnya bahwa memang memerlukan pengorbanan yang besar dalam diri hingga akhirnya bisa benar-benar disebut ‘Pejuang Subuh’ dan naik menjadi ‘Mujahid/ah Subuh’.

    Sejatinya, kita semua memang harus menjadi ‘Pejuang dan Mujahidah’ Subuh. Permasalahannya hanya terletak pada diri yang masih mau ‘dipermainkan’ syaitan untuk bangun lewat dari Adzan Subuh dan ‘merasa’ tidak berdosa dan melakukan hal wajar (naudzubillah). Berdasarkan pengalaman pribadi menjadi seorang ‘Pejuang Subuh’ lalu bertekad menjadi ‘Mujahidah Subuh’ merupakan perjuangan yang membuat saya sadar bahwa perjuangan untuk menggapai Ridha dan mendekat secara utuh kepada-Nya adalah perjuangan yang membutuhkan pengorbanan.
    Keyakinan yang Allah berikan untuk makin memperkuat niat istiqamah menjadi ‘Pejuang Subuh’ terjadi saat Saya berinisiatif mengikuti acara #SilaturahimSubuh yang diadakan oleh @PejuangSubuh pada 24-25 Desember 2012 lalu. Acara mabit selama dua hari yang berhasil membuat saya semakin ‘tertampar’ dan bertekad untuk berjuang bersama-sama para pejuang yang lain untuk menegakkan tiang agama (Shalat tepat waktu) terutama dalam bahasan kali ini adalah Shalat Subuh demi mewujudkan kebangkitan Islam.

    “Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafiq adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimani manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka”
    (HR.Al-Bukhari no.141 dan Muslim no.651)

    Setiap pemaparan demi pemaparan yang dijelaskan oleh masing-masing Ustadz membuat Saya tidak kuasa menahan tangis dalam diri. Menangis karena telah banyak melewatkan waktu-waktu emas ketika tiba waktu subuh dan masih dalam keadaan terlelap. Menangis karena telah banyak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk ‘berinteraksi’ dengan Allah saat sepertiga malam ketika banyak orang masih sibuk dengan mimpi padahal Allah datang untuk menyambut hamba-hambaNya yang beribadah (Tahajud).
    Tidak kuasa menahan tangis dalam diri karena penyesalan bahwa Saya telah banyak dibuat Syaitan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan emas untuk menghidupkan sepertiga malam dan memakmurkan waktu subuh serta shalat tepat waktu. Dan saya bertekad, tidak akan membiarkan Syaitan mengambil waktu-waktu emas saya didunia. Mampukan kami ya Rabb..
    Tekad untuk mengikuti program @PejuangSubuh untuk istiqamah menegakkan salat subuh tepat waktu selama 40 Hari bagi Ikhwan (laki-laki) dan 21 Hari bagi Akhwat (perempuan) tanpa putus. Tak bisa dipungkiri peran keluarga untuk membangunkan lebih ampuh daripada alarm. Mama yang memang sudah menjadi ‘pejuang subuh’ tepat waktu dan istiqamah Tahajud setiap malam selalu membangunkan saya di awal-awal perjuangan untuk menjadi seorang ‘pejuang subuh’.
    Lewat seminggu dan benar-benar berniat serta selalu berdoa agar Allah memampukan untuk dapat bangun di sepertiga malam dan menunggu subuh, seperti sudah ada alarm otomatis dalam diri untuk tiba-tiba terbangun di sepertiga malam dan tidak ada kantuk dalam diri saat menunggu tibanya waktu subuh.
    Menjadi pejuang subuh tidak hanya berefek pada kondisi waktu jam tidur yang menyehatkan karena bangun di awal subuh, lebih dari itu keinginan dalam diri menjadi semakin kuat untuk semakin mendalami ilmu agama serta dalam hal berpenampilan. Jika dulu saya masih sering memakai Jeans bahkan hampir tidak pernah memakai rok apalagi gamis, kali ini Alhamdulillah saya sudah meninggalkan Jeans dan beralih ke Rok serta gamis. Jika dulu saya masih mengenakan kerudung paris dan tipis, sekarang saya sangat memperhatikan kerudung agar jangan sampai menerawang dan memperlihatkan rambut. Jika dulu saya masih mengikuti les vokal dan musik, sekarang saya mulai meninggalkan musik dan bertekad menjadi seorang Hafidzah. Aamiin ya Rabb.. Mampukan kami, Rabb..
    Selain perubahan dalam diri, Allah juga mempertemukan saya dengan para pejuang subuh lain yang bersama-sama bertekad menegakkan tiang agama dan memakmurkan masjid. Alhamdulillah, Sujud Syukur hanya kepadaMu, Rabb..
    Saat ketukan hati, hidayah dan kesempatan untuk menjadi lebih baik datang
     
  • Foto Profil dari Marjohan Usman

    Marjohan Usman 12:41 pm on 2 July 2015 Permalink  

    Ternyata Generasi Emas Itu Suka Meremehkan Tanah Air, Memuja Olah Raga Eropa dan Musik Korea Sangat Berlebihan 

    Ternyata Generasi Emas Itu Suka Meremehkan Tanah Air, 
    Memuja Olah Raga Eropa dan Musik Korea Sangat Berlebihan
    Oleh: Marjohan, M.Pd
    Guru SMA Negeri 3 Batusangkar
    Marjohan, M.Pd- Guru SMA 3 Batusangkar
    Peraih Predikat I Guru Berprestasi Nasional. 
    Saya merasa sangat beruntung bisa berjumpa langsung dengan Prof. Dr. Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam kepemimpinan Presiden SBY. Kami para guru-guru berprestasi Indonesia memperoleh wejangan tentang rencana Pemerintah, melalui Kementrian P dan K untuk melahirkan generasi emas sebagai kado bagi hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 2045 kelak.
    Menteri mengatakan bahwa saat itu bangsa kita akan menjadi bangsa yang sangat maju karena keberadaan Generasi Emas tersebut. Dikatakan bahwa antara tahun 2012 hingga 2045, kita menanam generasi emas tersebut. Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah usia penduduk produktif paling tinggi antara masa anak-anak dan orang tua. Generasi emas ini akan siap mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat dan akan menduduki posisi berkualitas setara dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia.
    “Bagaimana cara melahirkan generasi emas ini ?”
    Pemerintah telah menyiapkan grand-design pendidikan. Pendidikan anak usia dini digencarkan dengan gerakan PAUDisasi. Kemudian pembangunan dan rehabilitas sekolah dan ruang kelas baru secara besar-besaran. Aka nada intervensi khusus untuk meningkatkan Angka Partisipasi Khusus (APK) siswa SMA dan minimal para pekerja kita adalah lulus SMA.
    Kementrian P dan K akan mencanangkan gerakan PAUDisasi- pelayanan pemberian pendidikan buat anak-anak usia dini, usia seputar 4 dan 5 tahun. Buat mereka- anak TK dan PAUD, diberikan pendidikan yang ramah anak. Di dalamnya terdapat penghargaan terhadap hak-hak anak, yaitu hak untuk memperoleh pendidikan berkualitas, hak buat dihargai dan untuk memperoleh lingkungan bebas dari kekerasan, eksplotasi dan diskriminasi.
    Wah grand design yang sungguh hebat yang sangat tulus dari pemerintah lewat Kementrian P dan K. Namun apakah ini bisa benar- benar terwujud ? Memang andai kata negara ini luasnya sama dengan negara Singapura- negara paling mungil di Asia Tenggara dan negara yang rajin reklamasi untuk memperluas negaranya, memiliki luas sekitar 637 km2, ya sedikit di bawah Jakarta- tentu saja kita mungkin bisa terwujud dalam hitungan semester saja.
    Atau andai tanah air ini luasnya sama dengan Malaysia mungkin bisa terwujud dalam hitungan tahun. Tetapi luas tanah air ini sama dengan benua Eropa atau negara benua Australia dan penduduknya beriringan banyak dengan penduduk Amerika Serikat dan Russia. Sementara itu persoalan way of life dan kultur manusia Indonesia ini sangat multi kompleks.
    Jadi harapan untuk memperoleh generasi emas seperti yang dicanangkan oleh Prof. Dr Muhammad Nuh sungguh mulia, namun dalam realita tidak semudah membalik telapak tangan. Andai para petinggi negara ini sering-sering blusukan ke bawah, tidak hanya blusukan sebatas di kota Jakarta saja akan terpantau bagaimana cara untuk merealisasikan mimpi tersebut.
    Apa bisa mewujudkan generasi emas dalam kurun waktu 30 tahun terjadi, kalau orang tua dan masyarakat Indonesia pada umumnya terbiasa berlepas tangan dalam mendidik anak ?. Kalau sudah ada generasi muda yang terlihat cerdas namun mereka mengadopsi gaya hidup ingin senang- mereka bermental hedonis dan ingin hidup jalan pintas.
    Kemudian cobalah para Petinggi Negara pergi blusukan ke daerah yang jauh akan dijumpai sekolah PAUD dan TK yang sangat tidak layak. Belajar di sebuah ruangan reot, kursi dan meja tidak layak pakai dan diajar oleh guru PAUD dengan wajah lesu karena honor mereka susah turun, kalaupun turun hanya bisa untuk menghidupi diri selama 3 hari. Sehingga suasana belajar PAUD dan TK tersebut sangat sepi dan jauh dari keceriaanya dunia anak-anak.
    Bapak Muhammad Nuh mengatakan bahwa untuk mewujudkan generasi emas akan dilakukan pembangunan dan rehabilitas sekolah dan ruangan kelas baru secara besar-besaran. Sekarang pun ini sudah dilakukan, namun gedung-gedung pendidikan yang dibangun sangat sarat dengan mark-up- penggelembungan harga dan mentalitas korupsi.
    Coba perhatian pada pembangunan ruangan sekolah yang baru. Setelah beberapa waktu kemudian, pintunya akan lepas, penggantung jendela akan copot dan di sana-sini ada- ada saja yang terkelupas. Sungguh untuk menumbuhkan generasi emas diperlukan masyarakat yang juga berhati dan berfikiran emas- bukan berhati yang gemar korupsi dan mencari komisi.
    Untuk mendapatkan generasi emas juga dibutuhkan orang tua yang bertangan emas dan kenal dengan ilmu parenting agar tahu bagaimana menjadi orang tua yang punya peran yang benar. Sehingga mereka bisa membimbing putra putri mereka. Namun yang kerap terjadi adalah ‘Fail Parenting- atau orang tua yang gagal”.
    Ada beberapa kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua yang berakibat terjadinya fail parenting. Bentuk fail parenting ini adalah: menghukum tanpa mengajarkan contoh yang seharusnya, orang tidak mengontrol ucapan yang dilontarkan pada anak, orang terbiasa banyak mengkritik dan bukan mendukung, juga sering orang tua tidak melibatkan anak dalam aktifitas keluarga di rumah.
    Deskripsi atas beberapa kesalahan dalam mendidik anak atau fail perenting ini (http://lifestyle.okezone.com/read) adalah sebagai berikut:
    1) Menghukum tanpa mengajarkan
    Banyak orangtua yang memberi kebebasan kepada anak dengan syarat harus bertanggungjawab. Misal, orangtua memberi anak kamar pribadi agar anak memiliki privasi dan bebas melakukan yang mereka inginkan. Tapi, orangtua hanya menuntut anak merapikan kamar tanpa mengajarkan bagaimana cara merapikannya. Dan ketika orangtua mendapati kamar berantakan mereka menghukum dengan cara memarahi anak. Dalam kasus ini, anak tidak akan merasa bahagia dan dicintai walau mendapat fasilitas dari orang tuanya.
    2) Tidak mengontrol ucapan
    Orangtua sering banyak bicara dalam memerintah anak. Akan tetapi, kemampuan anak dalam menerima pesan cukup terbatas. Mereka hanya bisa menerima pesan pendek, selebihnya pesan orangtua justru terabaikan. Orangtua lebih baik menahan ucapan mereka yang hanya terbuang sia-sia.
    3) Banyak mengkritik bukan mendukung
    Percayalah, anak akan lebih merasa bahagia ketika mereka menerima dukungan dari orangtua, bukan mengkritik. Sebab anak belum memahami apa arti kritikan seperti orang dewasa mengartikannya.
    4) Tidak melibatkan anak
    Alih-alih orang tua tidak ingin pekerjaan membereskan rumah mereka menjadi kacau karena keterlibatan anak, maka orangtua melarang anak ikut membantu. Seharusnya gunakan hati nurani mereka sebagai orangtua dan mengalah demi anak. Biarkan anak ikut serta membereskan rumah walaupun pekerjaan menjadi kacau atau memakan waktu lebih lama. Jangan biarkan anak merasa kecewa dan merasa tidak dicintai karena sikap orangtuanya.
    Jauh sebelum Prof Dr Muhammad Nuh mengungkapkan gagasan untuk melahirkan generasi emas, telah ada gagasan kea rah itu. Pemerintah, masyarakat dan stake-holder (pengambil kebijakan) merancang program sekolah unggulan, sekolah model, sekolah percontohan, sekolah perintis. Dan masyarakat menyerbu sekolah berlabel.
    Putra putri mereka memang tekun belajar dalam menuntut ilmu agar menjadi generasi emas. Terkesan mereka semua ingin menjadi intelektual dengan melahap semua pelajaran yang terlibat dalam UN- Ujian Nasional seperti. Skor UN harus tinggi agar bisa menyerbu jurusan favorite ddi Universitas bergengsi agar nanti bisa hidup senang dan kaya raya.
    Impian yang begitu praktis hanya dengan sekedar mengejar skor UN yang tinggi, kapan perlu dikebut dengan metode belajar yang memang hebat di tempat Bimbel eksklusif yang berharga mahal. Beberapa semester setelah itu memang banyak yang mampu kuliah di Perguruan Tinggi favorite dan jurusan basah. Namun coba lihat setelah itu setelah mereka menjasi sarjana, apa memang mereka sukses, mendapat pekerjaan seperti yang mereka impikan dan menjadi kaya raya sementara mereka sendiri miskin dengan life skill dan makna menjalani kehidupan yang semestinya.
    Pendidikan unggul yang buat sementara dengan tujuan menciptakan generasi emas adalah dengan favoritekan nilai akademik, menganggap mata pelajaran UN itu adalah raja dan segala- galanya. Fenomena begitu bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada fenomena industry olah raga di Eropa dan industry music di Korea Selatan.
    Saat anak-anak kita belajar dan hidup hanya sekedar membahas pelajaran UN, dan masa bodoh dengan hal lain, termasuk juga tidak begitu mengidolakan mata pelajaran olah raga, sehingga tubuh mereka jauh dari kesan atletik dan tidak menyukai pelajaran kesenian, tidak tahu bermain music kecuali memuja-muja produk music orang.
    “Ya memang benar bahwa Generasi Emas kita adalah penggemar music bangsa lain, terutama K-Pop, dan juga penggagum berat prestasi sepak bola bangsa Eropa”.
    Di Eropa dan juga di Korea Selatan, mata pelajaran UN bagi kita seperti Matematika fdan mata pelajaran Sains, atau mata pelajaran social yang diunggulkan sudah dianggap biasa-biasa saja. Mereka, terutama pemerintah, selalu mendorong untuk membentuk event Olah Raga dan Seni: lagu dan music, sehingga berkembang dan sangat bergairah. Kini prestasi Olah Raga Eropa, dengan munculnya klub-klub bola bergengsi, dan kebijakan pemerintah Korea Selatan untuk menjadi seni menjadi industry telah menghasilkan industry sepak bola dan music Korea Pop yang sangat menggoncang dunia. Sehingga Generasi Emas juga ikut ikutan mengagumi dan mengidolaka mereka. Malah merasa malu dan gengsi dengan seni dan olah raga yang ada di negara mereka sendiri.
    Liga-liga sepakbola Eropa selalu menjadi daya tarik bagi pesepak bola dari berbagai belahan dunia (https://mercusuarku.wordpress.com), karena menjanjikan kebesaran nama dan tentunya penghasilan yang bisa melimpah ruah. Seorang bintang bahkan dapat mencapai nilai transfer trilyunan rupiah. Ya, sepakbola telah menjadi sebuah industri hiburan – dan menempatkan para pemain bintang menjadi selebritis. Keberhasilan Eropa membuat sepakbola menjadi ladang uang mengubah wajah cabang olah raga ini di seluruh dunia. Bagaimana dengan Indonesia?
    Kita mungkin termasuk orang yang pesimis dengan perkembangan sepakbola nasional kita sendiri. Bayangkan, bangsa sebesar ini, dengan kesebelasan nasional dan team lokal yang pernah sanggup berbicara di pentas Asia (paling tidak), sekarang berada di titik nadir yang memilukan. Pemain asing yang didatangkan memang meramaikan persepakbolaan nasional – sebagai industri hiburan – namun tak kunjung mengangkat potensi pemain lokal menjadi kompetensi. Buktinya, dalam segala event internasional belakangan ini, team Indonesia selalu terpuruk.
    “Karena mental berlatih dan bekerja keras dan juga semangat otodidak para atlit dan generasi muda memang sangat lemah. Pemerintah dan masyarakat mengagung-agungkan nilai akademik putra-putri mereka dan hanya berbasabasi saja untuk melahirkan pelajar untuk menjadi atlit kelas dunia, karena nilai otot/ keterampilan gerak otot masih dianggap sebagai prioritas kelas dua.
    APA YANG HILANG dari pemain sepakbola kita? Kecerdasan, motivasi, nasionalisme, atau apa? Kenapa mereka sepertinya tidak malu selalu kalah? Hingga bisa ditebak – kalau tidak ada berita di televisi berarti kalah, tapi kalau menang pasti heboh. Atlit-atlit kita di masa lalu tidak diguyur dengan nilai gaji yang menggiurkan, tetapi dinding mereka kaya dengan medali, piagam penghargaan, dan foto kejuaraan. Bagaimana dengan atlit Indonesia sekarang?
    Barangkali remaja Korea Selatan, tidak tergila gila lagi dengan mata pelajaran sains- tetapi dengan mata pelajaran kesenian: nyanyi dan usik karena pemerintah mereka mendorong dan memberi reward muncul industri seni: nyanyi dan usik K-Pop yang menggoncang dunia (http://korgpa5.blogspot.com/2013/10/anak-muda-lebih-suka-budaya-korea.html).
    Perkembangan musik K-POP ke dunia In ternasional jelas sangat berpengaruh terhadap segala aspek permusikannya. Mulai dari jenis musiknya, packaging nya, gaya dance membawakannya dan masih banyak lagi. Demam K-Pop sepertinya mampu membuat banyak remaja Indonesia Ingin sekali bisa mengenal artis Korea idolanya lebih dekat lagi. Tak heran jika di Indonesia sendiri kita menemukan para K-Popers gemar meniru apapun yang sudah menjadi trand mark artis- artis Korea. Entah itu soal gaya bernyanyi, dance, hingga fashion yang mereka bawakan. Hingga banyak tabloid remaja yang mengulas soal profil mereka. Uniknya lagi para penggemar K-Pop pun kerap meniru gaya nge dance dan bernyanyi boyband dan girls band asal Korea tersebut. Hal ini jelas menunjukkan bahwa perkembangan musik K-POP ke Indonesia pada khususnya sangat mempengaruhi selera musik bangsa kita sendiri.
    Tentu saja lewat mencintai budaya music Korea yang berlebihan memberi dampak negate pada budaya sendiri. Yaitu seperti:
    1. Mengurangi rasa cinta terhadap musik Indonesia.
    2. Musik asli Indonesia lama kelamaan akan hilang.
    3. Membuat pergeseran budaya lokal.
    4. Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya KPOP yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
    5. Tercampurnya kebudayaan dalam negeri dengan kebudayaan luar, khususnya permusikan itu sendiri.
    Tidak ada yang salah kalau olah raga Eropa, seperti Sepakbola, dan budaya KPOP dari Korea juga ikut membuat generasi emas kita juga tergila gila, hingga hampir lupa atau telah melupakan identitas bangsa mereka sendiri. Kenapa tidak seorang anak Indonesia akan merasa bangga memakai baju kaos murahan asal di punggung mereka ada label “Club Sepak Bola Juventus”, dan merasa sangat malu memakai baju kaos berharga satu juta perak namun ada label “Club Sepakbola Nusantara”.
    Memang banyak penyebabnya dan tidak dapat kita salahkan kalau “Ternyata Generasi Emas Itu Suka Meremehkan Tanah Air, Memuja Olah Raga Eropa dan Musik Korea Sangat Berlebihan. Penyebanya seperti:
    1) Media lokal lebih banyak menayangkan budaya global yang lebih modern dan lebih menarik tanpa memperdulikan budaya lokal.
    2) Tidak ada pembaharuan pada budaya lokal seperti pengemasan dalam pentas, sehingga banyak masyarakat yang bosan dengan budayanya sendiri.
    3) Media hanya memperhitungkan bisnis semata demi mendapatkan untung yang besar tanpa melihat faktor budaya tulent.
    4) Tidak ada kebijakan pemerintah terhadap media baik elektronik maupun non elektronik berkaitan dengan penayangan budaya lokal itu sendiri.
    5) Dan terakhir, kegasalahan parenting kita dan juga kebijakan pendidikan yang mendorong generasi muda hanya menomorsatukan nilai akademik, dan memfasilasi nilai kehidupan social dan life skill sebagai prioritas belakang. Disamping mental “Man Jadda Wa Jadda kita semua memang sangat lemah”.
     
  • Foto Profil dari Soenarto

    Soenarto 12:21 am on 24 January 2014 Permalink  

    Salam buat Teman-Teman Komunitas Penulis Muda 

    Oleh:RebelzZynX
    Kontak Person: rebelzzynx@ymail.com

    Such a long time I haven’t write something again..
    Butuh waktu bagi saya untuk perlahan-lahan kembali ke aktivitas seperti biasanya setelah kepergian alm. Ibunda saya yang tercinta bulan April 2013 yang lalu.

    Semoga apa yang telah diajarkan dan dididik dapat saya manfaatkan dan gunakan dengan baik.
    Terima kasih, Mama.

    ===========

    Bagi para penulis dan pembaca saya akan berusaha untuk menyempatkan waktu menulis , saling berbagi pengalaman dan inspirasi.
    🙂

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel